moms,  parenting,  self improvement

Sampai Pada Tahap Dimana Saya Merasa “Ya udah lah”

Dulu, ketika ada teman yang bisa membuat suatu karya dan saya ngga, saya langsung berpikir “kok gue ngga bikin yang kaya gitu juga ya”. Sampai pada akhirnya, saya sering memaksakan diri sendiri untuk membuat sesuatu yang sama (kalau bisa, malah lebih bagus). Dan ini terjadi berulang kali. Sampai tiba saatnya, saya merasa bersalah dan ngga adil dengan diri sendiri, push myself too much.

Sebenarnya ada sisi baiknya juga, bisa meningkatkan skill dan keterampilan saya. Misalnya, membuat tutorial makeup, jadi belajar teknik makeup ya kan. Atau membuat foto estetik, jadi belajar teknik memotret. Tapi kita tau ya kalau trend saat ini tuh berubah sangat cepat, entah itu trend fashion, ilustrasi, makeup dan lainnya. Sehingga membuat saya seperti berlomba-lomba dengan sesuatu yang ngga pasti.

Ternyata setelah saya introspeksi diri, ya ada banyak kekeliruan dalam diri saya. Dan jika dibiarkan, malah ngga bagus pada kondisi emosi bahkan hidup saya.

Pertama, saya terlalu mengikuti trend, ngga punya tujuan pasti. Misalnya, fokus dengan karya yang menjadi kekhasan diri sendiri. Bukan malah ikut-ikutan challenge atau trend tertentu yang entahlah itu dibuat oleh siapa. Ngga akan ada habisnya!

Saya sering mendengar kabar ada orang yang sampe beli baju baru tiap minggu hanya untuk foto OOTD. Ada juga yang rela menyewa barang branded hanya untuk sebuah konten. Ngga jadi masalah jika seimbang dengan apa yang kamu dapatkan, misalnya kemudian jadi seorang selebgram, ya kan? Tapi kalau tujuannya hanya populer saja, buat apa?

Lebih ekstrim lagi, saat ini tren traveling adalah tren untuk memuaskan orang lain melalui konten kita. Asli deh, traveling itu enaknya ya dinikmati, bukan untuk difoto atau dibuatkan video. Ya OK buat kenang-kenangan, tapi apa betul? Tujuannya pasti konten. Apalagi sampai bawa dress code banyak supaya hasil fotonya beragam degan banyak kostum.

Seorang Deddy Corbuzier dan Melaney Ricardo aja mengakui loh, mereka sangat lelah saat membuat konten. Apalagi saat traveling, sangat tidak bisa menikmati hidup karena fokus dengan kualitas gambar.

Ya, kembali lagi, bahwa meskipun saat ini kita mendapatkan uang melalui internet, tapi ngga semuanya tentang internet, ngga semuanya demi popularitas. Kita juga butuh me time, menjaga privasi diri. Ngga semuanya harus dibagikan ke khalayak ramai.

Apalagi untuk para single fighter, yang foto sendiri, videoin sendiri, ngedit sendiri, harus pintar menjaga emosi. Jangan membandingkan diri dengan orang lain yang punya tim super lengkap. Kalau bisa minta tolong pasangan, teman, sodara, kalau ngga ada lakukan sendiri tapi jangan memaksa diri dengan ekspektasi tinggi.

Bukan berarti saya mengajak kamu untuk tidak berkarya. Tapi disini saya hanya berbagi bahwa kita perlu loh melonggarkan aturan buat diri sendiri. Boleh berkarya, misalnya sehari cukup satu. Oh repot, yaudah sehari 5 konten tapi takenya seminggu sekali, weekend aja. Atau mau tiap hari pun ngga masalah kalau kita enjoy. Kuncinya adalah muncul dari dalam hati, bukan sebuah ambisi.

Kedua, terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain yang berbeda kondisinya. Gimana ya jelasinnya. Jadi gini, dulu saya sering membandingkan dengan si A yang bisa membuat konten Youtube setiap hari. Saya sebagai ibu anak satu, tanpa ART bahkan mengurus semua urusan rumah sendiri dibandingkan dengan dia yang masih single misalnya, cowok pula. Udah jelas salah rumus. Bukan si A yang salah, tapi saya yang salah mengukur diri. ya bagus banget kalau saya bisa mengejar dan memenuhi keinginan diri sendiri tapi kalau ngga, yang ada malah stress kan.

Lalu membandingkan diri dengan orang yang anak-anaknya sudah remaja, yang jelas anak-anak mereka sudah lebih mandiri dari anak saya yang masih balita.

Saya pernah mendengar ada orang yang bilang gini “Jangan mengasihani diri sendiri. Jangan membela kelemahan diri sendiri. Saat orang lain bisa, kita juga harus bisa”.

Betul sekali tapi saya tidak sepenuhnya setuju karena hidup itu bukan tentang berkompetisi saja. It’s okay untuk mengatakan tidak bisa dan meminta bantuan orang lain. Saya lebih memilih menjalani hidup dengan mindfulness daripada tidur mikirin konten, makan mikirin kerjaan. Tidak bisa menikmati waktu dengan anak, dengan keluarga bahkan untuk diri sendiri.

Seperti judul tulisan ini, akhirnya sampai pada masa dimana saya mengatakan “ya udah lah”, kalau saya suka dan mau, ya saya lakukan. Tapi kalau ternyata saya ngga siap dengan segala tantangannya dan malah jadi uring-uringan sama pasangan atau anak, ngga adil juga dong untuk mereka.

Lalu apa yang saya lakukan?

Saat ini, saya melihat siapa diri saya terlebih dahulu. Apa yang saya suka dan bisa lakukan. Keahlian apa yang bisa saya tingkatkan dan mana yang ngga perlu (atau bisa pakai jasa orang lain). Dan satu lagi, fokus dengan sesuatu yang bermafaat, entah itu menghibur, mengedukasi atau berbagi. Namun untuk tahap edukasi ini, saya belum bisa terjun terlalu jauh karena sepertinya too much information  di social media. Jadi malas sendiri kalau baca tips saking banyaknya. Ngga apa-apa sih kalau memang expertnya tapi kalau bukan, jadinya malah bikin bingung kan.

Jadi, buat Buibuk di luar sana yang sering mengecilkan diri sendiri, yuk kita bangun sama-sama. Lakukan yang terbaik menurut versi kamu sendiri. Kalau memang senang memasak, gimana caranya memasak ini membuat kamu merasa lebih berharga dan bermanfaat. Berharga ngga cuma soal kita dibayar orang, tapi sebaliknya berharga ketika kita bisa membantu dengan keahlian kita.

Kalau kamu saat ini kuat untuk memberikan influence kepada orang lain, bantu sebarkan hal-hal yang baik dan menyejukan. Bantu sebarkan usaha orang lain lewat social media yang kamu punya misalnya.

Kalau kamu saat ini merasa ngga bisa ngapa-ngapain, ngga punya keahlian apa-apa, cuma bisa ngurus anak di rumah. Lakukan profesi itu dengan baik. Bukankan mendidik anak merupakan pekerjaan mulia? Mendidik anak ngga perlu diposting di social media kok. Kalau kamu nyaman menyebarkannya, ya sebarkan. Tapi kalau kamu ngga cukup percaya diri, ya simpan untuk kamu sendiri dulu.

Dan akhirnya, saat ini sampai pada masa dimana saya mengatakan “ya udah lah”. Mau orang jadi apa, pergi kemana, ya biarin aja. Toh setiap orang punya jalannya masing-masing. Bukan tidak mau, tapi ya saya pun sedang sama-sama berjuang di jalan yang saya bangun. Kan ngga harus sama. Meskipun, kita sama-sama seorang konten kreator, blogger, guru, dosen, dokter tapi jalan karirnya pasti akan berbeda.

Hingga akhirnya saat ini saya memutuskan untuk fokus dengan apa yang akan saya lakukan. Tentukan tujuannya terlebih dahulu. Kamu ingin dikenal sebagai seorang yang bisa apa sih? Jangan semuanya diembat, fokus dengan satu tujuan namun boleh belajar hal pendukung lainnya.

Saya ingat pesan yag disampaikan oleh Pak Chandra, CEO Success Before 30, beliau pernah diminta untuk jadi model. Bisa saja, tapi beliau memilih tetap on the track sebagai praktisi keuangan. Peluang tersebut tidak ia ambil. Hingga saat ini, ya beliau hebat dengan branding sebagai pakar keuangan, motivator finansial.

Setelah saya tau tujuan saya, saya kerahkan waktu , tenaga dan dana untuk membentuknya. Termasuk apa-apa saja yang mendukung goals tersebut. Misalnya, kamu ingin menjadi selebgram, skill penunjangnya lainnya bisa dengan skill berbicara, berpose. hingga editing foto misalnya. Lalu, pikirkan apa yang bisa anda berikan untuk orang lain.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *