5 Hal Wajib Diperhatikan Saat Menerima Tawaran Kerjasama
financial,  Lifestyle,  self improvement,  tips & trick

5 Hal Wajib Diperhatikan Saat Menerima Tawaran Kerjasama

Banyak dari kita yang langusng happy saat mendapatkan penawaran kerjasama tapi sering lupa dengan banyak hal penting yang menyangkut kenyamanan bersama. Yang penting terima dulu deh, nominalnya oke, eh ditengah jalan ternyata banyak gak cocoknya. Lalu jadi males menyelsaikan tugas yang diberikan, padahal sudah kirim surat perjanjian kerjasama. Ujung-ujungnya jadi ngedumel. Pernah ngalamin hal serupa? Saya pernah begini.

Penawaran kerjasama ini bisa datang darimana saja, baik itu komunitas, brand, personal atau dari agency. Namanya kerjasama pasti harusnya professional ya tapi jangan salah, masih banyak loh pihak yang menganggap enteng sebuah kerjasama. Gak Cuma dari pemberi job tapi juga penerima, yaitu kita. Dulu, saya juga gak sebawel sekarang, masih banyak rasa gak enak nanya atau “yaudah deh gapapa sayang masa rejeki ditolak”, padahal ada beberapa hal yang mengganjal. Nah, tips berikut ini saya mau sharing 5 hal yang wajib diperhatikan saat menerima tawaran kerjasama. Ini berlaku bagi semua bidang pekerjaan ya, gak cuma blogger saja, terutama mungkin yang freelancer.

5 Hal Wajib Diperhatikan Saat Menerima Tawaran Kerjasama

5 Hal Wajib Diperhatikan Saat Menerima Tawaran Kerjasama

 

1. Cari tahu identitas pemberi job

Penting banget mengetahui siapa yang mengajak kerjasama. Selain agar komunikasi yang terjalin gak kaku, juga untuk antisipasi jika ada pelanggaran.

Idealnya, pemberi job akan memperkenalkan diri, nama dan mewakili siapa. Saya pribadi paling males membalas email atau chat yang tiba-tiba menawarkan kerjasama dengan rate sekian tapi gak ada pengantarnya. Begitu juga kita sebagai penerima job, selalu biasakan untuk membalas email dan chat dengan sopan. Dulu saya berusaha untuk berkomunikasi santai tapi sopan, ya lagi-lagi supaya gak kaku. Tapi makin kesini, banyak banget email masuk dengan Bahasa “kamu” padahal sebelumnya gak kenal sama sekali. Sejak saat itu, saya lebih suka menggunakan Bahasa formal.

Biarkanlah saya dipanggil ibu daripada di-“kamu-kamu-in”!

2. Mintalah brief

Setelah proses diatas aman dan kita tau kerjasama yang dimaksud, mintalah brief yang detail. Umumnya mereka memang tidak memberikan brief sebelum deal. Paling tidak, minta informasi sejelas-jelasnya. Misalnya penawaran kerjasama untuk campign snack anak. Biasanya saya tanya, apakah harus foto dengan anak, latar atau suasana seperti apa, dress code nya apa, harus ngumpuin draft foto apa ngga, berapa foto yang diserahkan untuk acc.

Kenapa bawel banget, karena saya pernah mengalami harus take photo ulang karena warna baju yang salah, tidak diinformaskan dan saya gak tanya pula. Harus kirim 3 opsi foto berbeda, sementara foto yang diambil beda gerakan tapi latar dan suasana sama, mau gak mau saya take ulang. Nah, dari sini kita sudah bisa memprediksi apakah kerjasama yang ditawarkan menyenangkan atau memberi beban.

Pernah satu ketika, saya diajak kerjasama untuk take Voice Over. Naskah mereka yang buat tapi pas take itu kalimat kayaknya asal copy-paste dari internet karena gak ada tata bahasanya. Sehingga saya harus menulis ulang. Setelah take selesai, mereka komplain tidak sesuai dengan naskah dan tiba-tiba revisi yang datang berbeda, informasi yang disampaikan semakin banyak dan diluar jalur. Yang salah ya saya, gak minta brief jelas diawal!

3. Mintalah Schedule & Deadline

Masih banyak banget client yang mengirimkan brief, isinya hanya tugas, kewajiban dan product knowledge, tanpa timeline. Padahal informasi jadwal itu penting banget loh. Kalo misal review barang, kita harus tau kapan barang akan dikirim, kapan pengumpulan draft, kapan akan di-acc, kapan harus publish, kapan pengajuan invoice, kapan pembayaran hingga pengiriman laporan. Bukankah itu satu kesatuan saat kita menerima sebuah pekerjaan?

Meski ada yang disiplin tapi banyak juga yang serba dadakan. Ditanya kapan pengumpulan report, nanti diupdate lagi. Sebulan lewat, dua bulan lewat, eh masuk bulan ketiga baru diminta report.

Soal Deadline, saya termasuk orang yang kapok dikasih kerjaan mepet waktunya, baik itu nulis ataupun foto. Mending kalau di rumah ada orang bisa minta tolong fotoin, kalau lagi gak ada? Kan pusing sendiri. Emang sih butuh pemasukan, tapi kalo sampe nyiksa diri karena waktu pengerjaan yang super mepet, Give Up!

Terjadi loh, ada yang ngajakin kerjasama hari ini, besok udah harus kirim draft foto, luar biasa kan? Ada juga yang ngasih job jam 3 sore untuk menulis blog dengan DL dihari yang sama, jam 12 malam. Kalau fee nya besar, gak masalah diperjuangkan. Kalau hanya diajak kerjasama sebagai cadangan karena ada yang cancel mepet DL, mau kaya gitu? Gak kan.

Dengan adanya jadwal yang jelas, kita juga jadi tau kapan payment akan ditransfer. Kita juga butuh pencatatan financial yang rapi bukan? Jika sudah lewat jadwal, kita berhak loh untuk minta kepastian. Tapi kalau masih belum lewat jadwal, jangan tanya kapan akan dibayarkan, nyebelin! Keliatan gak profesional, apalagi nanya di group yang dibaca semua orang.

4. Minta Dibuatkan SPK

Surat Perjanjian Kerjasama atau ada juga yang bilang Surat Penunjukan Kerjasama, pada intinya mintalah surat resmi yang dikeluarkan oleh client tentang kerjasama yang akan dijalankan. SPK bersifat mengikat dan menjaga kedua belah pihak. Kita juga jadi gak berani macem-macem karena sudah ada SPK nya. Termasuk client juga gak bisa sembarangan tiba-tiba membatalkan kerjasama sepihak. SPK dibuat dua rangkap, ditandatangi bermaterai. Satu untuk client, satu untuk kita. Pastikan kita membaca dengan detail informasi yang disebutkan pada SPK. Jangan sampai ada komplen setelah SPK ditandatangi apalagi bermaterai, bisa ke ranah hukum urusannya. Banyak lho yang mengajak kerjasama tapi asal running, jika tidak diminta SPK, ya mereka tidak mengeluarkan.

 

5. Teliti dengan Terms & Conditions

Pertama, baca dengan teliti syarat dan ketentuan dari client, misalnya soal masa berlaku kontrak. Banyak yang sering miss soal kontrak kerjasama ini. Misalnya sebuah brand susu anak mengajak bekerja sama dengan rate Rp 5000, lalu kita diikat selama 6 bulan tidak boleh bekerja sama dengan brand competitor baik di blog maupun Instagram. Pastikan kita tau risikonya, dengan rate sekian akan terikat selama 6 bulan, apakah bersedia dan tetap konsisten, jangan sampe baru 3 bulan melangggar perjanjian kerjasama. Terlepas apakah nantinya brand akan mengecek secara berkala atau tidak, tapi sebaiknya tidak berulah. Jika perlu tanyakan benefit lainnya yang bisa kita dapatkan selama masa kontrak.

Kedua, jelaskan syarat dan ketentuan yang kita miliki kepada client. Belajar dari pengalaman saya sendiri, sering terjebak dengan permintaan client yang berlebihan. Misalnya, kerjasama content placement, kita hanya focus pada rate saja. Tidak menjelaskan secara detail. Contohnya begini, saya pernah memberikan rate content placement tanpa dijelaskan detail layanan apa saja yang akan diterima client dengan harga (misalnya Rp 2500). Padahal itu rate umum content placement, ya tinggal publish saja, image dan artikel sudah dari mereka.

Ternyata ditengah jalan, mereka minta backlink dofollow 2 diawal paragraph, lalu tidak menyertakan image high resolution (asal comot punya orang lalu ditempel di word) dan minta dikembangkan pula tulisannya. Super Trap!!! Jadi sejak saat itu, saya selalu detail tanya, berapa jumlah kata, temanya apa, backlink berapa, apakah nofollow atau dofollow, image nya dari siapa dan informasi lain yang dibutuhkan.

Karena saya pernah mendapatkan tawaran content placement untuk produk pemutih, ternyata setelah saya tanya detail produk tersebut belum terdaftar BPOM. Gak mungkin dong kita berani asal taro di blog satu produk atau informasi yang belum jelas kualitas dan manfaatnya.

Nah, 5 point yang saya sharing ini berdasarakan pengalaman saya pribadi. Learning by doing karena saya gak tau juga harus sharing dengan siapa. Tapi semoga tulisan ini membantu teman-teman yang suka bingung bersikap ketika menerima tawaran kerjasama.

Kita memang mencari penghasilan tapi bukan berarti serabutan. Bukankah lebih nikmat jika mengerjakan sesuatu dengan hati yang ikhlas tanpa beban. Pengalaman gak enak diatas, jadi pelajaran banget untuk saya. Untuk membunuh rasa gak enak dan selalu bersikap professional. Friend is friend, money is different. Jangan sampe berantem sama orang karena uang gak seberapa. Jangan sampe juga nama kita jadi tercoreng cuma karena salah paham. Semoga bermanfaat. Punya ide lain tentang menerima tawaran kerjasama? Boleh sharing juga dikolom komentar ya.

2 Comments

  • CREAMENO

    Bagus-bagus mba tipsnya, yang pada intinya kita harus selalu detail saat membaca kontrak, mencari informasi soal apa yang kita kerjakan dan sebagainya~ tips ini juga bisa digunakan untuk urusan kerja sama di perusahaan (bagi karyawan) karena intinya sama, hehehehe~ segala sesuatu memang harus hati-hati dipertimbangkan biar nggak terjebak di tengah jalan 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *