practical life montessori, ide kegiatan practical life, EFL,
BBC,  Montessori

Practical Life di Rumah, Perhatikan Prinsip Ini!

Buibuk akan menemukan banyak informasi tentang Practical Life terutama ide kegiatan yang dapat dilakukan di rumah bersama anak di social media. Namun, saya melihat banyak informasi yang menyajikan Practical Life dalam bentuk art and craft. Sangat bagus! Namun, banyak orang tua yang mengira bahwa Practical Life itu harus menghasilkan karya. Seperti membuat mainan, boneka atau benda lainnya.

Saya telah menuliskan tiga artikel tentang Practical Life sebelumnya. Disini saya ingin mengajak Buibuk untuk lebih open minded tentang Practical Life. Tidak terbatas pada kegiatan art and craft saja, melainkan semua kegiatan yang dilakukan dalam keseharian, itulah Practical Life. Mulai dari bangun pagi, mandi, menggosok gigi, mengenakan pakaian sendiri, kegiatan tersebut masuk kedalam Practical Life. Bahkan, menyusu sekalipun termasuk kedalam Practical Life.

practical life montessori, ide kegiatan practical life, EFL,

.

Practical Life Exercise dalam Pendidikan

Practical Life Exercise atau pelaksanaan kehidupan praktis merupakan kegiatan formatif yang bisa membangun diri anak dan orang tua. Practical Life dikatakan juga sebagai sebuah pekerjaan untuk menunjang proses adaptasi terhadap lingkungan.

Ketika anak berusia 2 tahun, ia mulai bertemu dengan banyak orang. Lingkungannya berubah. Semula hanya ada ayah dan ibunya saja. Kini ia bertemu dengan teman sebayanya saat bermain. Anak belajar berbicara dan menambah kosakata untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia juga mulai belajar konsep meminjam, bermain bersama dan meminta tolong.

Metode Montessori menyebutkan, Pendidikan tidak terbatas pada nilai dan prestasi yang tertulis diatas raport. Melainkan terletak pada bagaimana orang dewasa dapat mendidik anak-anak untuk beradaptasi dan berfungsi dimana pun mereka tumbuh dan berkembang.

Baca juga: Prinsip Dasar Practical Life dalam membentuk Kepribadian Anak

.

Bagaimana Ciri Anak Tidak Memiliki Fungsi dalam Hidupnya?

Bayi terlahir tanpa insting namun ia memiliki refleks untuk bertahan hidup. Seiring bertambahnya usia bayi, fungsi refleks akan menghilang dan digantikan dengan gerak bertujuan. Bayi memiliki semangat tinggi untuk belajar, seperti belajar berguling, merangkak, berjalan, hingga belajar meraih sesuai sendiri, makan, mandi secara mandiri.

Namun, orang tua terkadang membantu secara berlebihan sehingga memadamkan semangat belajarnya. Perlakuan melayani anak dalam segala hal tanpa memberikan kesempatan anak untuk mencoba termasuk tindakan memadamkan fungsi anak dalam kehidupan.

Saat anak hendak mengambil gelas minumnya. Kita merasa khawatir, takut anaknya terjatuh, takut lantainya basah, takut gelasnya pecah. Padahal dengan memberikan kesempatan anak melakukannya sendiri, kita sudah menanamkan kepada anak rasa percaya diri dan mandiri. Anak akan sangat senang melakukannya.

Namun terkadang, karena ketakutan diatas, kita memilih untuk mengambilkan gelas minum tersebut. Anak cukup duduk dan menunggu saja. Padahal dengan dilayani secara berlebihan, anak belajar bahwa mereka tidak berfungsi. “Kamu ngga bisa, mama aja yang ambilin, tunggu ya!”. Namun saat ia sudah besar dan mengulang hal yang sama, kita dengan mudah mengatakan “ambil sendiri, gitu aja ngga bisa!” padahal kita yang mengajarkannya seperti itu.

Ketika anak terlalu lama dalam kondisi over service, mereka kerap kali menolak saat diminta lebih mandiri. Orang tua yang mengajarkannya, bukan secara verbal namun pengalaman yang terjadi secara terus-menerus dalam waktu lama. Secara tidak langsung, kita membenamkan prinsip yang keliru, “kamu akan bergantung kepada orang lain dan begitulah kamu akan hidup!”

Ketika bantuan itu tidak ada lagi, anak berada pada kondisi tersulit. Anak harus beradaptasi. Adaptasi membuat anak bahagia. Adaptasi membuat anak memahami lingungan tempat ia tinggal. Anak bisa bersosialisas dan membantu dirinya sendiri.

Baca juga: Hal yang harus Diperhatikan dalam Kegiatan Practical Life

.

4 Pilar Practical Life

Empat pilar Practical Life sudah saya bahas secara lebih detail sebelumnya, diantaranya:

  1. Development of motor skill (Motorik kasar dan halus).
  2. Care of environment (Kepedulian terhadap lingkungan).
  3. Care of self (Kepedulian terhadap diri sendiri).
  4. Social grace and courtesy (Sopan santun).

Anak-anak harus matang 4 pilar Practical Life terlebih sebelum mengenal baca, tulis dan hitung. Terutama area sopan santun, ketika anak tidak memiliki sopan santun, anak tidak akan diterima oleh masyarakat.

Sopan santun lahir dalam keluarga, anak-anak hanya menyerap apa yang mereka dapatkan dari orangtua dan keluarga. Sopan santun adalah investasi di masa yang akan datang.

Empat pilar diatas saling berkaitan dan bisa berjalan beriringan. Misalnya, saat anak belajar menyisir rambut, anak belajar care of self. Namun saat rambutnya terjatuh di lantai, ia juga harus membersihkannya, secara otomatis anak belajar care of environment.

Sekali lagi kita sama-sama memahami ya Buibuk bahwa, Practical Life mengumpulkan semua kegiatan orang tua dan anak sejak bangun hingga tidur kembali. Saya sering menemukan ide kegiatan Practical Life di social media namun prakteknya tetap sulit. Kita harus mengetahui bahwa Practical Life memiliki tujuan secara langsung. Misalnya, mencuci piring tujuannya supaya piringnya bersih.

Baca juga: 4 Pilar Practical Life, Kupas Tuntas hingga Ide Kegiatannya

.

Tujuan Practical Life Exercise

  • Melatih kemandirian sejak dini. Tidak ada anak yang bebas jika ia tidak mandiri.
  • Meningkatkan rasa percaya diri, keberhargaan diri. Saat orang tua mendukung penuh anak-anak melakukan suatu kegiatan maka akan tumbuh rasa percaya dirinya.
  • Membentuk gambaran diri yang baik. Anak akan percaya bahwa dirinya baik dan mampu melakukan banyak hal baik. Meskipun ada pihak yang membuly, tidak mudah meruntuhkan nilai dirinya.
  • Berfungsi sesuai dengan peranannya sebagai manusia. Anak-anak tidak bisa menjadi robot atau boneka orangtuanya. Anak-anak layaknya manusia dewasa.
  • Melatih motorik halus dan kasar.
  • Mempersiapkan pembelajaran selanjutnya.
  • Menunjang perkembangan bahasa.
  • Mengasah kemampuan pra-matematika
  • Meningkatkan konsentrasi dan fokus.

.

Karakterisik Practical Life

Di social media, kita hanya mengetahui ide kegiatan yang termasuk dalam kategori Practical Life tanpa mengetahui rambu-rambunya. Dalam Montessori jelas disebutkan, suatu kegiatan dapat dikatakan Practical Life dan berhasil ketika memenuhi 5 unsur berikut ini:

  1. Real (Nyata)

Benda yang digunakan harus nyata, bukan tiruan. Untuk ukuran bisa disesuaikan dengan kemampuan anak. Misalnya gelas kaca kecil bukan gelas plastik besar. Sendok stainless kecil sesuai dengan ukuran tangan dan mulut anak. Sapu kecil, tray kecil dan semua benda real.

  1. Breakable (Bisa pecah atau rusak)

Benda yang digunakan termasuk benda pecah belah seperti gelas dan piring. Tujuannya supaya anak berhati-hati saat menggunakannya. Ia juga bisa mengontrol kekuatannya saat memindahkan benda tersebut agar tidak terjatuh dan rusak.

  1. Functional (Berfungsi dengan baik)

Hindari penggunaan benda yang sudah rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya tray yang patah tinggal sebelah atau benda lain yang sudah berubah fungsinya.

  1. Limited (Terbatas)

Disinilah Montessori mengajarkan konsep minimalis. Benda yang digunakan harus terbatas meskipun di ruang kelas dengan banyak anak. Tujuannya supaya anak belajar saabr menunggu antrian. Anak tidak mudah mengganti mainan dan lebih mudah dirapikan kembali.

  1. Child’s size (Ukuran anak)

Tentu saja semua benda yang digunakan harus sesuai dengan ukuran anak supaya anak bisa menguasai dan menghindari risiko berbahaya.

.

Tahapan Melakukan Practical Life

    • Kerjakan perlahan.
    • Tidak ada kata-kata dalam presentasi.
    • Lihat mata anak sesekali. Dalam satu aktivitas anak harus punya bagain sendiri, begitu juga orang tua memiliki bagian tersendiri. Misalnya saat mengoleskan selai pada roti, anak memiliki satu roti dan orang dewasa memiliki satu roti.
    • Ketahuilah barang-barang anda. Misalnya nama-nama barang yang dimiliki di rumah.
    • Sebut nama material di awal.
    • Tidak bereaksi ketika terjadi kesalahan (terkecuali yang fatal). Misalnya saat bermain beras, anak ternyata membuat berantakan. Kita punya pilihan untuk menghentikan dan mengobservasi. Kita bisa berhenti berbicara dan berhenti menyalahkan anak. Lihat anak terlebih dahulu dan tetaplah tenang.
    • Rotasi material setiap 1 bulan. Apa aja yang akan kita pajang mana yang anak suka banget, mana yang anak ngga suka, mana yang anak kadang-kadang kerjakan.

.

Karakterisik Rumah yang Baik untuk Practical Life

Lingkungan itu harus sangat kaya dengan motif dan alasan untuk bekerja supaya bisa mengundang anak-anak untuk beraktivitas sendiri. Kita harus perhatikan lingkungan rumah yang kaya akan pembelajaran. Termasuk barang-barang yang bisa dikerjakan anak. Misalnya, rak sesuai tinggi anak serta perlengkapan lain yang sesuai dengan kemampuan anak agar anak dapat membangun kemandiriannya.

Practical Life adalah serangkaian kegiatan yang ada di rumah untuk menumbuhkan rasa bisa di dalam diri anak sebagai modal untuk menjalani kehidupan di depannya.

.

Keluhan yang Sering Dialami Orang Tua

1. Bagaimana jika anak berusia 6 tahun namun masih sulit melakukan kebiasaan baru?

Libatkan anak dalam pekerjaan tersebut dan berikan kesempatan anak untuk melakukannya. Ajak anak dalam diskusi terbuka, apakah yang membuatnya enggan untuk melakukan hal tersebut. Ada kemungkinan anak akan berkata jujur dan sedikit menyinggung perasaan kita namun berbesar hati lah.

Saya pernah mengalami hal serupa saat Nafeesa berusia 3,5 tahun. Ia kemudian mengatakan apa yang tidak ia sukai dari cara penyampaian serta cara bicara saya. Saya terkejut tapi saya bahagia karena sejak saat itu saya sangat memperhatikan setiap kata yang akan saya ucapkan termasuk intonasinya.

2. Orang tua sudah mengajarkan tahapannya namun anak tetap tidak bisa melakukannya?

Montessori mengajarkan, repetition is the key. Disinilah orang tua akan belajar tentang mindfulness, komitmen dan kesabaran. Kita perlu mengecek kembali, apalah lingkungannya sudah nyaman saat anak bekerja. Apakah motoriknya sudah siap. Apakah ada hambatan pada mental anak, misalnya saat orang tua terlalu banyak mengkritik atau bahkan anaknya sendiri yang serba takut melakukan kesalahan. Disinilah peran orang tua untuk membangun jembatan sehingga anak memiliki rasa percaya diri yang bagus.

.

Tips Melakukan Practical Life di Rumah 

  • Practical Life di rumah should be fun.
  • Kuatkan pilar Practical Life sebelum anak baca, tulis dan hitung. Jika Practical Life-nya belum kuat, maka harus mengokohkannya lagi.
  • Ucapkan terimakasih kepada anak setiap kali ia melakukan pekerjaanya.
  • Lakukan berulang-ulang
  • Anak akan pintar pada waktunya, betul! Namun butuh lingkungan yang mendukungnya.

Kesimpulan

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Begitu juga cara berkomunikasi dengan mereka. Tips berkomunikasi dengan anak seperti:

  • Tidak boleh sambil berdiri, eye level anak.
  • Buka tangan anak dan pegang tangan.
  • Bicara dengan nada rendah dan tenang.
  • Minta ijin anak untuk memeluknya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *