event,  Lifestyle

Sukseskan Program Nasional Perhutanan Sosial, Koran Tempo Pilih 9 Tokoh Hutan Sosial Untuk Lestarikan Hutan

Masih suka buang sampah sembarangan? Gak malu, dipelosok Indonesia sana, saudara kita sedang berjuang melestarikan hutan demi keseimbangan alam kita. Sementara disini, di kota yang serba terfasilitasi pemerintah, kita masih belum sadar untuk sekedar mencintai lingkungan terdekat.

Saya jadi teringat nasehat yang diucapkan oleh John F. Kennedy, Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu. Saya jadi malu sendiri, betapa selama ini kok rasanya sesak ya menyaksikan sekelompok orang yang sukanya kasak-kusuk bikin demo rusuh menuntut segala macam kesejahteraan sementara peduli negara saja belum tentu. Jika setiap orang dalam jiwanya ada rasa peduli, gak mungkin sekotor ini kota kita. Sungai yang bau dan menghitam serta sampah dimana-mana.

Siang tadi (28/12) saya mengikuti obrolan soal “Refleksi Hutan Sosial 2018” gagasan koran Tempo. Acara ini digelar secara terbuka di Arboretum, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta Pusat. Siapa pun boleh hadir dan menjadi saksi sinergitas masyarakat bersama pemerintah yang berhasil membuahkan hasil melalui program Hutan Sosial. Pernah mendengar istilah Hutan Sosial? Lalu apa manfaat nyata bagi masyarakat?

.

Mengenal Lebih Dekat Hutan Sosial

Hutan social atau social forestry adalah sebuah program nasional yang bertujuan untuk pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu: lahan, kesempatan usaha dan sumberdaya manusia.

Simpelnya, dengan program Perhutanan Sosial ini, masyarakat yang tinggal di area dekat hutan milik negara, diberikan hak dan wewenang untuk mengelola kawasan hutan tersebut selama 35 tahun.

Bagja Hidayat, Redaktur Pelaksana TEMPO sekaligus moderator siang tadi menyampaikan, program Perhutanan Sosial sudah berjalan lama namun pada prakteknya memiliki kendala. Seperti Hutan Kemasyarakatan yang sudah berjalan sejak tahun 1980. Gagasan Hutan Desa sudah lama namun perwujudannya baru terlaksana. Begitu pun Hutan Adat, bahkan masih saat ini masih diperjuangkan perwujudannya. Hutan Tanaman Rakyat belum masiv karena membutuhkan biaya yang lebih banyak. Sementara untuk Hutan Kemitraan sebenarnya baru diwadahi dalam satu payung dalam Hutan Sosial.

.

9 Tokoh Hutan Sosial Pilihan Koran Tempo

Koran Tempo sebagai media umum mengangkat tema Hutan Sosial dan memilih tokoh sosial dari seluruh penjuru Indonesia. Tujuannya yaitu selain untuk menyukseskan program pemerintah. Mereka juga turut menjadi sarana komunikasi dan menyebarkan spirit pelestarian hutan demi keseimbangan hutan dan dinamika budaya-sosial.

Ide memilih tokoh hutan pun digarap dengan serius hingga terbentuklah tim yang menelaah lebih dalam konsep pemilihan, jadwal kerja, metode seleksi, pemilihan juri, penjurian, pengarahaan tenaga verifikasi dan liputan lapangan.

Tim bersama Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan berhasil menyaring 5000 kelompok perhutanan sosial hingga akhirnya terpilih 10 nomine namun karena ada satu nomine bermasalah, akhirnya hanya terpilih 9 tokoh Hutan Sosial. Perjalanan yang luar biasa bukan?

Tak hanya itu, mereka juga mengerahkan tim pemverifikasi yang terdiri dari 10 reporter dan 10 fotografer. Tim ini berada dilokasi selama lima hari.

Pemilihan tokoh sosial pun melibatkan juri independen dan berkompeten di bidang tersebut yaitu Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Didik Suharjito; anggota Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial, Kemitraan, Suwito; Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Supriyanto; Pemimpin Redaksi koran Tempo, Budi Setyarso; serta Redaktur Pelaksana Investigasi Majalah Tempo, Bagja Hidayat.

Ada 3 hal yang mendasari koran Tempo mencetuskan ide pemilihan tokoh Hutan Sosial, diantaranya:
1. Kepahlawanan
Ada puluhan juta orang hidup di sekitar area hutan dan cenderung hidup dalam kemiskinan. Setiap harinya, mereka cenderung bergantung hidup pada hutan seperti menebang hutan untuk bertahan hidup. Jika dibiarkan maka hutan akan habis oleh masyarakat-nya sendiri.

Tokoh hutan pilihan koran Tempo inilah yang sadar terlebih dahulu dan bertindak baik serta melakukan aktifitas lain selain bergantung pada hutan. Contohnya, kelompok perhutanan di area Kalibiru, Yogyakarta, yang digerakan oleh para pemuda. Mereka menjadikan area tersebut sebagai objek wisata yang tentu saja dapat membantu kesejahteraan perekonomian mereka.

Budi Setyarso, Pemimpin Redaksi Koran TEMPO menyampaikan, dulu masyarakat di Jawa Timur bertahan hidup dengan menebang pohon secara liar. Padahal yang diuntungkan bukan masyarakat tetapi pemilik modal yang menampung pohon hasil curian. Kemudian, muncul kesadaran dari masyarakat untuk melestarikan hutan. Tak Hanya menanam pohon namun menggunakan huutan secara produktif dan terukur. Bahkan, mereka juga turut memberantas penebangan liar lainnya.

2. Konsistensi
Menjadi bagaian dari kelompok masyarakat yang peduli hutan tentu saja tak mudah. Butuh konsistensi untuk terus berjuang hingga membuahkan hasil. Oleh sebab itu lah, salah satu kriteria tokoh sosial pilihan koran Tempo yakni sudah berjalan pada perhutanan sosial minimal selama 5 tahun.

Dikutip dari koran Tempo (17/12) aspek penilaian lainnya meliputi memiliki sertifikat perhutanan social, inovatif, berkelanjutan, menggerakan komunitas.

3. Kolaborasi
Suatu kerjasama yang dilakukan antar kelompok, Pemerintah Daerah dan lembaga lainnya untuk melestarikan Hutan Sosial.

Budi Setyarso, Pemimpin Redaksi Koran TEMPO menambahkan, terpilihnya 9 tokoh Hutan Sosial diharapkan dapat melanjutkan program Hutan Sosialnya tersebut. Ini bukan soal kemenangan, justru 9 tokoh ini harus menjadi contoh bagi kelompok Hutan Sosial lainnya yang masih merintis.

Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan RI, Ibu Siti Nurbaya menyapa 9 tokoh hutan masyarakat dan berfoto bersama. Mereka yang terpilih sebagai tokoh Hutan Sosial berasal dari:

  • 4 hutan kemasyarakatan : HKm Kalibiru, Yogyakarta; HKm Air Berik, NTB; HKm Sumber Jaya, Lampung; HKm Lubuk Kertang, Sumatera Utara.
  • 2 hutan desa : Hutan Desa Bentang Pesisir, Kalimantan Barat; Hutan Desa Jorong Simacuang , Sumatera Barat.
  • 2 hutan adat : Hutan Adat Segumon, Kalimantan Barat; Hutan Adat Marena, Sulawesi Selatan.
  • 1 hutan kemitraan (Hutan Kemitraan Lembaga masyarakat desa hutan Wono Lestari, Jawa Timur.

.

Jenis-Jenis Hutan Sosial

  1. Hutan Desa (HD) dimana hak pengelolaan hutan negara diberikan kepada lembaga desa untuk kesejateraan desa.
  2. Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan pengelolaan hutan negara dengan tujuan utamanya yakni untuk meberdayakan masyarakat setempat.
  3. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dijalankan oleh kelompok masyarakat untuk mengelola hutan tanaman pada hutan produksi untuk kelestarian sumber daya hutan.
  4. Hutan Adat (HA) yakni pengelolaan hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat hutan adat.
  5. Hutan Kemitraan merupakan adanya kerjasama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang Izin Usaha Pemanfaatam hutan, jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan atau pemegang izin usaha industri hasil hutan.

Hak pengelolaan ini benar-benar harus dikelola karena akan dipantau oleh negara. Hutan Sosial harus ditanami tanaman hutan. Boleh dengan pola tumpang sari, hutan dengan ternak, hutan dengan ikan dan pola lainnya. Jika tidk dikelola dengan baik, maka hak pengelolaan tersebut bisa dicabut pemerintah.

Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK memaparkan, berbeda dengan tahun 2007, sejak tahun 2015 pemerintah tak hanya memebrikan akses lahan yang luas namun diikuti dengan akses untuk pemodalan dan pasar bagi masyarakat.

Beliau menambahkan, jika dilihat dari progressnya, periode tahun 2015-2018, selama 4 tahun naik sekitar 2,48 juta hekatre atau sebesar 450% dibandingkan periode sebelumnya (2007-2014) yang hanya mencapai 0,4 juta hektare dalam kurun waktu 7 tahun.

Hal tersebut disebabkan karena adanya inovasi dan berkolaborasi bersama dengan banyak pihak. Target pemerintah untuk mengalokasikan 12,7 juta hektare dari kelima Hutan Sosial pun sudah terlaksana.

Untuk kita yang tinggal di kota besar, mungkin tidak akan merasakan mengelola hutan seperti kesembilan tokoh Hutan Sosial diatas. Namun, bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi. Mari kita cintai lingkungan sosial dengan cara lain. Saling menjaga alam dan bertetangga dengan baik. Tidak menggunakan produk yang berkaitan dengan pohon secara berlebihan seperti kertas, tissue dan produk lainnya.

18 Comments

  • Laily

    Menjaga kelestarian lingkungan penting nih, salah satunya adalah dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Memang terlihat sepele tapi mempunyai dampak yang besar bagi lingkungan kita.

  • CatatanRia

    Bener mba mencintai lingkungan bisa dari mulai hal yang sederhana atau sehari-hari. Saya juga sudah mulai mencoba mengurangi pemakaian kertas, kalau tissu memang jarang pakai.

  • Atika dian Pitaloka

    Perlu peran dari kita semua mengurangi tisue, kertas dan bahan lain yg diambil dari hutan. Kantor2 juga harus ikut serta meminimalisir penggunaan kertas dengan memanfaatkan email. Jadi kegiatan cetak mencetak alias ngeprint bisa berkurang.

  • Bunda Erysha (yenisovia.com)

    Wah jujur aku juga baru tahu soal hutan sosial ini Bun. Semoga program pemerintah ini bisa dilancarkan ya demi kemakmuran bersama dan semoga orang-orang nggak seenaknya lagi menebang pohon dan buang sampah sembarangan. Karena bener-bener ngerusak lingkungan

  • Visya

    Wah ada yaa namanya hutan sosial. Tapi bagus menurutku, ternyata ga hanya penduduk tepi pantai yg doperhatikan, penduduk sekitar hutan pun jd perhatian pemerintah

  • ajeng pujianti lestari

    Ganti tisu dengan lap kain, bukankah itu yang dilakukan nenek moyang kita dulu? Berusaha ngurangin sampah plastik, ke pasar bawa wadah sendiri, beli sate bawa wadah sendiri. kalau bisa memilah-milah sampah plastik dan rumah tangga.

    atau yang paling minimal banget : buang sampah di tempatnya

  • Dian Restu Agustina

    Wah dari 5000 bisa disaring jadi 9 tokoh hutan sosial saja. Salut untuk mereka!
    Setuju setidaknya kontribusi kecil kita untuk ikut menjaga hutan tentu akan berpengaruh pada keselamatan lingkungan jika terus dilakukan.
    Dan salut untuk kegiatan pemberian apresiasi dari Tempo dan Kementerian LH&Kehutanan RI pada mereka yang telah berkontribusi langsung pada kelestarian hutan ini.
    Semoga dengan kegiatan seperti ini makin banyak tersosialisasikan pentingnya kepedulian akan lingkungan dan hutan.

  • April Hamsa

    Terus terang aku baru tahu istilah hutan sosial ini mbak. Alhamdulillah ya pengembangan utk area hutan mengalami peningkatan. Iyes kita emag gk bisa berkontribusi kyk tokoh2 di atas tapi minimal ya jaga lingkungan, plus kalau bisa di rumah masing2 kita tanami dengan pohon2

  • Yoanna Fayza

    Senang ya kalau tahu masih banyak orang yang mau benar2 peduli dengan kelestarian alam, semoga apresiasi dan penghargaan dari Tempo dan Kementerian LH & Kehutanan RI ini bisa jadi penyemangat buat banyak aktivis lingkungan hidup lainnya 🙂

  • natra rahmani salim

    cici, baca artikel ini aku jadi tau ilmu baru soal hutan. jujur aku sudah pernah mengunjungi hutan di langkat yang emang masuk jajaran hutan terlindungi. bahwa emang hutan harus dijaga karena dengan pembangunan yang pesat terkadang itu hars dikorbankan. hiks.

  • Hani

    Semoga ada lebih acara atau penghargaan seperti ini, supaya makin banyak orang terpacu untuk berbuat lebih. Dan semoga hadiahnya di berikan lebih banyak. Hihi. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *