parenting

Kenali Tantrum Manipulatif pada Anak Usia 1-3 Tahun

Menangani anak tantrum memang gampang-gampang susah namun tetap harus dihadapi dan dicari solusinya ya, Buk. Lantaran anak akan terus tumbuh dan berkembang, ia juga akan menemui banyak orang diluar keluarganya, sehingga jika tantrum ini dibiarkan bisa jadi satu kebiasaan buruk yang melekat pada dirinya.

Tantrum merupakan fase yang akan dialami anak bayi mulai dari 1 tahun hingga 3 tahun dan ini sifatnya normal. Sementara tantrum yang terjadi pada anak usia 4 atau 5 tahun keatas disebut abnormal. Sederhananya, tantrum adalah perilaku anak yang menangis sambil teriak dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tantrum ini jadi momok yang menyebalkan bagi orangtua karena pada saat anak tantrum, sulit sekali dikendalikan.

Tantrum normalnya terjadi di rumah dan ditujukan hanya kepada orangtua atau orang terdekat si anak. Namun, pada kasus ekstrim, tantrum juga sering dilakukan anak di tempat umum dan ini sempat menjadi perbincangan hebat ya dikalangan ibu-ibu lantaran ada anak tantrum di tempat umum dan dibiarkan sehingga mengganggu orang lain. Nah, ini lah PR kita sebagai orangtua, harus tau celah kapan kita mengambil tindakan dan kapan boleh membiarkan anak menangis sejadi-jadinya.

Ada 2 jenis tantrum, pertama tantrum sebagai bentuk komunikasi ketika anak merasa frustasi atau tidak nyaman dengan dirinya dan lingkungan. Misal, saat anak merasa lapar, haus, ruam popok, lelah atau menngantuk. Karena anak belum bisa mengungkapkan apa yang ia inginkan, nah menangis bahkan tantrum menjadi salah satu caranya. Oleh sebab itu lah, kita harus mengenalkan “rasa” pada anak sejak dini.

Berikutnya, TANTRUM MANIPULATIF, adalah tantrum yang ditujukan supaya keinginannya tercapai. Misal, ketika ia ingin membeli sesuatu dan kita tidak mengabulkannya, lantas si anak langsung menangis menjerit-jerit. Apa yang akan dilakukan orangtua? beri pemahaman pada anak saat ia sedang dalam kondisi baik dan nyaman, bahwa tidak semua barang boleh dibeli. Bisa saja dibeli tapi tidak harus saat itu juga, nanti jika benar-benar butuh, boleh kita beli sama-sama.

Nafeesa juga pernah melakukan hal serupa. Dia minta beli mainan dan menangis di tempat. Tapi ketika saya beri pemahaman dan mewujudkannya, ia percaya dan tidak mengulanginya. Satu hari, ia minta balon, murah dan sederhana. Namun, jika dituruti bisa setiap hari beli balon, hanya untuk dikumpulkan saja tidak ia mainkan. Saya beri pengertian yang sangat sederhana, tangan kita kan cuma dua, kalau beli balonnya banyak mau dipegang dimana. Jadi dua dulu yang ada di rumah ya, nanti kalau butuh lagi, bisa kita beli lagi. Sampai akhirnya dia bosan dengan dua balon yang ada di rumah dan enggan membelinya kembali.

.

Lalu apa yang harus dilakukan saat anak tantrum?

  1. Jangan panik, tetap tenang, tetap sabar. Saat anak teriak, jangan ikut berteriak karena hanya akan membuat bising seisi rumah. Biarkan dia meluapkan apa yang ia rasakan. Bayangkan deh, ketika kita kesal lalu menangis, belum selesai menangis lalu disuruh berhenti, makin kesel ngga?
  2. Jangan dialihkan apalagi diiming-imingi imbalan. Kadang kita suka latah, yang penting nangisnya diam dulu lalu kita janjikan, nanti beli es krim ya! Wah, bisa nagih tantrumnya itu, Buk.
  3. Pastikan kondisi anak aman, jauh dari benda berbahaya supaya anak tidak melempar benda, tidak menyakiti diri dan orang lain.
  4. Cari tau penyebab tantrumnya. Jangan dibiarkan ya, Buk. Setelah tantrumnya mereda, kita harus tau apa pemicunya supaya tidak terulang kembali.
  5. Jangan menyerah. Sekali kita menyerah, misalnya saat anak tantrum karena minta mainan lalu kita membelikannya langsung, next ia bisa melakukan hal serupa untuk  keinginan yang lain.

Nafeesa mengalami tantrum saat ia memasuki usia 2 tahun dan karakternya langsung berubah. Benar-benar rewel dan maunya aneh-aneh. Tapi seiring berjalannya waktu, saya beri ia pemahaman lewat cerita, ngobrol bareng sebelum tidur, Alhamdulilah 2,5 tahun sudah hilang tantrumnya.

Dan, saya selalu katakan, saat kamu mau sesuatu BILANG, jangan nangis. Mama ngga ngerti.

Sejak saat itu, apapun yang ia mau dia bilang, meskipun dengan bahasa anak usia 2,5 tahun ya, tapi dia sudah berusaha untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan. Ini ada hubungannya dengan kesuksesan proses toilet training dia loh.

Baca juga: Kiat Sukses Toilet Training Bayi 6 Bulan, Gak Percaya? Baca dulu tekniknya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *