metode montessori, kurikulum anak di rumah, ide bermain di rumah
BBC,  Montessori

Alasan Memilih Metode Montessori di Rumah

Terbilang telat karena saya baru resign saat anak berusia 2 tahun. Saat itu pula saya mulai mencari metode Pendidikan apa yang bisa saya terapkan di rumah. Dari beragam metode yang saya temukan dari buku dan internet, di Indonesia sendiri (saat itu) yang sudah banyak sekolahnya adalah metode Montessori.

Saya pun mencari referensi Montessorian atau orang-orang yang sudah menerapkan Montessori di rumah. Namun, tidak ada yang benar-benar sharing dengan clear. Semakin saya menggali, semakin bingung jadinya. Jelas, karena saya tidak tahu dasar Montessori itu apa.

Ada yang sama? Sepertinya mudah ya, melihat berbagai macam kegiatan yang mereka lakukan, namun saat mempraktekannya di rumah ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

metode montessori, kurikulum anak di rumah, ide bermain di rumah

 

Semua kegiatan Montessori terstruktur dan bertujuan sehingga orang tua perlu tahu aturan dan cara bermainnya sehingga tujuannya tercapai.

 

Setelah satu tahun mengumpulkan sumber bacaan, akhirnya saya mengambil Diploma Montessori di Jakarta. Dalam Montessori, sejatinya bukan anak yang belajar tapi orang tua. Misalnya saat orang tua menyiapkan lingkuangan (prepared environment) maka sejatinya orang tua lah yang belajar menata rumah, menahan ego untuk memiliki banyak barang atau mainan anak dan lain sebagainya.

Setiap metode Pendidikan tentunya bertujuan mencerdaskan anak. Namun,  dalam Montessori, cerdas tidak hanya soal nilai akademis yang bagus melainkan anak menjadi mahir terhadap apa yang ia sukai . Yes, follow the child.

Montessori percaya setiap anak memiliki rasa ingin tahu dan motivasi belajar tinggi bahkan tanpa harus dipaksa oleh orang lain. Hanya saja terkadang saya nih sebagai orang tua memaksakan kehendak. Anak harus belajar A, sementara dia belum siap atau belum tertarik. Padahal dengan mengikuti kemauan dan kemampuan anak sesuai dengan tahapan usianya, anak-anak hanya perlu distimulasi dan diberikan kesempatan untuk melakukan suatu pekerjaan berulang-ulang. Repetisi membuat anak mahir.

Montessori mengingatkan saya dengan nilai-nilai pengasuhan orang tua jaman dulu. Soal etika, tata krama, bahasa dan sopan santun serta perilaku dalam berinterkasi dengan lingkungan. Bahkan dalam Islam, kita diajarkan untuk menyayangi dan mengasihi semua mahluk ciptaan Allah SWT termasuk hewan dan tumbuhan. Begitu juga yang Montessori tanamakan. Tidak menyakiti diri dan orang lain dan tidak mengotori dan tidak merusak lingkungan.

Montessori juga mengingatkan saya untuk hidup lebih sederhana dan mindfulness. Hidup berkesadaran dan penuh kedamaian. Anak-anak diberikan waktu dalam ketenangan, tanpa interupsi dan kebisingan. Tujuannya supaya anak mampu meregulasi diri sehingga ia mampu mengendalikan emosinya di kemudian hari.

Montessori mengajarkan saya bagaimana bersabar dalam setiap proses. Ya, proses belajar anak yang tidak instan dan bukan karbitan. Hal ini juga menjadi motivasi saya dalam menjalankan sebuah pekerjaan. Belajar menikmati proses dan menerima hasil dengan lapang dada. Bahwa hidup bukan soal berkompetisi namun juga berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat.

Ya… bermanfaat! Oleh sebab itulah saya menulis perjalanan mengenal Montessori pada blog ini supaya bisa dibaca oleh banyak orang sehingga kita bisa sama-sama belajar dan menjadi panutan untuk anak-anak di rumah.

Saya sudah menyusun artikel Montessori ini secara berurutan supaya bisa diikuti dengan mudah oleh pembaca yang membutuhkan.

Ide aktivitas anak di rumah: @joyfulparenting101 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *