pertimbangan sebelum resign, kenapa harus resign kerja, menjadi ibu rumah tangga
Family,  financial,  moms

4 Pertimbangan Sebelum Resign dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

4 pertimbangan sebelum resign. Saya, dan mungkin banyak Ibu di luar sana, yang saat masih sendiri merupakan sosok wanita tangguh dan mandiri. Yang senang sedang banyak kesibukan dan upgrade kecakapan hidup demi masa depan yang lebih baik. Mulai dari menempuh pendidikan di Universitas hingga meniti karir. Namun, saya tidak pernah membayangkan akan menjadi ibu rumah tangga.

Sebelum menikah, saya sudah membuat kesepakatan dengan pasangan, saya ingin tetap berkarir! Saya ngga bisa tinggal di rumah setiap hari dan hanya melakukan pekerjaan rumah yang itu-itu saja, akan sangat membosankan, pikir saya saat itu. Namun, setelah menikah, lalu dikaruniai seorang anak, semua berubah total. Prinsip yang saya pegang teguh saat masih single, saya tunda sejenak demi anak. Ya, terus terang saya ngga siap juga untuk resign tapi ada banyak ketakutan dalam lubuk hati terdalam. Jadi sebelum resign dari pekerjaan, saya harus melakukan persiapan sebelum berhenti bekerja.

pertimbangan sebelum resign, kenapa harus resign kerja, menjadi ibu rumah tangga

.

Cemas dengan kondisi finansial

Siapa sih yang ingin hidup kekurangan? Ngga ada kan ya, apalagi bagi wanita pekerja yang biasanya leluasa mengelola uang sendiri, lalu saat sudah tidak bekerja artinya tidak ada lagi penghasilan rutin. Saya takut serba kekurangan, apalagi saya dan suami masih merintis rumah tangga, pernikahan kami baru berusia dua tahun.  Masih sering berantem dan sama-sama terjebak dengan kepentingan diri sendiri .

Kadang suami-isteri bekerja aja masih minus budget savingnya, apalagi nanti kalau cuma suami saja yang bekerja? Otak saya isinya hanya duniawi saja, saya melupakan campur tangan Allah swt. Hingga pada suatu hari, saya diingatkan oleh salah satu teman, isinya kurang lebih seperti ini:

“1+1 = 2, 1-1=0, ini menurut hitungan manusia namun tidak menurut hitungan Allah swt Sang Maha Kaya, apalagi ketika niat kita tulus dan ikhlas menjalankan perintah agama menjalankan fitrah sebagai perempuan dan kewajiban sebagai seorang ibu dan isteri.”

Jujur, kalimat itu terngiang-ngiang terus di kepala saya, hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajukan resign dengan segala kecemasan saya. Tentu saja tidak mudah, godaan dan nasehat yang bertolak belakang berdatangan dari banyak pihak.

Mau apa di rumah?
Bosan kamu di rumah mulu. cepet tua nanti, enakan kerja bisa happy, bisa ketemu banyak orang.

Sayang banget, masih muda udah di rumah aja.

Dan masih banyak godaan lainnya. Saya hanya berdoa, jika Allah izinkan saya di rumah, maka mudahkan lah proses resign ini, jika Allah mengizinkan untuk membantu suami bekerja, maka tetapkan hati saya untuk bertahan disini. Intinya saya sudah berserah diri. Buibuk tau rasanya seperti apa? Ploooongg, ngga ada beban, ngga ada kecemasan lagi. Lilahita ‘ala. Sampai akhirnya saya resign.

Takut Jauh dengan Anak

Salah satu pertimbangan saya ingin stay di rumah yaitu takut kehilangan moment bersama si kecil. Saya takut si kecil lebih dekat dengan orang lain daripada dengan saya, ibunya sendiri. Meskipun yang momong si kecil masih kakak kandung saya sendiri namun tetap rasa khawatir itu muncul. Terlebih, sebagai orangtua kita pasti tau ya mana yang terbaik untuk anak, mulai dari pola pengasuhan, cara bicara hingga aturan lain di rumah. Sementara, setiap beda orang akan beda karakter. Beda keluarga akan berbeda juga aturannya, sementara double pengasuhan itu ngga baik, akan membuat anak ambigu dan tidak punya pijakan.

.

Pertimbangan Sebelum Resign dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Berangkat dari rasa cemas yang saya rasakan akhirnya saya pun memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Namun, tidak sepenuhnya IRT, saya tetap bisa mengambil pekerjaan sebagai Freelancer. Bukan sekedar materi namun untuk menjaga produktifitas supaya tidak jenuh di rumah.

Nah, tujuan saya sharing kali ini supaya Buibuk juga memahami bahwa keputusan resign bukanlah keputusan mutlak bagi wanita yang sudah berumah tangga. Kita harus punya persiapan dan tau konsekuensinya saat sudah berada di rumah. Karena setelah resign dan stay di rumah, beberpa dari kita banyak yang sulit untuk bergabung dan bekerja kembali. Apalagi jika sudah tahunan di rumah tanpa produktivitas untuk menunjang skill, akan sulit sekali kembali bekerja pada posisi sebelumnya.

Jadi, apa yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan resign dan menjadi ibu rumah tangga supaya tidak salah mengambil keputusan dan tidak menjerumuskan? Berikut ini adalah 4 pertimbangan sebelum ibu memutuskan resign:

1. Luruskan niat

Segala sesuatu tergantung niatnya. Kalau niatnya semata-mata karena patuh pada perintah Allah swt, menjalankan fitrah sebagai perempuan, Insya Allah akan terwujud rencana baik untuk kehidupan kita. Sementara, jika kita memutuskan untuk tetap bekerja tapi niatnya hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan diri sendiri, beli baju baru tiap minggu, beli barang branded, nongkrong di Mall atau coffee shop kekinian, ya uang yang didapat rasanya akan habis kesitu-situ aja.

Tujuan bekerja itu fitrahnya mencari keberkahan, jika sudah berkah Insya Allah akan bermanfaat, baik untuk kebutuhan diri sendiri bahkan orang lain, bisa berbagi misalnya. Tapi, saat bekerja tujuannya hanya mencari uang, ya sudah saat sudah menerima uang, ngga ada kenikmatan lain. Habis pada saat itu juga.

.

2. Persiapkan bekal

Sebelum resign, saya sudah merencanakan apa yang akan dilakukan nanti. Sepakat, saya akan menghidupkan kembali blog. Saat masih bekerja, saya aktif mengikuti kelas blogging dan digital marketing berbayar. Setiap weekend, saya dan suami hunting informasi. Tak hanya itu, One Day One Post juga saya kejar selama setahun untuk mengisi konten blog. Di jam istirahat, saya memilih makan siang di kantor dan lanjut menulis artikel.

Tak hanya itu, saya pun merintis jualan online. Setiap dua minggu saya survey barang untuk dijual kembali. Ya, namanya dagang ada untung-rugi, apalagi untuk pemula seperti saya. Dan, jualan online itu ngga gampang ya. Ngga yang kita posting terus langsung ada yang beli. Jadi, jangan langsung membayangkan yang indahnya saja. Karena perjuangannya sangat perih. Semua saya lakukan, demi bisa stay di rumah bersama si kecil.

Intinya, please persiapkan bekal terlebih dahulu sebelum memutuskan resign, baik bekal finasial seperti tabungan maupun skill di bidang lain. Ini penting banget, jangan sampai Buibuk menyesal resign padahal baru sebulan di rumah. Ujung-ujungnya menyalahkan kehadiran anak.

.

3. Hitung sisa cicilan

Ini penting! Kalau bisa cicilan dilunasi dulu sebelum resign. Apalagi yang bersifat konsumtif. Meskipun bekerja freelance namun pendapatannya kan ngga pasti ya, jadi saya lebih menyarankan untuk melunasi cicilan daripada pusing di tengah jalan. Gimana kalau utangnya dalam jumlah besar? KPR misalnya?

Tetap perhitungkan, berapa tahun lagi, flat sekian tahun atau tidak. Saat menikah saya memutuskan untuk membeli mobil baru dengan tenor 4 tahun. Namun, ketika saya mengetahui “hamil”, saya langsung menyiapkan semua hal untuk berbagai kemungkinan, seperti misalnya pilihan untuk berhenti bekerja. So, saya harus lunasi cicilan mobil dulu. Stop penggunaan kartu kredit dan tidak menambah cicilan lain dalam jumlah kecil sekalipun.

Akhirnya, semua pendapatan saya dan suami difokuskan untuk melunasi cicilan mobil yang baru dicicil 15 bulan. Kami pun mencari pendapatan tambahan karena harus menyiapkan dana persalinan juga. Alhamdulilah, dengan bantuan Allah swt rasanya dimudahkan banget mengumpulkan uang untuk pelunasan sekaligus proses persalinan. Tiada daya dan upaya tanpa bantuan Allah swt. Kami diberikan kesehatan, saya pun tetap bisa kesana kemari bahkan saat hamil besar. Dan, Alhamdulilah semua cicilan selesai sebelum saya resign, kurang lebih hanya 6 bulan prosesnya.

.

4. Tentukan tujuan keuangan rumah tangga

Berikutnya yaitu menentukan tujuan keuangan rumah tangga. Mulai dari biaya hidup, tabungan, sedekah hingga target yang harus tercapai dalam waktu dekat atau lama. Saya pun mulai belajar tentang finansial rumah tangga, rumus sederhana yang saya pakai adalah:

  • Zakat atau sosial 5%
    Biaya hidup 30%
    Cicilan 30%
    Dana Darurat & Asuransi 10%
    Gaya hidup 10%
    Investasi 15%

Namun ada beberapa poin yang saya ubah, yaitu biaya hidup tanpa cicilan jadi jumlahnya saya gabung menjadi 50-60%. Jika ada lebih, saya akan tabung. Lalu, untuk dana asuransi pun saya tabung karena masih mengandalkan asuransi BPJS dan perusahaan tempat suami bekerja. Untuk dana gaya hidup atau entertain pun saya kurangi, dananya saya alihkan untuk tabungan.

Baca juga : Bijak Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Kok nabung terus? Kadang saya ngiler saat melihat teman-teman atau sodara bisa jalan-jalan kesana kemari. Atau beli smartphone baru misalnya. Tapi saya punya tujuan yang harus tercapai sebelum berusia 30 tahun yaitu memiliki rumah sendiri. Saat itu, saya memilih untuk mengontrak daripada tinggal bersama orangtua. Benar-benar belajar sendiri dan jadi lebih matang soal perhitungan keuangan. Jadi tau, kebutuhan beras tiap bulan berapa kilo, isi gas, galon, harga sayur dan lauk sehari-hari.

.

Apakah Resign pilihan terbaik?

Dan, saya pun meminta ijin kepada suami untuk membantu bekerja di rumah. Semua penghasilan yang saya dapatkan murni untuk tabungan rumah. Semua memang niatnya untuk memenuhi kebutuhan bersama. Dan, Allah Maha Baik, setelah berhenti bekerja, semua ketakutan saya tidak terbukti. Alhamdulilah semua berjalan lancar dan baik bahkan kami masih bisa pergi liburan bersama orangtua. Semua benar-benar diluar perkiraan.

Dua tahun bekerja di rumah, Alhamdulilah tabungan rumah pun terkumpul dan bisa terlaksana memiliki rumah sendiri sebelum berusia 30 tahun. Kenapa harus under 30 yo? Karena saya menghitung, saat saya berusia 30 tahun, anak saya oun sudah mulai sekolah, artinya akan ada kebutuhan wajib dan rutin setiap bulannya. Budget saving untuk membeli rumah akan semakin terbagi.

Semua yang saya ceritakan diatas, benar-benar apa yang saya alami. Semoga bisa diambil hikmahnya bahwa berhenti bekerja bukanlah keputusan mutlak. Jika suami mengijinkan dan memang butuh untuk menopang hidup, boleh saja dilanjutkan. Sementara, jika suami masih menyanggupi menafkahi, sebagai perempuan kita bisa concern dengan kewajiban kita terlebih dahulu, barulah melanjutkan passion atau hobi kita salah satunya yaitu dengan resign dari pekerjan. Berkahnya tiada tara.

 

 

Baca juga : Tips Sukses Atur Keuangan Bagi Freelancer

pertimbangan sebelum resign, pertimbangan sebelum resign, pertimbangan sebelum resign, pertimbangan sebelum resign

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *