mengelola stress
health,  Lifestyle,  moms,  self improvement

Mengelola Stress di Tengah Pandemi Covid-19, The New Normal

Hadirnya pandemic Covid-19 secara tiba-tiba merenggut banyak hal dari kita. Tak dapat dipungkiri, dampaknya melanda hampir semua aspek kehidupan, mulai dari Kesehatan, finansial hingga kondisi psikis seseorang. Banyak yang belum siap dan sulit beradaptasi dengan kondisi seperti sekarang. Mereka terlarut dalam kesedihan, ketakutan, kecemasan yang berujung pada frustasi dan stress berkepanjangan. Kasian, jika tak segera diatasi maka dampaknya akan melebar kemana-mana, keluarga, anak dan lain sebagainya.

Apakah Ibu juga merasakan hal serupa? Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, ada yang dengan sadar menyadari dan berusaha untuk menyelesaikannya. Namun, ada yang tidak sadar atau bahkan sadar namun menutupinya. Nah, ini yang perlu kita luruskan bersama supaya bisa menjalani mindful living.

Lalu apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kesulitan tanpa stress? Nah, ini yang akan saya ulas berbekal dari Kulwap bersama Insight Indonesia dengan tema “Management Stress” terutama ditegah pandemi ini.

Baca juga : 1001 Cara Bicara Kesehatan Seksual dan Reproduksi kepada Remaja

.

Mengenali Rasa Stress

Bu, stress merupakan gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar. Saat seseorang merasa stress, secara bersamaa ia juga merakan hal tak nyaman lainnya seperti ketegangan, marah, tidak bersemangat dan lain sebagainya. Wajar banget seseorang mengalami stress apalagi dengan segala macam aktifitas dan tuntutan ya. Namun, tentu saja jangan dilehara adalah poinnya. Nah, berikut ini, tips untuk mengelola stress dengan bijak, diantaranya:

pengertian stress, stress yaitu, pengertian frustasi, makna stress

1. Kenali Gejala Stress

Fyi, Insight Indonesia melalui surveynya mengatakan, 80% responden mengalami gejala stress selama masa pandemic. Dengan tingkat stress tertinggi muncul dari kelompok belum menikah sebanyak 83%, lalu kelompok single akibat perpisahan dengan pasangan (duda/janda) 82% dan terakhir yaitu kelompok menikah sebanyak 78%. Sementara tingkat stress tertinggi didominasi oleh kaum wanita dibandingkan kaum pria. Selain itu, stress kerap kali menyerang usia produktif yakni usia 26-35 tahun. Hmm, apakah kita termasuk salah satunya? Bisa jadi! Gejala stress yang muncul bisa berupa gejala fisiologis dan psikologis, seperti insomnia, sakit kepala, pegal otot, cemas, khawatir, mudah marah, selera makan meningkat/menurun.

gejala stress, ciri-ciri stress, gejala frustasi

2. Cari Tau Penyebab Stress

Seringnya dari kita, justru senang mengungkapkan rasa stress dengan hal yang tidak menyenangkan seperti marah meledak-ledak dan memaksa orang untuk menerima serta memaklumi hal tersebut,  “oh lagi stress ya, ngga apa-apa deh marah” . Padahal keliru ya!

Mestinya, kita gali kedalam diri sendiri, apa sih penyebab stress yang kita rasakan. Apakah karena pekerjaan, urusan percintaan, finansial atau lainnya. Ketika kita juga mengetahui pangkal permasalahan, biasanya kita tau bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Fokus pada solusi, bukan pada amarah. Cara ini cukup berhasil saya lakukan saat saya merasa sangat ingin marah akibat stress.

penyebab stress, waspada pemicu stress, penyebab frustasi, sumber masalah

3. Pilih Cara Meredakan Stress yang Kamu Sukai

Salah satu coach dari Insight Indonesia menyebutnya sebagai faktor moderator stress, dimana kita memilih cara yang kita sukai untuk meredakan stress. Ada tiga jenis moderator, yaitu:

  • Dispositional dipengaruhi oleh karakter, kecerdasan emosional dan coping stress.
  • Situational dipengaruhi oleh tuntutan dan dukungan lingkungan serta hubungan baik dengan orang lain.
  • Social dipengaruhi oleh kondisi dan budaya masyarakat serta kondisi makro yang baik.

Baca juga : Self- Love, Proses Mencintai Diri Sendiri melalui Sebuah Buku

.

4. Alihkan Stress dengan Bijak

Setelah stress mereda, kondisi hati dan pikiran akan jauh lebih baik tapi pasti masih ada sisa-sisa kecemasan yang jika tersulut bisa memicu stress kembali. Oleh sebab itu, langkah selanjutnya adalah alihkan stress kita kepada hal-hal baik.

Bu, pengalihan stress atau coping stress ada dua macam yaitu adaptif dan mal adaptif, berikut penjelasannya:

  • Adaptif, upaya pengalihan stress kepada hal yang lebih baik, seperti menyibukan diri, berolahraga, memasak atau melakukan hal-hal yang membawa pengaruh positif.
  • Mal Adaptif, upaya pengalihan stress yang kurang efektif bahkan cenderung membawa masalah baru, misalnya makan berlebihan, marah-marah, ngomel bahkan melakukan self-harm.

mengelola stress, stress management, tips kelola stress, bijak mengeloal stress

Nah, sampai disini, kira-kira Buibuk sudah bisa mengidentifikasi stress yang dirasakan? Apakah berujung baik atau sebaliknya? Memang tidak mudah, tapi harus dibiasakan sebab beberapa hal negative bersifat addictive. Misalnya, berteriak saat marah, jika terus dilakukan akan menjadi kebiasaan. Atau melakukan self-harm, melukai diri sendiri untuk melupakan beban hidup yang dirasakan. Sangat tidak efektif dan merugikan diri sendiri.

mengelola stress, stress management, tips kelola stress, bijak mengeloal stress

Satu hal yang selalu saya ingat bahwa perempuan memiliki kemampuan bertahan lebih tinggi daripada pria saat menghadapi kesulitan. Sekali merasa sakit, kedua masih agak sakit, ketiga tidak begitu sakit, hingga akhirnya menjadi kebal. Contoh nyata, saat kita memasak, bisa terkena cipratan minyak panas, tergores pisau dan lainnya. Pertama kali pasti kesakitan tapi karena aktifitas memasak ini dilakukan setiap hari, rasanya udah gak takut lagi dengan tantangan tersebut, “kecipratan minyak mah udah biasa”. Jadi, please, untuk kalian para wanita hebat yang sedang terluka, jangan rusak jiwa kalian. Ungkapkan, lepaskan! Kadang, stress itu akan pergi dengan sendirinya hanya dengan melakukan hal sepele, asal dilakukan dengan penuh kesadaran. Sesederhana, mendengarkan masalah dan beban hidup orang lain, membuat saya berpikir bahwa apa yang saya alami tidak seberat orang lain, itu sudah cukup membuat saya merasa lega.

Semoga bermanfaat.

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *