bonding orangtua dan remaja
Family,  health,  parenting,  relationship,  self improvement

1001 Cara Bicara Kesehatan Seksual dan Reproduksi dengan Remaja

Saat remaja, saya termasuk pemalu untuk bertanya soal seksualitas. Menganggap tabu dan malu. Sayangnya orangtua ku juga termasuk yang jarang ngobrolin soal yang begitu-begitu. Sampe sekarang ternyata masih banyak orangtua yang menutup diri dan menganggap anak-anak akan paham sendiri. Alasannya bisa karena kita khawatir obrolan tentang seksualitas dan reproduksi tersebut bisa mendorong anak untuk melakukan aktivitas seksualitas. Padahal ngga begitu, jika disampaikan secara ilmiah dan jelas, alias tidak ambigu sehingga remaja bisa memposisikan diri dengan tepat.

Padahal, ngobrolin soal kesehatan seksualitas dan reproduksi dengan remaja itu penting lho, Buk. Mereka wajib tau ada hal berharga dalam dirinya yang harus dijaga demi masa depannya. Misal untuk anak gadis, edukasi soal menstruasi. Kenapa perempuan mengalami menstruasi, bagaimana  cara menjaga kebersihan saat menstruasi, lalu apa yang terjadi jika seorang remaja telah mengalami menstruasi. Jangan sampai anak-anak terpapar mitos soal menstruasi ini yang bisa memicu penyakit berbahaya pada organ reproduksi. Remaja puteri juga harus tau, saat ia mengalami menstruasi artinya sel telur dalam rahimnya sudah matang seperti orang dewasa lainnya yang siap dibuahi dan bisa mengalami kehamilan.

1001 Cara Bicara Kesehatan Seksual dan Reproduksi dengan Remaja

Lebih dari itu, saat remaja memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis, orangtua harus mulai melakukan pendekatan. Tidak sedikit, remaja dengan masa pubertasnya memiliki hasrat yang berbeda. Sehingga orangtua harus mulai membicarakan soal kenapa sih kita bisa tertarik dengan lawan jenis, apa sih yang harus dilakukan, apa sih yang tidak boleh dilakukan, lalu kenapa remaja laki-laki mengalami mimpi basah hingga sampai pada obrolan soal masturbasi dan onani.

Lebih baik mereka mengetahui dari kita sebagai orangtua daripada dari orang lain yang menyampaikan secara keliru. Kita bisa menjelaskan secara ilmiah dibarengi dengan ilmu agama sehingga remaja tetap berjalan pada jalurnya.

Lalu bagaimana, jika orangtua tidak memiliki cukup pengetahuan tentang seksualitas dan reproduksi? Sebagai orangtua Milenial, kita bisa memperoleh banyak infomasi terpercaya dari internet, misalnya website skata.info yang menyajikan informasi lengkap dan akurat tentang kehidupan orangtua dan remaja.

Atau, kita bisa mengunjungi layanan kesehatan yang dapat memberikan informasi akurat jika dibutuhkan. Mungkin dari kita ngga banyak yang tau, sejak 2003 lalu, Kementrian Kesehatan memiliki program layanan ramah remaja yang disebut Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Ada sekitar 5000 lebih Puskesmas PKPR di seluruh Indonesia yang bisa didatangi. Layanan yang disediakan berupa layanan medis terkait Kesehatan remaja, konseling, edukasi dan pembinaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) serta pelatihan konselor sebaya di sekolah.

bonding orangtua dan remaja

Jika di daerah tempat tinggal Buibuk belum berjalan program tersebut, bisa diajukan permohonan kepada petugas keluarahan setempat adanya sosialisai dan edukasi oleh petugas Kesehatan tentang remaja untuk masyarakat yang usianya sudah memasuki masa remaja.

Oleh sebab itu, dengan adanya kepedulian orangtua dan layanan kesehatan remaja di lingkungan tempat tinggal bisa menjawab kebutuhan akan Kesehatan fisik, psikologis dan sosial remaja. Sebab tiga aspek tersebut sangat mempengaruhi masa depannya, masa dewasa hingga generasi yang dilahirkannya.

Dilansir dari lama skata.info, remaja akan mengalami tahap transisi secara fisik, emosi dan kognitif seperti berfikir, mengingat, berimajinasi dan mempelajari sesuatu. Faktor lingkungan seperti sekolah, teman hingga pelajaran sekolah sangat mempengaruhi pola pikir remaja tentang Pendidikan seks. Terlebih pada masa ini juga remaja dipengaruhi oleh kelenjar gonad yang berhubungan dengan seks sehingga hasrat seksual pada remaja merupakan alamiah namun tetap dapat dikontrol.

teenagers abusement

Sebagai orangtua kita harus tau ada banyak faktor penyebab remaja melakukan hubungan seksual sebelum menikah seperti tekanan sosial, kurang percaya diri, desakan dari pasangan atau pacar, informasi media yang tidak tersaring hingga kurangnya rasa cinta dalam keluarga sehingga mereka mencari perhatian dari orang lain.

Orangtua juga harus menyampaikan dampak dan kerugian yang ditimbulkan jika remaja melakukan hubungan seksual dini dan sebelum menikah baik secar fisik dan sosial. Remaja yang melakukan hubungan seks diluar pernikahan akan dipandang buruk oleh masyarakat hingga berdampak pada reputasi dan track record dimasa yang akan datang. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi karir seseorang. Selain itu, secara psikologis, anak tersebut dan semua anggota keluarga didalamnya akan merasa khawatir, malu, cemas dan minder saat berinteraksi dengan masyarakat.

Secara fisik, anak remaja yang memiliki organ reproduksi belum sempurna diusianya lalu mengalami kehamilan dini bisa beresiko tinggi. Hingga penularan penyakit kelamin dan HIV/AIDS.

Memang tidak mudah ya apalagi generasi kita berbeda dengan generasi anak-anak saat memasuki remaja. Tapi pengalaman kita saat remaja dulu bisa dijadikan pelajaran untuk menjaga dan mempersiapkan anak-anak nantinya.

tips supaya remaja terhindar dari konten pornografi

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua yaitu mengajarkan Pendidikan seks pada anak sejak dini. Berikan pengarahan seks sesuai dengan usianya. Kita juga bisa memberikan tontonan informatif tentang organ reproduksi dan bagaimana interaksi dengan lawan jenis. Seperti yang sudah disingguh diatas, kita juga bisa menyampaikan dampak negaitf yang ditimbulkan hubungan sesksual usia dini dan diluar pernikahan. Tak lupa, berikan pondasi pelajaran agama yang dibarengi perhatian dan kasih sayang pada anak sehingga ia merasa aman, nyaman dan keberadaannya diakui oleh orangtua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *