vaksin pfizer dan biontech, vaksin corona, 3m, mencuci tangan, vasin adalah, pfizer adalah
health,  Lifestyle,  Social

5 Fakta Vaksin Corona Pfizer dan BioNTech

Vaksin Corona Pfizer dan BioNTech. Perbincangan soal Covid-19 masih belum berakhir apalagi angkanya yang terus bertambah. Dalam sepekan saya mendapat kabar, ada tiga keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Padahal sebelumnya area Perumahan saya sudah disterilisasi dan cukup ketat aturannya. Namun memang, saya melihat ada saja orangtua yang sengaja megajak anaknya bermain di area Playground tanpa memakai masker.

Masyarakat menantikan vaksin Corona, terutama mereka yang berada dalam lingkaran teman bahkan kerabat yang terkena Covid-19. Masyarakat berharap vaksinasi menjadi solusi untuk menyelesaikan pandemi yang sudah 9 bulan melanda Indonesia.

Namun tentu saja, kabar soal vaksin ini banyak yang simpang siur sehingga masyarakat bingung dan takut. Bahkan, Sebagian dari mereka menganggap bahwa vaksin adalah obat. Sehingga memang pemerintah perlu lebih gencar mengedukasi dengan benar dan tepat serta transparan kepada seluruh masyarakat perihal vaksin Corona.

Jika ditanya, masyarakat memang butuh vaksin namun tidak dipungkiri bahwa mereka takut dan masih ragu. Berikut ini adalah beberapa informasi yang saya rangkum mengenai vaksin Corona yang diluncurkan oleh Pfizer dan BioNTech.

vaksin pfizer dan biontech, vaksin corona, 3m, mencuci tangan, vasin adalah, pfizer adalah

.

1. Vaksin Corona Diberikan Kepada Orang yang Sehat

Meski tidak ada persiapan secara khusus namun orang yang akan disuntik vaksin corona harus dalam kondisi yang sehat. Mereka akan melakukan pengecekan tensi darah terlebih dahulu. Seperti yang dituturkan oleh Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) yang telah menjalani dua kali suntik vaksin pada bulan November dan Desember, beliau tidak mengalami gejala apa pun setelahnya.

Vaksin Pfizer dan BioNTech telah melibatkan anak-anak diatas 12 tahun dan orang dewasa hingga usia 85 tahun dalam uji klinisnya. Meski hasilnya belum bisa dipublikasikan, namun secara umum vaksinasi pada lansia ternyata tidak seefektif pada orang yang lebih muda. Meski begitu hasilnya berhasil 90% dapat mencegah penyebaran virus Corona.

.

2. Vaksin Corona adalah Pencegah, Bukan Obat

Dari laman halodoc.com menyebutkan:

“Studi yang saat ini dilakukan Pfizer dan BionTech memang dirancang untuk mendeteksi apakah vaksin bisa melindungi dari gejala COVID-19 yang parah atau tidak. Namun, hingga saat ini, pihak Pfizer mengaku belum bisa mempublikasikan datanya.”

Dr. Tirta yang merupakan BA Satgas Covid-19 gencar menjelaskan bahwa vaksin bukanlah obat. Vaksin berfungsi sebagai pencegah meski tidak menjamin 100% karena tidak ada vaksin yang bisa menjamin 100% keberhasilannya.

Lalu dr. Tirta juga menjelaskan perbedaannya antara vaksin dan terapi plasma darah yang diperbincangkan banyak orang. Terapi plasma darah berbeda dengan vaksin. Terapi plasma darah diambil dari darah orang yang terinfeksi dan sudah sembuh sehingga dapat menjadi “tentara barisan terdepan” untuk menyembuhkan pasien lain. Secara penelitian, plasma darah diberikan hanya kepada pasien dengan gejala berat saja.

Sementara vaksin dapat diberikan kepada semua orang yang sehat untuk pencegahan. Terutama mereka yang berisiko, seperti tenaga kesehatan, para lansia serta masyarakat yang tinggal di daerah dengan risiko tinggi seperti Jakarta.

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin (imunisasi) dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit – penyakit tertentu. -wikipedia-

.

3. Vaksinasi Diberikan Sebanyak Dua Kali

Agar lebih efektif, vaksinasi corona harus dilakukan dua kali. Vaksin yang disuntikan akan memaparkan bagian kecil dari virus agar sistem imun bisa mengenali sumber penyakit tersebut. Sehingga dengan diberikan dua kali akan memperbesar kemungkinan sistem imun tubuh untuk mempelajari virus dan mencari cara menangkal infeksi berikutnya. Artinya, pemberian vaksin dua kali memberi kesempatan imun tubuh untuk memproduksi lebih banyak antibodi.

.

4. Mengenal Vaksin Pfizer & BioNTech

Vaksin Pfizer merupakan teknologi rekayasa genetika dengan tujuan untuk melihat genom RNA virus yang dirancang oleh perusahaan farmasi terbesar di Amerika Serikat.

Pfizer bekerja sama dengan perusahaan Jerman, BioNTech yang didirikan oleh sepasang suami istri. Dr. Tirta menaruh harapan besar terhadap vaksin Pfizer dan BioNTech dengan keefektifan mencapai 90%. Vaksin ini kabarnya telah tiba di Indonesia dan akan diberikan secara gratis untuk masyarakat Indonesia. Meski begitu, kabarnya vaksin akan diprioritaskan kepada mereka yang memiliki  akses kontak atau bertemu dengan banyak orang sehingga risiko tertular lebih tinggi seperti para tenaga kesehatan.

.

5. Meksi Sudah Vaksin, Tetap Patuh 3M

Jadi jelas ya, meskipun sudah tersedia vaksin corona dengan keberhasilan mencapai 90%, kita tetap harus patuh pada protokol kesehatan yaitu tetap memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan hand sanitizer serta menjaga jarak.

Sebab, seperti yang dr. Tirta  jelaskan berkali-kali bahwa vaksinasi yang diberikan kepada mereka yang sehat, masih muda, menjalani pola hidup sehat dan tidak terinfeksi sebenarnya tidak menimbulkan gejala kesehatan yang menyiksa seperti demam atau rasa sakit berlebihan. Bahkan hal ini juga disampaikan oleh Bapak Ridwan Kamil yang menjadi relawan untuk vaksin Corona.

Namun sekali lagi, karena penyebaran Covid-19 ini tidak terlihat, sehingga mematuhi protokol kesehatan adalah mutlak. Saya hanya berpesan kepada Buibuk dan para pembaca lainnya, carilah informasi yang benar dan akurat. Saya tau mengikuti pemberitaan Corona terkadang membuat kita justru merasa tertekan dan stress, namun sesekali rasanya tidak salah ya untuk update informasi penyebarannya supaya kita tetap waspada.

Baca juga: Healthy Lifestyle for Wellbeing

Untuk Buibuk yang membutuhkan informasi kesehatan yang tepercaya, bisa mengunjungi website Halodoc.com atau menginstal aplikasinya di smartphone. Saya sudah lama menggunakan aplikasi Halodoc untuk konsultasi dan pembelian obat secara online. Terlebih, saat pandemic seperti ini, terus terang saya masih membatasi akses keluar rumah. Jika bisa dilakukan secara online, saya lebih memiliki online.

Termasuk saat mengalami gangguan kesehatan ringan, saya membatasi diri untuk datang ke Klinik dan Rumah Sakit. Lantaran di rumah ada anak balita dan lansia yang lebih berisiko. Jika tidak terlalu serius dan tidak membutuhkan Tindakan medis, Buibuk bisa melakukan konsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Butuh Layanan Disinfektan di Rumah?

One Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *