manfat bermain outbond
Lifestyle

3 Kiat Sukses Toilet Training Bayi 6 Bulan

Sejak menjadi seorang ibu, ada banyak hal baru yang harus saya pelajari setiap hari, terutama yang berkaitan dengan si kecil. Salah satu yang menarik perhatian saya yaitu soal toilet training. Terdengar sepele namun cukup merepotkan jika tidak dibiasakan sejak dini. (3 Kiat Sukses Toilet Training Bayi 6 Bulan)

“Apa sih susahnya, tinggal pakai diaper kok!”

Memang benar tapi saya melihat dari banyak aspek soal pemakaian diaper ini.

Pertama, dari segi kenyamanan anak. (Mohon maaf) Saya pribadi sering merasa tidak nyaman saat memakai pembalut ketikan menstruasi, gak nyaman banget. Gimana si kecil yang seharian dipakein diaper? Apalagi ada juga bayi yang hampir 24 jam menggunakan diaper, setiap hari. Gak tega sih membayangkannya.

Kedua, kesehatan anak. Tidak sedikit bayi yang mengalami infeksi saluran kemih disebabkan pemakaian diaper yang terlalu sering dalam waktu lama. Hal ini juga dialami oleh ponakan yang masih berusia 6 bulan. Ia harus disunat dini sebab infeksi saluran kemih. Selain itu, pemakaian diaper juga memicu munculnya ruam akibat lembab. Ruam popok pada bayi jangan dianggap sepele ya Moms. Selain membuat bayi lebih rewel, jika tidak diatasi dengan cepat dan tepat bisa menyebabkan lecet dan luka pada area yang sering terjadi gesekan dengan diaper atau popok.

Ketiga, dari segi finansial. Saya memang termasuk ibu yang kuat itungannya untuk pengeluaran rumah tangga. Coba deh kita hitung bersama. Idealnya diaper dipakai selama 4-5 jam. Artinya sehari bisa ganti 5-6 kali diaper. Kita ambil rata-rata harga diaper sekitar Rp 2.500,- per pcs. Sedikitnya, kita harus mengalokasikan dana Rp 450 ribu per bulan untuk membeli diaper. Setahun Rp 5,4 juta. Jika kita mengajarkan toilet training sejak dini, akan jauh lebih hemat pengeluaran kita.

Baca juga : Moms, Yuk mulai bersahabat dengan si kecil

Dengan 3 alasan diatas kemudian memotivasi saya untuk mengenalkan toilet training sejak Nafeesa berusia 2 bulan. Awalnya ragu, boleh ngga ya, baik ngga ya untuk kesehatan si kecil. Namun setelah konsultasi dengan dokter anak dan dari beberapa jurnal yang saya baca, boleh-boleh aja selama dilakukan dengan benar. Artinya tidak memaksakan kehendak apalagi sampai menggangu kenyamanan si kecil.

Metoda yang saya gunakan disebut dengan istilah komunikasi eliminasi (elimination communication). Percaya ngga, kalau manusia itu memiliki insting untuk tetap merasa higineis. Itulah sebabnya, saat merasa ingin buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB), kita pasti menjadi tidak nyaman dan gelisah. Termasuk bayi, saat ia ingin pipis atau puph, dia akan memberi sinyal atau menunjukan ekspresi tidak nyaman.

Nah, metoda inilah yang saya gunakan. Mempelajari pola buang air kecil dan buang air besar si kecil. Misalnya, sehari biasanya berapa kali dan kapan. Dan, it works well! Saya gak menyangka ternyata metoda ini berhasil saya terapkan. Saat Nafeesa berusia 6 bulan, berhasil melepas penggunaan diaper siang dan malam hari, tanpa ngompol.

Stok diaper hanya digunakan saat akan bepergian saja. Bahkan, saat ini Nafeesa berusia 2 tahun, bepergian pun sering tidak memakai diaper. Sudah benar-benar lepas. Kecuali saat diperjalanan jauh, khawatir sulit menemukan toilet. Dia sudah bisa mengatakan dengan jelas saat ingin buang air kecil atau buang air besar.

3 Kiat Sukses Toilet Training Bayi 6 Bulan

  1. Bayi cenderung buang air kecil/besar saat bangun tidur. Jadi, biasanya pagi-pagi setelah Nafeesa bangun, saya mengajaknya ke toilet atau westafel untuk pipis. Tentu saja sambil saya pukpuk pahanya dan mengajaknya untuk pipis atau puph. Meski bayi 2 bulan belum bisa bicara, tapi dia paham kok apa yang ucapkan. Kegiatan ini saya lakukan hingga sekarang usianya 2 tahun.
  2. Tidak bergantung pada diaper. Saat usia 2 bulan, Nafeesa masih saya pakaikan diaper pada malam hari. Sementara siang hari, hanya memakai celana bayi atau popok kain. Hingga usia 4 bulan memang masih repot. Dia masih suka ngompol dan ini PR kita banget ya. Harus punya trik supaya rumah gak bau pesing bayi. Pertama, gunakan alas bayi pada kasur jadi saat si kecil ngompol gak langsung membasahi tempat tidurnya. Kedua, tidak menumpuk popok kotor bekas pipis atau puph.
  3. Berkomunikasi. Saya termasuk orang yang merasakan manfaat berkomunikasi baik dengan anak. Toilet training gak cuma soal teori dan praktek tapi juga melibatkan kepercayaan, kesabaran dan kebiasaan. Sejak bayi, saya sering mengajak Nafeesa ngobrol saat menemaninya pipis atau puph. Saya katakan seperti ini:

“Cica mau puph ya? Sakit perutnya ya? Buka celana dulu yuk. Yuk, sekarang udah boleh puph ya. Kalo puph di toilet ya nak. Gak sambil bobok ya nak. Yuk, kita bersihkan ya.”

Terus saya ulangi sejak usia 2 bulan hingga 2 tahun. Supaya dia ingat, kalau perutnya sakit itu tandanya mau puph. Kalau puph agk sambil bobo. Kalo puph di toilet. Kalo puph buka celana.

Dan ini berhasil. Nafeesa kan sudah bisa jalan usia 8 bulan, jadi saat usia 12 bulan sudah bisa lari. Ini membantu banget, kalau dia merasa perutnya mules, langsung buru-buru minta ke belakang. Sambil narik-narik celana. Antara lucu, terharu dan bahagia. Meskipun saat itu dia belum bisa lancar bicara tapi dia sudah bisa menarik tangan saya untuk diajak ke WC.

Saya juga sering bolak-balik WC cuma gara-gara Nafeesa sakit perut, dia pikir mules mau puph, eh ternyata cuma buang angin. Ya sudah gak apa-apa, gak usah diomelin. Namanya juga proses. Repot sedikit ngga apa-apa toh. Sebelum memulai toilet training, sebaiknya Moms and Dads sepakat untuk tidak mengeluh dan menjalani toilet training ini bersama-sama. Sebab ada juga lho, suami yang komplen karena gak suka bau pipis anaknya. So, daripada nanti ditengah jalan stuck dan kembali lagi pakai diaper siang-malam, sebaiknya kompakin dulu orangtuanya ya.

Baca juga : 3 Kebutuhan Dasar Anak yang Wajib Dipenuhi Orangtua, Pesan Bunda Elly Risman

Demikian lah tips sederhana saya memulai toilet training dan sukses melepas diaper saat usia Nafeesa 6 bulan. Semoga bermanfaat dan membantu ya. Alhamdulilah, berkat toilet training yang saya lakukan sejak dini, saya jadi bisa saving money more. Gak usah terlalu banyak budgeting buat diaper. toilet training bayi 6 bulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *