Beauty,  Lifestyle

Revolusi Teknologi Tes DNA Bantu Deteksi Jenis dan Kebutuhan Kulit

Teknologi tes DNA, kalau mendengar istilah ini jadi ingat apa Moms? Jadi inget kisah di film detektif, untuk mengetahui identitas seseorang yang menjadi korban dalam suatu musibah, bisa dilakukan tes DNA. Serem ya?

Tapi tenang, kali ini saya gak akan bahas soal itu kok melainkan soal teknologi tes DNA yang lagi booming dibicarakan oleh para beauty enthusiast. Nah, kalau udah denger beauty-beaty gitu biasanya makin kenceng rasa penasarannya. Yuk, kita gelar tikar curhat serba-serbi skincare dan kecantikan juga kaitannya sama revolusi teknologi tes DNA.

Jadi minggu lalu, saya ikut hanyut dalam obrolan teman-teman sekantor yang lagi ngebahas produk skincare asal Jepang dan Korea. Siapa sih yang gak tertarik buat nyoba skincare, sebutlah Serum atau Essence keluaran merek ternama, apalagi yang nge-review juga wajahnya sehat, putih dan glowing. Makin tertarik untuk beli dan nyoba pakai kan? Tapi ternyata permasalahan wanita itu sama, belum puas dengan produk yang dipakai sekarang jadi sering nyoba produk ini itu. So long journey dan banyak banget kegalauan yang saya alami selama pilih dan coba skincare.

1. Pengalaman Trial Error Pakai Skincare yang Cocok

Saya termasuk yang telat menyadari pentingnya skincare step by step secara paripurna. Hingga saat ini, saya masih sering trial error produk skincare. Mencari yang benar-benar cocok dan progressnya bagus untuk wajah saya. Jadi, selama tiga tahun sering bongkar pasang skincare, kadang serumnya pakai brand A, moisturizernya pakai krim B. Alasannya karena, ada produk yang sama sekali gak cocok sampai breakout, muncul jerawat, bruntusan bahkan wajah jadi kering dan perih banget (rasanya kaya baru pulang kemah 7 hari). Ada juga produk skincare yang gak bikin breakout tapi juga gak ada progress apapun. Just so so.

2. Menghabiskan Biaya yang tidak sedikit (Cost)

Jika skincare yang dipakai cocok, saya menunggu progressnya 3-6 bulan. Tergantung klaim produk tersebut, apakah untuk menghilangkan acne spot, mencerahkan hingga menghilangkan jerawat meradang pada wajah. Jika dalam waktu 6 bulan tidak ada iritasi dan breakout pada wajah namun tidak menunjukan hasil seperti yang diklaim produk tersebut, pasti saya ganti dan mencari produk lain.

Jika pada 2-3 kali pemakaian ternyata muncul iritasi dan gejala penolakan pada kulit wajah, sudah pasti langsung saya stop pemakaian. Meskipun produk tersebut masih banyak. Sayang sih sebenarnya, uang loh itu. Apalagi untuk ibu rumah tangga seperti saya, yang semuanya sudah di pos-poskan sesuai dengan kebutuhan setiap bulan, harus mikir lagi deh buat beli skincare baru. Tapi daripada risiko wajah jadi bermasalah, ya kan?

3. Tidak Punya Banyak Waktu (Spent Time)

Kalau dihitung, trial error memilih produk skincare, cukuplah buat lunasin mobil baru jaman sekarang. Tapi hasilnya belum seperti yang saya inginkan. Ditambah ada faktor lain seperti sinar matahari dan polusi yang juga turut mempengaruhi kondisi kulit wajah kita. Jadi, tetap ada masalah kulit wajah yang belum bisa diatasi oleh skincare yang saya pakai. Saya pun mengandalkan treatment di Klinik Kecantikan juga.

Nah, saya juga termasuk yang selektif memilih Klinik Kecantikan. Tak apa lah jaraknya jauh dari rumah yang penting jelas servicenya. Masalahnya adalah saya gak punya banyak waktu untuk melakukan perawatan wajah di Klinik Kecantikan. Selain bekerja, kalau weekend saya juga gak bisa ninggalin si kecil di rumah.

Jadi produk skincare yang saya gunakan saat ini sebenarnya memang belum memenuhi apa yang saya inginkan. Masalah wajah seperti oily too much, komedo, jerawat dan kusam masih sering menghampiri. Kok masih dipakai? Ya untuk perlindungan dong pastinya. Masih pakai skincare aja masalah kulit wajah belum tuntas, apalagi gak pakai kan? Jadi tetep trial error dan spend time and cost ini melekat sampe sekarang.

Dari banyak keluhan yang saya tulis diatas, bukan karena produknya yang gak bagus tapi saya sendiri memang belum tau kondisi kulit saya dengan pasti. Bisa aja kan produk tersebut cocok di oranglain tapi ngga pada kulit saya. Rasanya seperti berminyak tapi pas dicek ternyata tergolong kering. Jadi bingung juga kan, kira-kira pilih skincare untuk jenis kulit berminyak, kering atau yang mana.

Dan, latar belakang saya curhat soal trial error skincare ini yaitu karena minggu lalu saya mendengar katanya di Indonesia ada revolusi teknologi tes DNA seperti yang sudah banyak digunakan di negara maju. Saking penasarannya saya pun Googling tentang apa sih sebenarnya tes DNA untuk kecantikan ini?

Issue Teknologi Tes DNA di Indonesia, adakah?

Satu per satu saya baca dan mampir di website www.smartskinsolution.com. Dimana mereka menjelaskan bahwa JakPat sebagai Platform Online Survei melakukan survei tentang perilaku penggunaan skincare dan perawatan wajah. Survei yang diselenggarakan selama 5 hari (5-10 Juli 2019) dengan total 537 responden ternyata memberikan hasil yang cukup mengejutkan. Seperti yang dijelaskn oleh Head of Research Jakpat, Bapak Aska Primadi, ada sebanyak 15% responden yang puas dengan produk yang dipakai dan 30% responden belum puas dengan produk yang sudah digunakan. Sementara 50% responden juga sama seperti saya, yakni memilih konsultasi ke dokter kulit atau dermatolog. Dan ternyata 90% responden berminat untuk mencoba perawatan dengan teknologi tinggi.

Jadi wajar banget kalau kita nih sebagai kaum hawa, menantikan adanya revolusi teknologi terkini untuk membantu menangani permasalahan kulit wajah.

Kalau menurut informasi yang saya baca, teknologi tes DNA ini digunakan untuk membantu menangani masalah kulit secara efektif dan akurat. Artinya alat ini bisa membantu menginformasikan kondisi kulit kita sebab ya kita tau,kondisi kulit bisa berubah karena banyak faktor seperti polusi, cuaca, pola hidup, stress dan sebagainya. Jadi bisa aja, minggu lalu kulit no worries, eh karena banyak DL dan begadang, minggu ini kulit jadi kusam, kering dan jerawatan. Sudah pasti perawatannya pun berbeda dong pastinya. Misal, menghindari mencuci muka dengan air hangat terlebih dahulu selama kulit wajah kering.

Terlebih, teknologi tes DNA dapat dilakukan sendiri dengan mudah dan akurat. Jadi beneran bisa jadi solusi banget buat ibu-ibu yang susah keluar rumah untuk treatment atau konsultasi ke dokter kulit. Selain itu, bisa saving budget juga.

Kalau dilihat dari manfaatnya, sepertinya teknolgi tes DNA ini bisa jadi solusi untuk kita ya. Karena hasil tes DNA nya sendiri akan memberikan informasi yang akurat tentang kondisi kulit hingga solusi yang dibutuhkan. Jadi kita gak perlu trial error produk skincare yang harganya mahal tadi. Karena menurut dr. Laslie Baumann, seorang peneliti dan ahli kecantikan dari Amerika mengatakan, untuk mengetahui perawatan seperti apa yang cocok, kita harus mengetahui:

  • Jenis kulit. Jenis kulit yang dimaksud ternyata berbeda dari yang saya tau sebelumnya. Jenis kulit yang dimaksud yaitu level sebum, sensitifitas, pigmentasi dan ealstisitas. Kalau kalian pernah skin check pasti tau nih empat level tersebut karena masing-masing memiliki score aman dan warning. Setelah mengetahui kondisi level tersebut barulah bisa terdiagnosa jenis kulit dengan total 16 skin types.
  • Mengenali produk yang digunakan. Kenali dulu masalah yang muncul pada wajah dan cari tau apakah produk tersebut memang sesuai. Lalu cari tau juga kandungan dan bahan aktif dari produk yang digunakan. Saya pernah menggunakan serum pencerah yang mengandung Vit C, progressnya bagus tapi gak cocok dengan bahan aktif Vit C didalamnya. Wajah jadi lebih cerah tapi muncul bruntusan kecil.

Semoga dengan adanya teknologi tes DNA, permasalah kulit wajah ku selama ini bisa teratasi. Dan, gak cukup sampai disini, saya masih mencari tau, apakah benar di Indonesia sudah ada teknologi tes DNA seperti yang lagi booming di Instagram. Kalau kalian sudah tau infonya, boleh dong colek saya juga. Pastinya saya gak mau ketinggalan informasi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *