stop pembakaran lahan gambut
event,  feature

Ngobrol Tempo: Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut 2020, Jaga Lahan Gambut Agar Menjadi Berkah Bukan Menjadi Musibah

Untuk saya yang tinggal dan besar di perkotaan, belum cukup familiar dengan permasalahan lahan gambut di Indonesia. Saat mendengar kata gambut, saya langsung teringat dengan kasus kebakaran terbesar di Indonesia tahun 2015 yang ramai diperbincangkan hingga manca negara.

Beruntung Rabu lalu, saya hadir pada acara Ngobrol Tempo yang bertajuk “Bagaimana Antisipasi Indonesia di Lahan Gambut tahun 2020”. Hadir pula narasumber dan pakar, diantaranya:

  • Kepala badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead.
  • Guru Besar Kehutanan IPB, Prof. Bambang hero Saharjo.
  • Koordinator Nasional Pantau Gambut, Iola Abbs.
  • Perwakilan Petani Kalteng, Theti N.A.

Tahun 2019 disebut sebagai tahun terpanas kedua sepanjang sejarah. Terbukti dengan sedikitnya curah hujan serta keringnya sumber mata air tahun lalu. Hal ini juga berdampak pada lahan gambut yang mengalami pengeringan ekstrem. Apa sih sebenarnya gambut? Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah terhadap masalah kenakaran lahan gambut?

stop pembakaran lahan gambut

Apa itu gambut?

Gambut merupakan jenis tanah yang letaknya sangat dalam. Gambut terbentuk akibat adanya timbunan pembusukan bahan organic selama ribuan tahun terdiri dari sisa-sisa hewan, rumput, pohon dan lainnya.

Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang memiliki lahan gambut luas yaitu sekitar 14,9 juta hectare. Disebutkan oleh kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, kedalaman gambut di Indonesia bisa mencapai 20-30 meter. Gambut bisa ditemukan diarea genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai dan pesisir.

Di tujuh provinsi ada 12,9 juta ha, setengahnya sudah terbuka dan dikeringkan. Sisanya harus kita jaga bersama dan harus dipulihkan kembali. Pemerintah menargetkan  2,5 juta ha hingga tahun 2020.

tanah gambut, lahan gambut, ladang gambut
src. pantau gambut

.Apa manfaat gambut?

Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui dampak negative dari gambut akibat adanya kebakaran lahan gambut. Padahal hakekarnya gambut memiliki manfaat yang luar biasa bagi ekosistem.

Guru Besar Kehutanan IPB, Prof. Bambang hero Saharjo menyebutkan, gambut menyimpan banyak karbon artinya dengan menjaga lahan gambut agar tetap terawat sangat penting untuk mitigasi perubahan iklim.

Gambut mencegah terjadinya banjir dan kemarau. Perlu kita ketahui bersama, saat musim hujan datang, tanah gambut mampu menyerap banyak air dan menyimpannya sebagai cadangan air. Sehingga mampu mencegah banjir. Sementara, saat musim kemarau gambut akan melepaskan kandungan airnya secara perlahan.

Gambut juga menjadi habitat perlindungan keanekaragaman hayati. Tempat dimana hewan dan tumbuhan bisa tumbuh. Yang pada akhirnya bermanfaat untuk perekonomian masyarakat yang tinggal di dekat area tersebut.

Namun, lantaran gambut mengandung dua kali lebih banyak karbon dibandingkan hutan lainnya, maka saat gambut terganggu, misalnya dikeringkan secara berlebihan, karbon yang tersimpan akanterlepas ke udara dan menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca. Sudah terjadi? Dapat kita rasakan bersama perubahan iklim saat ini seperti apa. Panas berkepanjangan, musim hujan tiba malah datang dengan curah tinggi dalam satu waktu.

Gambut, Pahlawan pencegah perubahan iklim, bencana alam, dan penunjang perekonomian masyarakat. Gambut menyimpan sekitar 30% karbon dunia. Menjaga lahan gambut = menjaga iklim dunia.

Ada satu fakta yang membuat saya kaget! Lahan gambut di dunia itu ngga luas loh, hanya 3% dari luas daratan. Tapi, kemampuannya dalam menyerap karbon begitu besar. Disebutkan pada analisis WRI, mengeringkan satu hektar lahan gambut sama dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin. Bayangkan! Mau diam saja kah kita dengan pihak tak bertanggung jawab yang sengaja membakar lahan gambut?

.

Apa yang terjadi saat kebakaran gambut?

Disebutkan oleh Koordinator Nasional Pantau Gambut, Iola Abbs, gambut kering sangat mudah terbakar hingga lapisan dalam gambut. Meskipun api di permukaan sudah padam, belum tentu di lapisna dalam juga padam lho. Lantaran gambut tidak berisi tanah padat sehingga api akan mudah menyebar bahkan bertahan hingga berbulan-bulan.

Saat kebakaran gambut terjadi, bukan Cuma karbon dioksida saja yang dikeluarkan, tapi juga metana. Metana adalah jenis gas rumah kaca yang lebih berbahaya daripada karbon dioksida. That’s why, kebakaran lahan gambut menjadi musibah bersama sebab merugikan negara dan masyarakat hingga menelan korban jiwa.

.

Apa yang sudah ditempuh Pemerintah untuk mengatasi permasalahan gambut?

Indonesia memiliki 14,9 juta ha luas gambut. Di tujuh provinsi ada 12,9 juta ha, setengahnya sudah terbuka dan dikeringkan. Sisanya harus kita jaga bersama dan harus dipulihkan kembali. Pemerintah menargetkan  2,5 juta ha hingga tahun 2020.

Badan Restorasi Gambut (BRG) bertugas mengatur dan memfasilitasi restorasi 2 juta hektar lahan gambut di tujuh Provinsi diantaranya Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua dalam lima tahun.

selamatkan lahan gambut 2020

.

Restorasi Lahan Gambut

Pemerintah lakukan restorasi atau pemulihan lahan gambut dengan melalui beberapa tahap:

  1. Memetakan gambut. Ini adalah langkah pertama dan krusial yang ditempuh untuk mengenali jenis gambut yang akan dipulihkan, sebab beda jenis gambut beda juga penangannya. Berikutnya yaitu menentukan jenis restorasi, pelaku restorasi dan rentang waktu pelaksanaan.
  1. Membasahi gambut atau wetting. Proses ini perlu dilakukan untuk mengembalikan kelembapan gambut. Sudah tau kan dampaknya jika gambut terlalu kering. Disampaikan oleh Kepala badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead. Pembasahaan gambut dilakukan dengan membangun sekat kanal, penimbunan saluran, sumur bor, dan atau penahan air dengan tujuan untukmenyimpan air di sungai atau kanal.
  1. Bercocok tanam di lahan gambut atau revetegasi. Lahan gambut yang sudah lembab bisa ditanami kembali dengan tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut. Tanaman yang bisa ditanam seperti kopi, nanas, kelapa, meranti, jelutong, pulau rawam ramin dan gaharu.
  1. Memberdayakan ekonomi masyarakat local atau revitalisasi. Pada acara Ngobrol Tempo, hadir juga ibu Theti, petani dari Kalimantan Tengah yang telah mendapatkan pelatihan dari Badan Restorasi Gambut untuk membuat demplot. Ibu Theti kemudian menularkan ilmu yang ia dapatkan ke masyarakat desa Mantangai Hilir untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan bercocok tanam seperti aneka sayuran dan buah-buahan. Siapa sangka perjuangan mereka membuahkan hasil, revitalisasi yang diterapkan pemerintah membantu perekonomian masyarakat. Ibu-ibu desa Mantangai Hilir mendapatkan uang tambahan dengan menjual hasil panennya.

restorasi lahan gambut

.

Kesimpulan

Belajar dari Ibu Theti, beliau sungguh bersemangat mengajak masyarakat di desa Mantangai Hilir untuk STOP PEMBAKARAN di lahan sisa panen. Sebaliknya, Ibu Theti mengolah lahan tersebut seperti membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga. Sudah saatnya, kita menjaga lahan gambut bersama.

14 Comments

  • Mugniar

    Iya benar, tahun 2019 panas banget. Seingat saya, sepanjang saya hidup, itulah tahun terpanas mengingat saya tinggal di kota yang iklimnya relatif panas dan kami memang tak menggunakan AC. Kalo keringatan itu sampe masuk ke mata saking derasnya, baru kali itu lho mata saya berkali-kali kemasukan keringat, perih rasanya 😀

    Acaranya ini edukatif banget, yang hadir para ahli pengetahuan gambut. Sangat bermanfaat. Saya jadi tahu banyak hal mengenai gambut. Di antaranya bahwa Indonesia merupakan negara ke-4 di dunia yang terluas lahan gambutnya. Semoga kesadaran masyarakat Indonesia semakin tinggi ya dalam melestarikan gambut yang ada dan dalam membantu restorasi lahan gambut.

    • Yuni

      Terimakasih informasinya yang informatif mbak…. ternyata gambut mempunyai banyak manfaat. Dan sebagai makhluk yang hidup di bumi sudah seharusnya kita membantu memelihara alam tetap bersih dan bebas polusi. Jangan sampai menjadi penyebab kebakaran hutan atau musnahnya sebuah populasi.

    • Linimasaade

      Sip mbak asal jangan bakar sembarangan yah gambut juga tidak selamanya merugikan banyak manfaatnya ternyata. Semoga dengan adanya sosialisasi ini warga menjadi sadar akan keselamatan dan kesehatan.

  • Keke Naima

    Sejak dulu juga saya elalu meyakini kalau lahan gambut pasti bermanfaat. Tetapi, harapan saya agar segala permasalahan tentang gambut juga semakin teratasi. Suka kasihan dengan banyak masyarakat di sana kalau lahan gambut sedang terbakar

  • Bibi Titi Teliti

    Tahun 2019 menurutku musim kemarau yang lumayan parah sih.
    Aku aja yang tinggal di Bandung berasanya gerah banget dan baru kali ini gak ada air di komplek rumahku lho.
    Pompa nyala tapi gak ada air yang keluar, Bandung lho ini. Parah lah.

    Semoga gambut bisa menjadi salah satu solusi yah

  • Elly Nurul

    Edukasi tentang pemanfaatan lahan gambut tampa membakar sudah berhasil di desanya Ibu Theti ya.. aku sangat berharap juga edukasi seperti ini bisa terus menerus berkelajutan, agar masyarakat desa sekitar gambut, tidak lagi membakar lahan untuk bercocok tanam tapi bisa dengan dengan cara lain yang tidak merugikan banyak orang ya

  • Nia K. Haryanto

    Ngomongin lahan gambut pasti tak bisa lepas dari kejadian yang akhir-akhir ini terjadi. Kebakaran, atau lebih tepatnya pembakaran lahan gambut untuk pembukaan lahan. Baik untuk industri atau pun perumahan. Bikin sedih ya, padahal lahan gambut ini punya fungsi ekologi yang sangat penting. Semoga ya, acara-acara seperti ini bisa membuka mata banyak orang agar bisa menjaga kelestarian lahan gambut, sebelum membuat kita terkena musibah yang lebih parah.

  • Lina W. Sasmita

    Iya bagi saya lahan gambut itu malah nggak familiar karena tidak pernah berada di lingkungan seperti itu. Tapi ternyata lahan gambut ini banyak sekali manfaatnya. Kemarin nonton di televisi ada yang panen semangka sampai bebeberapa perahu penuh dan petaninya menanam di lahan gambut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *