practical life montessori
BBC,  Kid Activities,  parenting

Practical Life Montessori Membentuk Karakter & Kepribadian Anak

Practical Life Montessori Membentuk Karakter & Kepribadian Anak. Lima tahun kebelakang, banyak sekali pasangan millennial yang memutuskan untuk menikah muda dan langsung memiliki anak. Meskipun sebagian besar dari mereka belum memiliki pengalaman bagaimana merawat dan membersamai si buah hati namun mereka memiliki semangat belajar yang tinggi.

Faktanya, banyak orang tua muda yang kembali ke sekolah untuk mengenyam pendidikan yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa, orang tua muda ini tidak memaksa anak untuk banyak belajar dan duduk di sekolah sedini mungkin. Justru mereka lah, sebagai orang tua yang memutuskan untuk belajar kembali dan memfasilitasi anak-anak mereka di rumah.

Ketika para orang tua ini menyadari bahwa rumah-rumah mereka belum memenuhi konsep Montessori, perlahan mereka membangun suasana yang ramah anak. Ramah dalam artian aman dan nyaman untuk anak-anak tumbuh dan berkembang. Rumah yang siap menopang kecerdasan kognitif anak.

Montessori kian diminati oleh berbagai kalangan orang tua di Indonesia. Lantaran memiliki teori pendidikan yang lengkap serta berorientasi pada tumbuh kembang anak. Montessori melihat adanya keinginan belajar yang muncul secara alami dari dalam diri setiap anak. Montessori juga memberikan kesempatan yang luas untuk anak-anak mengeksplorasi lingkungannya dengan freedom within limits di dalamnya.

Sehingga anak-anak tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal tanpa merasa dirampas waktu bermainnya. Padahal yang terjadi sebenarnya, apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari metode pembelajaran Montessori.

Baca juga: The Absorbent Mind Montessori Usia 0-6 tahun

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joyful Parenting 101 (@joyfulparenting101) on

.

5 Area Montessori

Terdapat lima area Montessori diantaranya area kehidupan praktis (practical life), area indera (sensorial), area budaya (culture), area bahasa (language) dan area matematika (math).

“The human personality forms itself by itself, like the embryo, and the child becomes the creator of the man, the father of the man.”

(Maria Montessori, The Secret of Childhood, p. 32)

Selaras dengan pertanyaan diawal, setiap anak adalah unik. Pada diri mereka terdapat hasrat atau keinginan belajar dan beradaptasi yang tinggi. Tinggal bagaimana orang dewasa disekitarnya memberikan stimulus yang baik. Montessori mengajarkan anak untuk dapat belajar dimana pun bahkan di alam terbuka. Jika tidak ada material yang bisa digunakan, maka berkreasilah untuk membuatnya sendiri sesuai dengan yang dibutuhkan anak.

Di era teknologi digital seperti sekarang ini, kita bisa mendapatkan material yang lebih lengkap dan mudah sebab banyak pihak yang memproduksi material tersebut. Kualitasnya sebanding dengan harganya. Jika mau dan mampu, maka kita bisa melengkapinya dengan membeli material tersebut. Jika tidak mampu, maksimalkan material yang ada karena sejatinya material yang digunakan pada prinsip Montessori yaitu benda riil, benda yang ada di rumah, yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Kegiatan belajar tetap bisa berjalan bahkan tanpa adanya material sekalipun. Dengan tidak ada, kita bisa mengajak anak-anak untuk membuat suatu material bersama dalam bentuk art and craft.

Montessori juga mengajarkan limitasi material sehingga anak tidak terdistraksi karena banyaknya material. Artinya, penggalan paragraf diatas menjadi sebuah penguatan bagi orang tua dan guru untuk menciptakan material yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Begitu juga dengan tempat dimana anak-anak bisa dengan aman dan nyaman bereksplorasi. Montessori mengenalkan prepared environment yang didalamya mencakup apa-apa saja yang dibutuhkan oleh anak-anak. Prepared environment ini harus dibentuk oleh kita, harus diciptakan, tidak serta merta terjadi.

Beruntunglah Montessori mengenalkan area Practical life sebab semua aktivitas didalamnya mampu menjawab kebutuhan anak dalam segala aspek kehidupannya. Pada Essay kali ini, saya akan sharing tentang bagaimana Practical life dapat membentuk karakter dan kepribadian anak.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Joyful Parenting 101 (@joyfulparenting101) on

Pengertian Practical Life

Practical life merupakan aktivitas pertama yang diberikan kepada anak dalam lingkungan Montessori. Merujuk pada susunan kata yang digunakan, practical life dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang memiliki tujuan dan dirancang untuk menyokong kemandirian anak usia dini, melingkupi kegiatan yang sering dilakukan oleh orang dewasa setiap hari.

.

Tujuan dan Manfaat Practical Life

Sesuai dengan prinsip Montessori, dimana semua kegiatan akan terus berprogres sesuai dengan usia dan tumbuh kembang anak. Begitu pula pada kegiatan practical life yang disusun mengikuti tahapan perkembangan anak sejak bayi.

Kegiatan practical life disusun mulai dari yang paling mudah, lanjut pada tahapan yang lebih sulit. Rangkaian kegiatannya pun saling mendukung dan menguatkan.

Tujuan dari kegiatan practical life yaitu untuk membantu anak memperoleh kendali dalam koordinasi gerakannnya serta membangun kemandirian dan beradaptasi dengan masyarakat dan lingkungan. Kegiatan yang terus dilakukan secara berurutan dan berulang (order and repetition) pada practical life juga melatih kecerdasan dan konsentrasi anak.

Ketika tujuannya tercapai maka manfaatnya pun akan terasa. Manfaat dari kegiatan practical life yakni untuk menyiapkan anak pada tahapan perkembangan berikutnya. Misalnya, aktivitas menjepit membantu menguatkan jari-jemari tangan dan baik untuk menyiapkan kemampuan pre-writing anak. Begitu juga pada kegiatan yang lainnya. Sehingga anak sudah siap saat melakukan aktivitas yang lebih kompleks.

Baca juga: Kenali Sensory Movement Pada Bayi

.

Alasan Melakukan Kegiatan Practial Life

Mungkin sebagian besar orang dewasa bertanya, untuk apa mengajak anak berlatih practical life, pada akhirnya mereka akan bisa dengan sendirinya karena adanya kebutuhan untuk bertahan hidup.

“But the child too is a worker and a producer. If he cannot take part in the adult’s work, he has his own, a great, important, difficult work indeed – the work of producing man.”

Maria Montessori, The Secret of Childhood, p. 200

 

Kegiatan practical life nampaknya memang sangat sederhana, hanya memindahkan air dari satu cangkir ke cangkir misalnya. Terlihat sangat membosankan bagi orang dewasa. Padahal ada banyak fungsi tubuh (sensorik dan motorik) anak yang bekerja secara bersamaan ketika anak melakukan kegiatan tersebut.

Meronce misalnya, anak akan menjaga kedua tangannya supaya tidak tremor saat memasukan ujung benang kedalam lubang kancing. Anak juga belajar fokus dan kedua matanya akan terjaga pada kedua benda yang ia pegang. Secara tidak sadar, ia sedang melatih indera peraba pada tangan dan jarinya serta eye-hand coordination. Dapat dibayangkan, hanya dengan satu aktivitas practical life ternyata ada banyak fungsi organ yang bekerja.

Lalu bagaimana jika anak gagal melakukannya? Montessori menjawab, fokuslah pada prosesnya bukan pada hasil. Practice makes perfect, lakukan lagi, undang kembali anak untuk berlatih melakukan hal yang sama hingga anak mampu menjawab rasa penasarannya sendiri.

Namun, bagaimana jika anak menolak untuk melakukan satu aktivitas practical life? Kembali kepada prinsip Montessori yang mengatakan, pembelajaran berpusat pada anak. Sebagai orang dewasa, kita perlu melakukan observasi. Kegiatan mana yang perlu diberikan kepada anak dan mana yang tidak.

What things to make and how to make them had to be found out by experiment and experience. (Maria Montessori, What You Should Know About Your Child, p3)

Begitu juga terhadap penolakan yang biasanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena aktivitas tersebut terlalu mudah untuk anak. Kedua, karena aktivitas tersebut terlalu sulit untuk anak. Dari sini lah, kita bisa mengevaluasi, mengekplorasi dan berinovasi terhadap aktivitas practical life di sekolah atau pun di rumah.

Selanjutnya, practical life juga menjawab kebutuhan gerak anak. Seperti yang kita ketahui, pada usia 2 hingga 4 tahun anak akan menjalani fase sensitif terhadap gerak. Pada fase ini kebutuhan gerak anak meningkat sangat signifikan. Tak heran, jika banyak orang dewasa yang mengeluh “keteteran”. Sesuai dengan namanya “kebutuhan” artinya wajib untuk dipenuhi, begitu pula terhadap kebutuhan gerak.

Dengan aktivitas practical life, anak akan diajak untuk menggali rasa ingin tahunya, memenuhi kebutuhan geraknya serta belajar bersabar dan berhati-hati saat menggunakan benda.

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *