anak suka benda kecil, the period sensitive montessori
BBC,  Montessori

The Sensitive Period Montessori: Periode Sensitif Anak Usia 0-6 Tahun

Sensitive Period Montessori: Periode Sensitif pada Anak Usia 0-6 Tahun. Metode Montessori mengenalkan konsep The Sensitive Period atau periode sensitif pada balita. Apa sih yang periode sensitif? Pada hakikatnya, anak usia 0-6 tahun memiliki periode sensitive sesuai dengan tumbuh kembang dan usianya.

.

Metamorfosis Ulat menjadi Kupu-kupu

Dalam salah satu buku Montessori menyebutkan tentang daur hidup kupu-kupu yang bermula dari seekor ulat bulu. Ulat tersebut setiap hari berproses, melihat pancaran sinar matahari dan mencari daun untuk dimakan.

Hingga suatu hari, ulat tersebut menjadi gemuk dan muncul selaput menyelimuti tubuhnya. Lalu tertidurlah si ulat dalam jangka waktu yang sangat lama hingga ia berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.

Namun, ternyata ada dua cerita kepompong. Kepompong pertama berproses secara alami untuk menjadi seekor kupu-kupu. Sementara kepompong kedua dibantu prosesnya dengan disayat dan kupu-kupu pun mulai keluar lalu terjatuh dan mati.

Dari cerita tersebut, sebagai orang tua kita bisa belajar untuk menghargai proses dan waktu. Filosofi metamorfosa tak lain yaitu menceritakan tentang anak-anak akan terus bertumbuh memiliki masa sensitif dan setiap periode sensitif tersebut berbeda-beda.

Anak-anak akan berprogres pada waktunya masing-masing. Pada setiap tahapannya akan mengantarkan mereka maju terus kedepan bukan mundur kebelakang. Jika yang terjadi anak mengalami kemunduran maka pasti ada yang salah dan perlu diperbaiki.

“Sensitive period adalah sebuah waktu yang dianugerahi oleh alam kepada anak untuk belajar sesuatu secara spesifik dengan cara yang sangat mudah.”

metamorfosa ulat, metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu

.

6 Periode Sensitif Anak dalam Montessori

1. Sensitive Period: Keteraturan atau Order (Usia 0 – 2 tahun)

Anak menyukai keteraturan, itulah mengapa mereka menyukai sesuatu yang  sama dan konsisten . Jika di rumah tidak ada keteraturan maka anak akan bingung dan sulit mengendalikan emosi pada dirinya.

Hal ini yang saya benahi untuk pertama kali saat mengenal Montessori. Lantaran rumah adalah tempat dimana anak akan bertumbuh dan orang tua adaah tempat pertama dimana anak akan belajar banyak. Sehingga saya tetapkan keteraturan mulai dari rumah untuk saya, suami dan Nafeesa. Keteraturan dengan benda dan suasana yang ada di rumah seperti kegiatan dan jadwal yang dilakukan serta peraturan di rumah.

Saya mulai lelah ketika suami selalu bertanya benda yang ia cari di rumah. Ya, karena belum ada keteraturan. Kami masih sering menyimpan benda sesuka hati, tidak pada tempat yang sama sehingga ketika membutuhkannya dan lupa menyimpan dimana, ya pasti kerepotan. Kasus ini terjadi pada kita orang dewasa, bayangkan gimana kalau anak balita yang mengalaminya?

Sensitifitas keteraturan dapat dibentuk pada usia 0-2 tahun karena anak perlu merasa aman dan percaya terhadap lingkungannya.

Baca juga: Knobbed Cylinder, Bekerja dengan Aparataus Montessori

.

Bagaimana mengetahui anak memiliki The Sensitive Period of Order)

Anak yang memiliki keteraturan, akan menunjukan sikap berbeda pada lokasi atau tempat yang baru. Misalnya, ia akan merasa kurang nyaman saat pertama kali bersekolah. Hal ini sangat wajar karena sekolah merupakan lingkungan baru baginya. Lambat laun anak akan memahami dan beradaptasi.

Anak yang tidak memiliki keteraturan biasanya tumbuh menjadi anak yang sulit mendengarkan, rewel, hyper active dan susah lepas dari orang tua.

Pada usia anak 0-2 tahun dianjurkan untuk tidak berpindah rumah, tidak sering melakukan perubahan dekorasi di rumah serta menyimpan sesuatu tetap pada tempatnya di rumah. Hal ini dilakukan untuk mendukung masa sensitif anak terhadap keteraturan yang akan berdampak pada masa yang akan datang.

.

2. Berbahasa (Usia 1,5 -2 tahun)

Anak akan memperhatikan gerakan mulut kita, mereka juga akan mulai menirukan, mengoceh dan tanpa disadari sudah banyak kosakata yang ia miliki. Namun, jika anak tidak menunjukan kemampuan berbahasa hingga berusia 2 tahun, sebaiknya segera dilakukan obervasi lebih lanjut. Kecenderungan mengalami speech delay atau masalah lainnya.

Sebagai orang tua, kita harus sering mengajak anak berbicara. Apakah menyebutkan nama benda yang disentuh, menceritakan apa yang sedang dilakukan, pokoknya harus cerewet hehe. Pada usia ini ana tengah menyerap segala informasi dengan baik termasuk bahasa yang kita ucapkan.

Anak yang mengalami speech delay, umumnya karena kurang stimulasi bahasa atau jarang diajak ngobrol oleh orang tuanya. Oleh sebab itu, pada usia ini paparkan banyak bahasa pada anak. Bisa dengan mengobrol, membacakan buku, bernyanyi, mengajaknya beraktivitas di luar rumah dan lainnya.

Mengingat bahwa bahasa merupakan bagian dari komunikasi dan komunikasi sangatlah penting untuk mengutarakan pemikiran anak. Ketertarikan pada menulis biasanya muncul saat anak berusia 3,5 tahun sementara ketertarikan pada membaca muncul saat anak berusia 4,5 tahun.

Baca juga: Pink Tower Montessori: Manfaat, Cara Kerja dan Spesifikasinya

.

3. Detail Objek atau Objek Kecil (Usia 2-2,5 tahun)

Pada kelas MHA disebutkan bahwa sensitifitas hanya terjadi selama 6 bulan saja. Sementara dalam buku Simon Davies disebutkan, periode sensitif pada detail kecil berlangsung mulai usia 18 bulan hingga 3 tahun. Secara garis besar, anak usia 2 tahun tengah berada pada periode ini.

Sensitifitas pada objek kecil artinya anak tertarik dengan benda sangat kecil. Mereka memperhatikan dengan seksama, menyentuh benda-benda kecil tersebut. Dalam hal ini, anak-anak secara tidak langsung sedang memuaskan taktilnya sehingga ia senang menyobek atau memetahkan sesuatu menjadi bagian kecil. Benda kecil ini bisa memuaskan seni obervasi anak untuk membentuk anak menjadi pribadi yang teliti. Ibu bisa sediakan mainan kecil di rumah serta duduk bersama anak di lantai untuk mencari sesuatu yang kecil.

anak suka benda kecil, the period sensitive montessori

.

4. Sensitifitas pada Kemahiran Bergerak

Inilah mengapa balita suka sekali bergerak karena secara alamiah memang diciptakan begitu. Dengan bergerak, anak belajar menyeimbangkan diri mereka sendiri. Gerakan juga membantu membangun postur tubuh anak. Misalnya saat anak tidak bisa duduk, maka posturnya harus diperbaiki dengan gerakan.

Sensitifitas terhadap gerakan bukan berarti anak bebas bergerak sesuak hati namun tetap harus ada keteraturan dan tujuannya. Itulah mengapa saya sengaja membuat area rumah tanpa sekat supaya anak bisa bergerak bebas di dalam rumah.

Anak yang tidak terpuaskan akan menjadi sangat pendiam bahkan mereka tidak memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu karena setiap gerakannya diatur oleh orang tua.

Berikan waktu bergerak untuk anak, American Academy of Pediatrics (AAP) serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan idealnya anak melakukan olahraga selama 60 menit setiap hari. Tidak harus dilakukan langsung, boleh dicicil.

 .

5. Sensitifas Indra atau Eksplorasi Indrawi (Usia 3-6 tahun)

Indra disebut sebagai The Entrace Gate atau pintu masuknya semua intelegensi anak sehingga pada usia ini haruslah dibukakan stimulasinya.

Anak usia 0-3 tahun akan takjub dengan warna, rasa, bau dan sentuhan yang ia terima. Anak dengan usia 4-6 tahun sudah mulai belajar mengklasifikan dan mengatur impresi-impresi tersebut. Ibu bisa memberikan akses kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan luar dengan bebas. Buatlah penemuan bersama.

Pengalaman melalui stimulasi yang diterima indra merupakan pengalaman yang tidak tergantikan oleh apapun juga. Anak akan mudah memahami apa yang diterima oleh indranya. Dalam hal ini, orang tua juga perlu menjelaskan tujuan dari setiap yang anak lakukan. Jika anak tidak didukung sensitifitas pada indranya maka cenderung akan tumbuh dalam ketidak tahuan.

.

6. Kehidupan Sosial dan Sopan Santun (2,5 – 6 taun)

Periode sensitif terhadap kehidupan sosial termasuk didalamnya terdapat sopan santun dimulai sejak anak berusia 2,5 tahun. Sebelum mencapai usia ini, kita bisa mencontohkan hal baik terlebih dahulu, menjadi contoh.

Ibu bisa memfasilitasi anak dengan memberikan ruang bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Ketika anak tidak berinteraksi, mereka hanya akan tinggal dengan dunianya sendiri, mereka juga tidak tahu bahwa ada kehidupan lain diluar lingkungannya sendiri.

periode sensitif anak, periode sensitif balita, the sensitive period montessori, order, keteraturan, suka objek kecil, kebebasan bergerak, sensitif bahasa, kesopanan, sensitifits indrawi

.

Kesimpulan Sensitive Period

Dalam The Sensitive Period anak, upayakan untuk menstimulasi dan memberikan kepuasan supaya anak dapat menjawab kebutuhan dan rasa ingin tahunya.

 

Sensitive periode, Sensitive periode, Sensitive periode, Sensitive periode, Sensitive periode, 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *