Lifestyle

BEGINI CARANYA MRT BEKERJA BERSAMA #UBAHJAKARTA DARI KEMACETAN

Jakarta memang jadi salah satu kota tujuan untuk migrasi di Indonesia. Lapangan kerja yang luas digadang-gadang menjadi daya tarik ibu kota Negara Indonesia ini. Merujuk pada data atau tidak, kepenatan Jakarta memang dapat dirasakan secara kasat mata.



JAKARTA YANG SERBA PADAT
Semakin sempitnya lahan ibu kota ditandai dengan menjamurnya pemukiman padat penduduk membuat developer berbondong-bondong mendirikan rumah vertikal dengan daya tarik one stop entertainment di dalamnya.

Sempitnya lahan juga berimbas pada kemacetan lalu lintas dikarenakan sulitnya melakukan langkah pelebaran jalan raya. Kemacetan diperparah dengan semakin bertambahnya volume kendaran setiap tahun. Mudahnya proses kepemilikan kendaraan membuat semua orang memiliki kendaraan sepeda motor lebih dari satu unit. Sementara yang terjadi adalah daya tampung jalan yang sudah tidak mencukupi karena lahan di Ibu Kota yang sudah sempit.

SOLUSI MACET : KENDARAAN PRIBADI ??? 
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta saat ini ada 11.362.396 unit yang terdiri dari roda dua sebanyak 8.244.346 unit dan roda empat sebanyak 3.118.050 unit. Dari jumlah tersebut, kendaraan pribadi berkontribusi sebanyak 98%, sementara transportasi umum hanya 2% saja.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian mengeluarkan kebijakan seperti diberlakukannya 3 in 1, membangun under pass dan fly over, pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan nomor polisi ganjil genap. Namun hingga kini, kemacetan masih menjadi pemandangan kota Jakarta setiap hari.

Semua orang dalam waktu bersamaan meninggalkan rumahnya untuk berangkat bekerja, sekolah dan lain sebagainya, hal tersebut menambah sesaknya jalan ibu kota. Tercatat ada sekitar 747 titik kemacetan di Ibu Kota. Asap kendaraan dimana-mana, klakson nyaring saling berteriak seakan tak ada lagi ruang untuk bergerak cepat. Bahkan hak para pejalan kaki pun dirampas oleh pengendara sepeda motor. “Semrawut”, satu kata yang sering dilontarkan masyarakat jika ditanya tentang Jakarta. Kondisi seperti ini menunjukan bahwa transportasi yang masif merupakan kebutuhan yang tak terelakan lagi.

SOLUSI MACET : BRT (BUS RAPID TRANSIT) ???
Dari tahun ke tahun, pemerintah DKI Jakarta berusaha untuk mengatasi persoalan macet di Ibu Kota. Pada tahun 2004, pemerintah meluncurkan transportasi masal Bus Rapid Transit (BRT) yang dikenal busway atau bus Transjakarta beserta jumlah koridor yang terus ditambah. Masyarakat juga dipermudah dengan sistem pembayaran secara elektrik. Tidak hanya itu, pemerintah juga bekerja sama dengan pihak Kepolisian untuk menstrerilisasikan jalur busway yang sering digunakan pengemudi kendaraan pribadi. Tidak tanggung-tanggung pelangggar akan dikenakan denda Rp. 500.000 – Rp. 1 juta untuk roda dua dan roda empat.

SOLUSI MACET : KRL (COMMUTER LINE) ???
Pemerintah memberikan subsidi harga tiket KRL sehingga lebih murah. Ditambah dengan ketersediaan lahan parkir kendaraan dan fasilitas umum stasiun yang dapat digunakan masyarakat diharapkan menjadi daya tarik masyarakat untuk segera beralih menggunakan transportasi umum. Siapa sangka, animo masyarakat terhadap Commuter Line sangat tinggi. Meskipun pemerintah telah menambah jumlah gerbong kereta namun belum cukup memenuhi permintaan masyarakat setiap harinya. Akhir-akhir ini banyak media yang memberitakan tentang bagaiman kerasnya suasana di gerbong wanita yang penuh dan sesak, saling memaksa untuk mendapatkan tempat di dalam kereta. Bahkan mereka rela berdiri dan berdesakan di dekat pintu KRL. Kondisi ini membuat sebagian orang kemudian beralih menggunakan kendaraan pribadi kembali karena khawatir akan keamanan dan kenyamanan serta menghindari datang terlambat di tempat kerja. Lagi-lagi Jakarta macet.

SOLUSI MACET : LRT & MRT JAKARTA ???
Dilansir dari jakartamrt.com, bahwa pada tahun 2005 Pemerintah Provinsi Jakarta mulai berbenah untuk mengintegrasikan system transportasi publiknya melalui pembangunan MRT dengan tujuan menumbuhkan budaya bertransportasi yang aman, nyaman dan modern di kawasan urban. Pada 2013, Pemerintah menempuh tahap konstruksi MRT yang dicanangkan akan selesai pada tahun 2019.

LRT DAN MRT merupakan moda transportasi baru untuk masyarakat Jakarta. Sehingga perlu adanya sosialisasi tentang Light Rapid Transit dan Mass Rapid Transit Jakarta.

KENALI MRT JAKARTA LEBIH DEKAT

MRT atau Mass Rapid Transit adalah alat transportasi dengan system transit cepat berskala massal atau dapat mengangkut penumpang banyak dalam sekali perjalanan. MRT, KRL dan LRT sama-sama digerakan oleh tenaga listrik namun ketiganya memiliki perbedaan. MRT dipandang lebih modern dan canggih dengan keunggulan yang dimilikinya, seperti teknologi ATO (Automatic Train Operation) yang dimiliki MRT membuatnya dapat beroperasi tanpa pengemudi diperlintasan layang dan bawah tanah (dua perlintasan), tidak seperti KRL dan LRT yang masih membutuhkan masinis dengan satu perlintasan saja.
Berikut ini adalah daya tarik #MRTJakarta sebagai solusi memberantas kemacetan di Ibu Kota, sekaligus menjadi kelebihan dibandingkan transportasi umum lainnya, yaitu: 
  • Jam operasional MRT yaitu mulai dari pukul 05.30 hingga pukul 24.00, sehingga memungkinkan untuk tetap digunakan masyarakat pada waktu dimana angkutan umum lain sudah tidak beroperasi. 
  • Jeda waktu keberangkatan setiap 5 menit dengan waktu tempuh selama 30 menit. 
  • Satu gerbong berkapasitas untuk 200 penumpang, dengan satu rangkaian kereta bermuatan 6 gerbong, sehingga dalam satu kali perjalanan MRT dapat bermuatan sekitar 1200 penumpang. 
PETA TRANSPORTASI MRT FASE 1 2013-2016

Kontruksi struktur layang. Membentang sepanjang ±10 km, mulai dari lebak Bulus hingga Sisingamangaraja. Sepanjang jalur tersebut terdapat 7 stasiun laying, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja. Di Lebak Bulus dibangun Depo kereta api. Seluruh stasiun penumpang dan lintasan dibangun dengan struktur di atas permukaan tanah, sementara Depo kereta api dibangun di permukaan tanah. 

Konstruksi bawah tanah. Membentang sepanjang ±6 km, yang terdiri dari terowongan MRT bawah tanah dan enam stasiun MRT bawah tanah, diantaranya Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, Bundaran Hotel Indonesia.

BAGAIMANA MRT DAPAT MENGUBAH JAKARTA? 
“Integrasi ini harus segera diwujudkan. Karena kalau MRT sendirian, tidak mungkin bisa membuat perubahan”, William Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta

Untuk mengintegrasikan MRT dengan transportasi lainnya yaitu dengan mengembangkan Transit Oriented Development (TOD) di beberapa stasiunnya. MRT merupakan batang utama transportasi urban yang akan menghubungkan antara LRT dan BRT. Seperti, bekerja sama dengan Busway Transjakarta sebagai feeder untuk mengantarkan penumpang menuju stasiun MRT. MRT juga memberikan kemudahan bagi masyarakat melalui kerja sama dengan pemilik properti dan pusat-pusat bisnis di sekitar proyek untuk ter-interkoneksi dengan stasiun MRT. Adapaun dalam fase 1, integrasi tersebut meliputi: 

  • Stasiun Cipete Raya dan Stasiun Istora yang akan bekerja sama dengan pemilik lahan property. 
  • Stasiun Blok M yang terhubung dengan terminal bus, pusat hiburan, dan taman kota. 
  • Stasiun Dukuh Atas yang terkoneksi dengan layanan transportasi umum lainnya, seperti jalur commuterline, kereta Bandara Soekarno-Hatta, halte bus Transjakarta, stasiun Light Rail Transit (LRT), dan circular pedestrian bridgeagar pejalan kaki dapat terhubung dengan seluruh moda raya terpadu tersebut. 

BAGAIMANA MENGGUNAKAN MRT ?
PERAN IBU RUMAH TANGGA DALAM GERAKAN #UBAHJAKARTA 
Untuk sebagian ibu rumah tangga mungkin seperti apapun alat transportasinya tidak begitu berpengaruh karena aktifitasnya untuk menggunakan transportasi umum pun jarang, mereka cenderung sering di rumah. Namun seorang ibu rumah tangga merupakan agent of change yang dapat digandeng pemerintah. Bisa dikatakan seorang ibu rumah tangga dapat menjadi partner pemerintah dalam memberantas kemacetan. Caranya? 

Perkenalkan MRT kepada ibu rumah tangga. Jika ditanya apa itu MRT, sebagian banyak ibu rumah tangga belum familiar dengan istilah MRT. Meskipun hanya berada di rumah merawat suami dan anak namun sebagai seorang ibu yang cerdas dan bijak perlu mengetahui informasi dan current issue yang sedang terjadi melalui televisi atau media lain, seperti pembangunan MRT misalnya. Sehingga ia dapat mengedukasi anak-anaknya, memberikan saran serta mempengaruhi suaminya untuk turut menggunakan transporrtasi umum, selain lebih cepat, aman, nyaman juga terhindar dari kemacetan. 
Secanggih apapun alat tansportasi yang diciptakan jika tidak ada kesadaran dalam diri sendiri untuk menjadi agen of change memberantas kemacetan maka mustahil akan tercipta lingkungan ramah lingkungan yang kita inginkan bersama.

Mulailah dari diri sendiri membiasakan untuk menggunakan transportasi umum, kemudian ajaklah keluarga, teman dan kerabat Anda. Mari kita bekerja bersama #UbahJakarta Sekarang juga!!! Bekerja Bersama, kita bisa ciptakan Jakarta yang ramah, Jakarta yang disiplin, tertib dan sehat.


One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *