mengenal montessori, metode montessori, pendidikan montessori, apa itu montessori, sejarah montessori
BBC,  Montessori

Metode Pendidikan Montessori: Kenali Tujuan dan Manfaatnya Lebih Dekat

Metode Pendidikan Montessori: Kenali Tujuan dan Manfaatnya Lebih Dekat. Apa sih metode Montessori? Saat Buibuk mengetikan keyword ini dikolom pencarian, ada banyak sekali situs yang menjelaskan tentang apa itu Montessori.

.

Sejarah Singkat Metode Montessori

Metode Pendidikan Montessori diciptakan oleh Dr. Maria Montessori, seorang doctor perempuan pertama di Italia pada akhir 1800-an. Beliau bekerja di sebuah Klinik di Roma untuk merawat orang miskin dan anak-anaknya. Dr. Maria Montessori merawat kesehatan hingga Pendidikan semua pasien disana.

Beliau bertugas di sebuah rumah sakit jiwa dan mengamati anak-anak yang menderita gangguan emosional dan mental yang indranya tidak terstimulasi dengan baik. Lalu beliau menerapkan pengamatan ilmiah dan objektif dari pelatihan medis yang telah ia pelajari tentang bagaimana caranya menarik minat anak-anak hingga memahami cara belajar serta bagaimana beliau bisa memfasilitasi pembelajaran mereka.

Dapat dikatakan bahwa Dr. Maria Montessori menggabungkan teori dan praktik dalam area filosofi, psikologi dan antropologi Pendidikan.

Berikutnya, beliau membangun sebuah sekolah untuk merawat anak-anak kecil yang ditinggal bekerja orang tuanya di area pemukiman kumuh, yang disebut Casa dei Bambini. Dan sejak saat itu, metode Pendidikan menyebar ke seluruh dunia hingga Indonesia.

mengenal montessori, metode montessori, pendidikan montessori, apa itu montessori, sejarah montessori

.

Perbedaan Metode Montessori dengan Metode lainnya

Secara umum, perbedaan Pendidikan Montessori dengan metode tradisional terletak pada keterlibatan pihak ketiga yaitu lingkungan. Dalam Pendidikan tradisional hanya melibatkan orang dewasa dan anak. Sementara pada  Montessori melibatkan orang dewasa, anak dan lingkungan .

Selain itu, Montessori juga memiliki 5 area yang akan dipelajari anak berdasarkan tahapan tumbuh kembangnya, mulai usia 0-6 tahun, yang dibagi kedalam 2 periode yaitu absorbent mind. Dengan mengetahui periode tersebut, diharapkan orang tua dapat menciptakan permainan edukasi yang menyenangkan dan bertujuan untuk anak. Terus terang, hal ini sangat membantu saya membuat jadwal belajar untuk anak di rumah.

Katanya, Montessori itu strict banget ya? Mainannya mahal-mahal ya? Anaknya dibiarkan bebas ya? Yuk, supaya tidak bingung dan tidak menduga-duga untuk lebih detailnya, kenali prinsip Montessori dibawah ini.

siapa maria montessori, sejarah montessori, montessori di rumah, prinsip montessori

.

Prinsip Pendidikan Montessori

  1. Lingkungan yang disiapkan (Prepared Environment)

Untuk mendukung proses belajar anak berjalan optimal, orang tua harus menyiapkan lingkungan yang tepat. Yang nyaman dan aman serta menjawab kebutuhan anak. Seperti tersedianya semua material yang mudah dijangkau, lingkungan yang luas dan tidak banyak obstacle sehingga anak bebas bereksplorasi, lingkungan yang dekat dengan alam serta lingkungan yang terjaga kebersihannya bersama.

Waduh butuh modal gede ya, masa harus renovasi rumah?

Itu juga yang saya pikirkan. Namun bukan tidak mungkin ya, kita tetap bisa mengusahakan rumah yang mendukung proses belajar anak. Misalnya terdapat rak khusus yang men-display buku bacaan anak dan mainan anak. Tentu saja rak ini harus mudah dijangkau anak-anak supaya anak bisa mengambil dan menyimpannya kembali setelah dipakai.

Berikutnya yaitu membuat rumah dekat dengan alam dengan bercocok tanam dihalaman rumah supaya anak bisa diajak berkebun, menyiram tanaman dan merawatnya dari serangan hama.

Jika ada dana boleh saja menciptakan suasana rumah yang 100% Montessori namun jika kita bisa menerapkan prinsip lainnya dengan ruang yang ada saat ini, why not?

.

  1. Keinginan Alami untuk Belajar

Awalnya saya rishi ketika sedang mengerjakan sesuatu lalu anak ikut nimbrung. Setelah mengenal Montessori saya menyadari bahwa itulah horme, atau keinginan anak untuk belajar dan bekerja tanpa paksaan.

Saya percaya, keinginan belajar ada pada setiap diri anak-anak. Kita sebagai orang tua tinggal memfasilitasi dan memancing anak untuk melakukan suatu pekerjaan yang membuatnya tertarik dan fokus mengerjakannya.

.

  1. Hands-on, Pembelajaran Konkret Menggunakan Tangan

Saya masih ingat saat masih SMP, duduk seharian mendengarkan guru menjelaskan tentang geografi, textbook loh. Kebayang ngga ngantuk dan njlimetnya kaya apa?

Beda banget saat saya belajar geografi dengan metode Montessori. Mengenal globe dengan merabanya, menyocokan benua, lalu mengenal berbagai negara dengan gambar dan ikon-ikon konkret seperti benderanya, bintang khas negara tertentu, dll. Kegiatan ini lebih mudah menempel dalam ingatan saya. Begitu juga dengan Nafeesa, ia dengan mudah mengenali benua menggunakan globe.

.

  1. Periode Sensitif

Sedikitnya ada enam periode sensitif anak. Sebenarnya metode lain pun ada yang menjabarkan perihal periode sensitif ini, hanya saja berbeda istilah. Periode sensitif anak saya jelaskan lebih detail disini.

.

  1. Kebebasan dan Batasan

Anak Montessori memang bebas bereksplorasi namun dengan Batasan. Kenapa? Supaya anak belajar disiplin dan bertanggung jawab. Masa sih anak bisa ngerti sampai sana?

Orang tua saya dulu melarang saya melakukan pekerjaan dapur, alasannya takut pecah, takut rusak atau takut terkena pisau. Lain halnya aturan di rumah saya saat ini. Saya memberikan kebebasan untuk Nafeesa melakukannya sendiri. Sambil dikasih tau gimana cara memegang gelas supaya tidak tumpah airnya. Kalau tumpah, langsung dilap biar tidak licin.

Suatu hari, kami bermain ke rumah sodara dan tanpa sengaja dia menumpahkan sedikit air dari gelas minumnya. Tanpa diminta, Nafeesa langsung mencari lap dan membersihkannya sendiri. Saya sendiri takjub dan merasakan manfaat Montessori dalam diri anak.

.

  1. Pengamatan dan Obervasi

Follow the child dan obervasi adalah kunci dari kegiatan sehari-hari dengan metode Montessori. Kita tidak bisa memukul rata kompetensi yang harus dicapai anak-anak, meskipun usia fisiknya sama ya. Semua harus berdasarkan obervasi.

Yes, untuk anak lain seusia Nafeesa, mereka sudah masuk TK atau Bimba dan mulai bisa membaca. Namun Nafeesa masih di rumah dan masih saya berikan stimulasi untuk area sensormotoriknya. Mengapa? Karena saya meilhat ada hal-hal yang masih perlu saya stimulasi seperti sensitifitas telapak kakinya. Jadi, tidak perlu membanding-bandingkan anak satu dengan yang lainnya.

Bagaimana, apakah Buibuk sudah siap menerapkan Pendidikan Metode Montessori di rumah untuk si kecil?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *