health

KEMENKES RI LUNCURKAN SIGALIH PADA HARI PENGLIHATAN SEDUNIA 2018

Belakang isu tentang kebutaan akibat katarak memang gencar diagkat ke permukaan. Melihat jumlah pasien katarak yang cukup banyak menjadi perhatian banyak pihak baik dari pemerintah maupun sektor swasta.

Mommies, saya pun baru tersadarkan bahwa menjaga kesehatan mata itu penting sekali. Kita baru akan menyadari berharganya sepasang mata bola saat mereka tak lagi berfungsi dengan baik. Mata sebagai panca indera menjadi bagian vital untuk menopang aktifitas dan produktifitas kita. Mau itu ibu rumah tangga maupun wanita karir.

Tau kah Mommies, berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan memiliki implikasi yang multidimensional, diantaranya:

  1. Dampak fisik. Gangguan penglihatan dapat menghambat produktifitas seseorang dalam melakukan aktifitas hariannya sehingga menyebabkan menurunnya kualitas hidup seseorang (quality of live).
  2. Dampak sosial pada penderita yaitu memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik dikemudian hari, risiko terjatuh, depresi serta menjadi ketergantungan pada oranglain seperti keluarga dan orang terdekat.
  3. Dampak psikologis. Gangguan penglihatan bahkan hingga menyebabkan kebutaan dapat membuat korbannya mengalami stress atau depresi, merasa kurang percaya diri, minder bahkan merasa dirinya tidak berharga.

Oleh karena itu, gangguan penglihatan menjadi masalah penting yang harus diatasi bersama. Setelah sebelumnya saya menghadiri acara penyerahan donasi alat operasi katarak yang dilakukan oleh salah satu bank swasta di Indonesia, kali ini saya berkesempatan hadir pada acara briefing media bersama Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Selasa lalu (2/10).

Masih berbicara soal gangguan penglihatan yang menyerang banyak masyarakat Indonesia. Acara ini digelar sebagai salah satu kampanye pemserintah dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mata. Sehingga kami (media dan blogger) diharapkan dapat menyebarluaskan dan memberikan contoh yang baik kepada orang terdekat dan masyarakat luas pada umumnya. Hadir pula 3 narasumber, yakni :

  1. dr. Anung Sugihantini, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan & Pengendalian Penyakit (P2P)‬.
  2. Dr. Aldiana Halim, Sp.M(K), wakil ketua komite mata nasional KOMATNAS.‬
  3. ‪dr. M. Sidik, Sp.M – Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI)‬‬

Data WHO menunjukan ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dan sebanyak 39 juta diantaranya mengalami kebutaan. Penderita gangguang penglihatan tersebut terdiri dari 124 juta low vision serta 153 juta karena kelainan refraksi yang tidak terkoreksi 90%. Jika masalah ganggaun penglihatan ini tidak segera diatasi, diperkirakan jumlahnya akan meningkatkan 2 kali lipat pada tahun 2020. Mengerikan bukan?

.

Mari kita lihat kasus gangguan penglihatan di Indonesia

Sejak tahun 2014 hingga 2016, telah dilakukan survey kebutaan pada masyarakat dengan usia diatas 50 tahun di 15 provinsi di Indonesia. Hasil survey kebutaan Rappid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) menunjukan angka kebutaan telah mencapai 3%. Penyebab kebutaan tersebut diantaranya:

  • Katarak 81%
  • Kelainan segmen posterior non RD 5,8%
  • Kekeruhan kornea non trachoma 2,8%
  • Kelainan bola mata/SSP abnormal 2,7%
  • Glaukoma 2,5%
  • Kelainan refraksi 1,7%

Dr. Aldiana Halim, Sp.M(K), wakil ketua komite mata nasional KOMATNAS mengumpamakan jika da 5 orang yang mengalami gangguan penglihatan, 4 diantaranya seharusnya bisa dicegah dan bisa disembuhkan.

World Sight Day (WSD) atau hari penglihatan sedunia yang diperingati setiap hari Kamis minggu kedua bulan Oktober setiap tahunnya. Tujuannya yaitu untuk mengajak seluruh masyarakat dunia untuk selalu menjaga kesehatan indera penglihatan sehingga angka gangguan penglihatan dan kebutaan ini tidak meningkat. Termasuk di Indonesia, Vision 2020 sudah dicanangkan sejak tahun 2000 lalu oleh wakil presiden saat itu. Vision 2020 yaitu The Right to Sight.

Nah, tahun ini Internasional World Sight Day bertajuk “Eye Care Everywhere” yang berpusat pada aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan mata bagi semua orang. Sementara di Indonesia, temanya yakni “Mata Sehat Untuk Semua”.

 

Lalu apa upaya pemerintah dalam kampanye Mata Sehat Untuk Semua tahun 2018?

Pemerintah sudah mulai bergerak mengadakan pelatihan dan seminar kesehatan mata untuk petugas Posbindu dan Puskesmas di beberapa daerah di Indonesia. Yang kemduian, petugas-petugas inilah yang akan menjalankan misi pemerintah untuk turun langsung kepada masyarakat.

Ada dua hal yang dilakukan pertama pemeriksaan gangguan penglihatan dan skrining.

  1. Petugas melakukan pemeriksaan kesehatan mata pada warga dengan usia diatas 15 tahun, seperti pemeriksaan gangguan penglihatan dengan metode Hitung Jari yang mudah dan aplikatif.
  2. Skrining gangguan penglihatan untuk anak sekolah dilakukan melalui kegiatan Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah dalam Program UKS.

Saat saya bertanya soal pelatihan tersebut di daerah tempat tinggal nenek yang belum ada gerakan pemeriksaan kesehatan mata. dr. Anung Sugihantini, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan & Pengendalian Penyakit (P2P) menjawab bahwa memang belum merata namun bukan berarti tidak ada pelatihan karena prosesnya masih berjalan. Semoga saja semua daerah terutama wilayah terpencil dapat tersentuh juga ya Mommies.

Kegiatan media briefing termasuk salah satu rangkaian acara peringatan hari penglihatan sedunia tahun ini. Masih banyak rangkaian acara yang akan dilaksaksanakan oleh Kemenkes diantaranya peluncuran Sistem Informasi Penaggulangan Penglihatan (SIGALIH) dan video conference dengan 5 provinsi yang digelar di Surabya, 11 Oktober mendatang.

Apa sih SIGALIH?
Pernah gak Mommies mendengar istilah SIGALIH? Saya pribadi pernah mendengar selintasan saat membaca berita namun belum mengenal lebih jauh. Dan baru tau saat meghadiri media breafing bersama KEMENKES RI kemarin.

SIGALIH merupakan suatu sistem informasi yang berbasis web dan/atau android untuk melaporkan pencatatan dan pelaporan skrining gangguan penglihatan masyarakat yang telah melakukan deteksi dini di Posbindu.

Dengan adanya SIGALIH diharapkan:

  • Setiap Posbindu untuk meningkatkan upaya pencegahan gangguan penglihatan dengan melakukan deteksi dini bagi masyarakat.
  • Setiap Puskesmas dan Rumah Sakit dapat meningkatkan layanan kesehatan mata dengan informasi dan koordinasi untuk pelayanan lanjutan pasien.
  • Untuk Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan dapat melihat pergerakan angka penduduk Indoensia yang mengalami gangguan penglihatan serta mengolah datanya sebagai masukan dan penerapan kebijakan berikutnya.

 

Mommies, meskipun gangguan penglihatan ini tidak mengancam jiwa namun dampaknya justru akan lebih besar dan berlarut-larut. Seperti yang sudah saya singgung diatas, mereka yang mengalami ketidak normalan dengan penglihatannya perlahan akan menemui hambatan dan menyebakan penurunan kulitas hidup.

Kebanyakan dari mereka, yaitu masyarakat yang tinggal di daerah dengan minim informasi. Pasien lanjut usia yang sebenarnya masih memiliki semangat hidup tinggi namun menjadi tidak produktif karena keterbatasannya. Oleh sebab itu, mari kita sama-sama angkat semangat mereka kembali.

.

Tips Menjaga Kesehatan Mata

Mommies, mari kita lakukan, sebarkan dan tularkan gaya hidup sehat yang sederhana mulai dari orang terdekat terlebih dahulu. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
1. Melakukan olah raga mata setiap pagi.
2. Mengonsumsi sayur dan buah yang bagus untuk kesehatan mata.
3. Cukup istirahat, mata juga bisa stress loh jika digunakan terus menerus.
4. Melindungi mata dari sinar UV B secara langsung. Bisa menggunakan topi, kaca mata dan alat pelindung lainnya.
5. Tidak menggosok mata dengan kasar.
6. Bijak memilih produk komestik dan kesehatan yang kontak langsung dengan mata. Seperti memilih kontak lensa, obat tetes mata dan kosmetika mata yang aman dan terdaftar resmi.
7. Time screening control untuk menggunakan laptop, komputer, gadget dan menonton TV.

Metode Hitung Lima Jari Deteksi Gangguan Kesehatan Sejak Dini

LIHAT

  • L: Lakukan pemeriksaan mata di Posyandu
  • I : Identifikasi gangguan tajam penglihatan oleh kader
  • H : Hitung jari jarak 6 meter.
  • A: Antarkan ke fasilitas kesehatan (rujuk) bila tidak bisa hitung jari jarak 6 meter.
  • T : Terapi (operasi) bila didiagnosa katarak.

Hitung jari

  1. Pemeriksaan bediri enam meter dari klien di ruang terbuka dengan pencahayaan cukup terang.
  2. Pemeriksaan dimulai dengan mata kanan, mata kiri ditutup menggunakan penutup mata atau dengan telapak tangan tanpa penekanan.
  3. Demikian juga sebaliknya pada pemeriksaan mata kiri.
  4. Pemeriksaan mengacungkan jari setinggi posisi mata klien utk menghitung jumlah jari pemeriksa.
  5. Jika klien salah menghitung jari pemeriksa dua kali atau lebih dari lima kali pemeriksaan berarti klien mengalami gangguan penglihatan, segera rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *