event,  Family,  moms,  parenting

Persiapan Orangtua Milenial Dukung Proses Belajar Generasi Alpha Sejak Dini

Mam, pernah mendengar istilah generasi Alpha? Terus terang, saya tuh termasuk orang yang gak terlalu aware sama istilah generasi-generasian. Pikirku, ya sama aja deh kayanya, yang bedain cuma jamannya doang. Ternyata gak sesimpel itu loh. Anak-anak yang tumbuh dari setiap generasi memiliki karakter yang berbeda. Misal generasi Milenial atau generasi Y dan generasi Z. Begitu pula generasi berikutnya yaitu generasi Alpha. Konon katanya, generasi Alpha ini memiliki banyak tantangan di masa depan. Nah, sebelum kita ngobrol lebih lanjut soal persiapan dan tantangan bagi generasi Alpha, kita kenali dulu karakter mereka yuk!

Saya bersyukur banget bisa hadir pada acara peluncuran S-26 Procal Gold bersama Wyeth Nutrition Indonesia, sebab saya mendapat jawaban atas kegundahan saya dalam membersamai tumbuh kembang si kecil. Topik Talkshownya juga sangat menarik yaitu tentang peranan orangtua dalam mendukung proses belajar bagi generasi Alpha. Bintang tamu serta narasumber yang diundang pun mampu memberikan insight baru bagi saya dan semua orangtua yang hadir Kamis lalu (19/9) di Soehana Hall, Energy Building- SCBD, Jakarta.

Yuma Seorianto, seorang programmer termuda mengubah pola pikir saya seketika terhadap gadget dan teknologi. Yuma ini masih berusia 12 tahun lho, Mam. Tapi prestasinya sangat membanggakan. Yuma mampu menciptakan 9 aplikasi dan menyabet 74 lencana Pancasila. Bellum lagi sederet prestasi lainnya seperti beasiswa dan undangan acara berskala internasional. Dibalik kecerdasan Yuma, ada seorang ibu yang hebat. Mom Dollies, ibunya Yuma, menyadari passion Yuma dalam bidang coding saat ia berusia 6 tahun. Bedanya Mom Dollies dengan kebanyakan orangtua, beliau ini justru mendukung anaknya untuk dekat dengan teknologi dan gadget. Yuma juga diberikan fasilitas dan kesempatan untuk menjalani apa yang ia sukai. Hingga akhirnya, Yuma sampai dihadapan saya untuk sharing tentang banyak hal.

.

Gadget dan Teknologi, Kawan atau Lawan ???

Gak heran, kalau banyak orangtua yang antipatif dengan kehadiran teknologi digital. Sebab memang yang sering sampai ditelinga kita ya soal dampak buruknya bagi anak-anak. Misalnya, mereka jadi susah bersosialisasi, malas belajar hingga menyebabkan depresi. Pilihannya, daripada anak jadi korban mendingan dilarang aja sekalian, nanti kalau sudah besar baru kita kasih kesempatan, betul gak?

Tapi ternyata, keputusan tersebut gak semuanya benar. Bukti nyata bahwa teknologi digital juga bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak. Tinggal orangtuanya yang harus bijak dan tegas, kapan anak boleh beraktifitas secara online dan kapan mereka harus aktif secara offline bersama keluarga dan teman sebayanya.

Yuma, anak generasi Z yang berhasil membuktikan manfaat positif teknologi bagi prestasi dan karirnya dalam usia yang sangat masih muda. Apalagi anak-anak generasi Alpha yang digadang-gadang lebih dekat dengan teknologi digital bahkan saat masih dalam kandungan?

.

Mengenal Karakter Anak Generasi Alpha

Ibu Rosdiana Setyaningrum M.Psi MHPEd. mengatakan, sebutan generasi Alpha pertama kali dikenalkan oleh seorang sosiolog asal Australia, Mark Mccrindle. Generasi Alpha yaitu anak-anak yang lahir diantara tahun 2010 hingga 2025 nanti. Dimana generasi Alpha ini hidup pada zaman teknologi yang sudah maju bahkan sebelum mereka lahir sudah memiliki jejak digital yang menunjukan milestone atau tumbuh kembangnya sejak dalam kandungan.

Umumnya mereka terlahir dari orangtua generasi Milenial, sesuai dengan kondisi saya saat ini. Meski begitu, ada juga yang orangtuanya dari generasi sebelumnya, mungkin anak kedua atau anak ketiga mereka. Dan, ternyata ada sekitar 2,5 juta bayi Alpha terlahir setiap minggunya. Apakah anak Mam dan Pap juga termasuk generasi Alpha?

.

Ciri-ciri Generasi Alpha

  • Mereka technology native, kritis dan mampu mencari informasi dengan cepat.
  • Terbiasa menggunakan teknologi Voice Assitant seperti siri.
  • Generasi Alpha juga senang membuat konten video, bermain peralatan elektronik, robotics dan coding.
  • Meski kehidupannya sangat dekat dengan teknologi tapi generasi Alpha ini tidak terlalu bergantung dengan teknologi. Ada massanya bagi mereka hidup dan beraktifitad dalam dunia nyata.
  • Peduli dengan lingkungan dan sosial.
  • 72% generasi Alpha senang bermain di luar ruangan, seperti bermain seni dan craft serta banyak kontak dengan kakek neneknya.

.

Karakterisik Orangtua Milenial

Seperti yang saya sebutkan diatas, anak generasi Alpha umumnya terlahir dari orangtua milenial. Menariknya, kedua generasi ini memiliki persamaan dalam kedekatan dengan teknologi digital. Hal ini secara nyata bisa saya rasakan sendiri didalam lingkungan keluarga. Berikut ini ciri-ciri atau karakteristik orangtua mileninial, diantaranya:

  1. Mampu mencari informasi seputar gaya pengasuhan dari internet.
  2. Mengabadikan milestone si kecil di media sosial.
  3. Percaya diri dengan kemampuan parenting.
  4. Memiliki anak di usia yang lebih matang.
  5. Memberikan nama yang unik untuk anaknya.
  6. Memilih untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak dan keluarga.

.

TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK: Perkembangan Sosial Emosi

Pada usia 2-3 tahun anak akan memasuki fase regulasi diri. Mereka mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kekuatan sebagai seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan kreatif. Seperti yang ibu Rosdiana katakana, jika anak mengalami tantrum pada usia ini, berarti bagus, tandanya anak sudah bisa mengekspresikan perasaannya dalam bentuk lain.

Anak seusia Nafeesa (2-3 tahun) nih lagi sedep banget, Mam. Orangtua harus ekstra tenaga deh pokoknya sebab mereka senang mengeksplorasi lingkungan. Tapi orangtua harus memastikan bahwa tempat mereka belajar dan beraktifitas sudah aman. Misalnya, orangtua membiarkan ruang bagi anak bergerak bebas di rumah seperti lompat dan memanjat lemari, asalkan sudah dipastikan aman dan tidak akan melukai anak.

Anak yang diberikan kebebasan dan rasa aman akan tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri. Sebaliknya, jika orangtua lalai dan tidak bisa menghadirkan rasa aman, anak akan tumbuh menjadi orang yang penakut dan berpikir bahwa dunia memiliki banyak ancaman untuk melukai dirinya.

Mereka memiliki pola bermain solitaire, focus dengan dirinya sendiri. Anak-anak ini memang secara fisik berkumpul dengan teman lainnya tapi ternyata setiap anak punya kesenangan sendiri. Hal tersebut normal, gak perlu dipaksa main atau ngobrol sama temannya. Biarkan ia tumbuh sesuai dengan tahapan usianya. Barulah saat ia memasuki usia 4-5 tahun, mulai bisa berkelompok dan bermain bersama.

.

Kesempatan dan Tantangan Generasi Alpha

Gimana Mam sudah mulai terbayang ngga, seperti apa sih pola pengasuhan yang tepat untuk anak-anak generasi Alpha?

Menurut data yang diperoleh dari Cranfield University & Grant Thornton, anak generasi Alpha akan memiliki banyak kesempatan dan tantangan yang cukup berat. Sebab, mereka dituntut untuk bisa bersaing dengan kemajuan teknologi. Data tersebut menunjukan bahwa:

  1. Sebagaian besar penduduk dunia akan berusia lebih tua.
  2. Menanggung beban ekonomi.
  3. Bersaing dengan robot.
  4. Memiliki Pendidikan tinggi.
  5. Pekerjaan lebih spesialis.
  6. Menjadi bagian dari penduduk dunia.
  7. Mampu berkarir pada bidang pekerjaan yang saat ini belum ada.

Sementara menurut Dan Schawbel, penulis, Direktur Future Workplace, pendiri Millenial Branding & workplacetrends.com mengatakan, tantangan generasi Alpha diantaranya:

  1. Akan menghadapi global warming
  2. Menghadapi krisis ekonomi dunia
  3. Kemungkinan tidak ada jaminan sosial
  4. Sebagian besar bersekolah online sebab biaya lebih murah.

.

PROGRESSIVE LEARNING FOR GENERATION ALPHA

Kesempatan yang semakin terbuka luas bagi generasi Alpha beranding lurus dengan tantangan yang dimilikinya. Sehingga generasi Alpha ini membutuhkan cara belajar baru yag merupakan pengembangan dari cara belajar konvensional, yaitu progressive learning ability. Pola pembelajaran ini melibatkan anak dan lingkungan serta menggunakan meode teamwork, critical thinking, creativity serta mandiri.

Karakteristik yang Harus Dimiliki Generasi Alpha

  1. Eksploratif, anak memiliki rasa ingin tahu tiggi sehingga terus mencari hal baru yang dapat dikembangkan, bai kalam diri sendiri maupun lingkungan.
  2. Berpikir kritis, atau out of the box, berpikir diluar pola yang sudah ada.
  3. Jiwa kepemimpinan, mereka mampu memimpin dirinya sendiri dan orang lain.
  4. Empati, untuk menjadi ahli pada bidang tertentu dibutuhkan empati supaya bisa memahami apa yang dibutuhkan orang lain dan lingkungan.

.

Cara Mendukung Pendidikan Anak dari Rumah

Setelah menegtahui karakteristik generasi Alpha serta tantangannya, sebagai orangtua kita harus bisa mendukung Pendidikan dari rumah, seperti:

  1. Mengenali cara belajar yang disukai anak.
  2. Mulai dari yang ia sukai.
  3. Memberikan contoh langsung.
  4. Sesuaikan dengan usia dna kemampuan anak.
  5. Banyak melibatkan sensori.
  6. Menyediakan tugas yang menantang.

Sebagai orangtua kita bisa menyerap pola pengasuhan AUTHORITATIVE PARENTING, dimana orangtua bisa berperan sebagai leader, sahabat dan peran lainnya sehingga anak generasi Alpha merasa dihargai keberadaannya.

.

Nutrisi yang Dibutuhkan Generasi Alpha

Berikutnya, untuk mendukung proses pembelajaran anak, orangtua harus memastikan anak terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Seperti yang dr. Atilla Dewanti Sp. A(K) jelaskan, peran gizi sangatlah penting untuk mendukung kemampuan belajar progresif anak generasi Alha terutama pada usia balita.

Pada usia 3 bulan, bayi berada pada puncak perkembangan indera penglihatan. Lalu saat bayi berusia 8 bulan, bayi berada pada puncak perkembangan kemampuan berbicara. Dan, pada usia 2 tahun, mereka akan mengalami puncak perkembangan fungsi kognitif.

Saat anak belajar, apa sih yang terjadi didalam otaknya? Menarik banget, ternyata sebelum belajar luas sirkuit otak anak terbatas, sementara setelah belajar, luas sirkuit otak semakin banyak. Sehingga untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak perlu nutrisi untuk membentuk dan mematangkan sel-sel otak dan nurtura untuk membentuk dan memperkaya jaringan koneksi antar sel. Beberapa nutrisi penting yang baik diberikan pada masa tumbuh kembang anak yaitu:

  1. Asam linoleat dan Asam linolenat : komponen penting untuk fungsi sinaps
  2. Kolin dan DHA : untuk pembentukan mielin
  3. Kalsium : Produksi neuro transmitter
  4. Vitamin D : Perkembangan hipokampus (memori dan proses belajar)

.

S-26 Procal Gold Dukung Kecerdasan generasi Alpha

Wyeth Indonesia melalui S-26 Procal Gold menyadari bahwa anak indonesia memiliki potensi yang hebat. Salah satu komitmen mereka dalam mensupport anak-anak indonesia yaitu dengan selalu menghadirkan produk dengan kualitas terbaik yg didasarkan pada ilmu pengetahuan. Kali ini, S-26 Procal Gold hadir dengan inovasibaru yakni Multiexcel Alpha Lipids System yang mendukung tumbuh kembang anak.

Ibu Syara Latifatun Anisa, Brand Manager GUM Gold menyampaikan, S-26 Procal Gold siap mendukung generasi Alpha dengan kandungan nutrisi yang lengkap seperti asam linoleat dan asam linolenat, serat pangan, protein, kalsium dan vitamin A&D. Bahkan, kemasannya juga dibuat sesuai keinginan para Mam nih, yaitu terdapat katup top hat yang menjaga produk tetap higienis.

.

Kesimpulan

Memiliki anak generasi Alpha memang memiliki tantangan tersendiri. Sebagai orangtua Milenial sebaiknya memang kita memberikan contoh bukan sekedar nasehat. Berikan reward jika anak berprestasi, tapi gak harus selalu dalam bentuk uang atau benda, Mam bisa memberkan reward dalam bentuk lain seperti liburan bersama. Meski saya dan Nafeesa sama-sama dekat dengan teknologi namun memang sebaiknya tetap mengutamakan pengalaman sensori saat masih bayi dan balita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *