Lifestyle

Mengenal Sejarah, Menghargai Proses Sepanjang Hidup

Bercerita atau mendongeng adalah cara ternyaman yang saya lakukan untuk mengantarkan si kecil tidur. Sambil menepuk-nepuk punggungnya, saya pun mulai bercerita dibawah redupnya cahaya lampu malam. Hal ini pula yang orang tua saya lakukan saat saya kecil dulu. Bedanya, bukan berasal dari buku-buku cerita tapi berdasarkan pengalaman hidup mereka.

Kebiasaan ini lah yang kemudian membuat saya tertarik dengan sejarah. Namun, sayangnya pelajaran sejarah baru saya temui saat duduk di bangku kelas 5 SD bahkan sulit sekali menemukan buku atau bahan bacaan lain untuk menjawab rasa penasaran saya dengan sejarah. Saat itu saya bersekolah di daerah yang akses internet dan buku masih sulit didapatkan.

Terus terang, untuk anak SD kelas 5 cerita sejarah yang ditulis di buku paket sekolah itu sangat kompleks, sulit dipahami karena penjelasannya hanya sekilas dan tidak berurutan. Apalagi jika bicara soal sejarah kerajaan. Kepala saya pusing dibuatnya. Saya lebih suka mendengarkan wayang golek di radio bersama nenek sepuh saya. Ceritanya sama tentang sejarah kerajaan di Indonesia namun lebih mudah dicerna oleh otak anak usia 9 tahun.

Beruntung, anak-anak jaman sekarang bisa mendapatkan informasi tentang sejarah dengan sangat mudah. Banyak sekali bahan bacaan yang mendukung dan sarat informasi sejarah Indonesia, bisa juga melalui tayangan di Youtube hingga berkunjung ke museum sejarah langsung. Rasanya pasti akan berbeda dengan cara belajar konvensional jaman dulu.

.

Kenapa Kita Harus Mencintai Sejarah?

Sebagian orang akan kabur saat ditanya tentang sejarah. Alasannya mungkin sama seperti saya, karena cara penyampaiannya yang membuat saya jenuh. Padahal ketika kita mengetahui sejarah, kita bisa berkaca dan berpijak bahkan bisa menerawang menembus waktu, baik ke masa lalu maupun masa depan. Itulah yang disampaikan oleh Kang Asep Kambali, sejarawan Indonesia, aktivis pelestarian sejarah dan budaya serta pendiri Komunitas Historia Indonesia.

Dalam sesi IG Live yang dilakukan oleh Teh Ani Berta, Founder Komunitas ISB bersama Kang Asep juga menyebutkan, sejarah melibatkan tiga dimensi waktu yaitu masa lalu, kini dan masa yang akan datang. Bagaimana mungkin ada masa kini jika tidak ada masa lalu yang telah dilalui. Dan tidak mungkin ada masa depan jika tidak ada masa kini yang dijalani. Oleh sebab itu, ukirlah hari ini dengan baik agar masa depan kita juga baik, itu lah sejarah yang baik.

 Jika dikaitkan dengan sejarah suatu daerah bahkan negara , dengan mengetahui sejarahnya ternyata bisa menumbuhkan rasa kecintaan, selaras dengan tumbuhnya rasa peduli, simpati dan ingin memelihara. Contoh, untuk perantau yang ada di Jakarta atau penduduk Jakarta asli yang lahir setelah Jakarta “mewah”. Mereka tidak tau bagaimana Jakarta dibangun dari nol hingga seperti sekarang ini. Jika mereka tau, tidak mungkin mereka datang membuat keributan, mengotori lingkungan bahkan merusak. Itulah kenapa semua orang harus tau sejarah!

 Begitu pula sejarah dalam keluarga, anak dan orang tua . Saya sering menangis ketika menemukan anak remaja tawuran, bolos sekolah, pacaran di tempat terbuka dan masih berseragam apalagi hingga terlibat kriminal. Anak perlu dikenalkan pada sejarah orang tua, bagaimana mereka dibesarkan dan diperjuangkan dengan penuh kerja keras siang dan malam. Harusnya anak-anak itu tau bagaimana mengukir sejarah dan berterima kasih.

Paling tidak mereka bisa berpikir, jika orang tuanya harus bekerja siang malam dengan upah tak seberapa. Mereka punya keinginan untuk mengubah sejarah hidupnya, bisa hidup lebih nyaman, bukan melanjutkan jejak orangtuanya. Minimal, taraf hidup dan kesejahteraan keluarga ikut berubah jadi lebih baik.

 Begitu juga dalam rumah tangga.  Terkadang saya merasa overwhelming dengan tugas seorang isteri sekaligus ibu. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan setiap harinya, sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Saya sering merasa kesal kepada suami atau bahkan pada keadaan. Namun, ketika saya mengingat perjuangan yang kami tempuh hingga sampai pada hari ini, saya menjadi lebih menghargai proses dan menerima tanggung jawab ini dengan penuh kerelaan. Sambil terus berjuang melakukan yang terbaik, tanpa pernah putus doa penuh pengharapan selalu dibukakan pintu keberkahan.

Jadi betul sekali apa yang disampaikan Kang Asep, sejarah ditulis oleh mereka yang menang dan masa depan diciptakan oleh mereka yang berjuang. Terapkan ini pada kehidupan kita sendiri. Apa yang ingin kita dapatkan di masa yang akan datang? Kesuksesan, keberkahan kesehatan dan kebahagiaan? Perjuangkan hari ini juga dengan menjalani hidup yang sehat baik mental maupun fisik, belajar dan menebar kebaikan. Sejatinya kebaikan hanya akan kembali kepada pemiliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *