BBC,  parenting

Bagaimana Menurutmu Jika Anak Tidak Diberikan PR?

Pekerjaan rumah atau PR sering kali menjadi hal yang sangat menyebalkan untuk sebagian anak. Karena mereka harus menghabiskan waktu bermain atau beristirahatnya dengan mengerjakan tugas pelajaran. Hal ini juga berlaku untuk saya 15 tahun silam, tepat ketika saya masih menjadi siswi Sekolah Dasar. Saya lebih senang belajar atas dasar keingin-tahuan saya sendiri, saya suka dengan tugas rumah yang berkaitan dengan kreatifitas, dan saya tidak begitu menyukai pekerjaan rumah yang banyak sehingga menghabiskan waktu di rumah.

Bagaimana Menurutmu Jika Anak Tidak Diberikan PR?


Setelah saya menjadi dewasa seperti saat ini, saya berpikir bahwa memberikan pekerjaan rumah terlalu banyak juga tidak bagus untuk anak-anak. Terutama di Indonesia yang memiliki jam sekolah yang lebih panjang dibandingkan Negara lain. Di beberapa daerah di Indonesia, untuk Sekolah Dasar (SD) bisa menghabiskan waktu seharian di sekolah atau paling tidak sekitar 5-6 jam setiap hari, 6 hari dalam seminggu. Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), rata-rata menghabiskan waktu 6-8 jam setiap hari. Dan untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) lebih dari itu, diluar jam ekstra kulikuler. Sudah seharian di sekolah, di rumah pun masih harus bergelut dengan PR yang terlalu banyak, sementara anak tidak hanya harus belajar tapi dia juga harus mengembangkan hobi dan bakatnya yang lain. Selain itu, anak-anak juga harus diberikan waktu bermain atau melakukan  hal yang dia sukai agar tumbuh menjadi anak periang dan aktif.

Pekerjaan rumah atau tugas sekolah boleh diberikan kepada siswa asal dengan porsi wajar, sekedar untuk berlatih dan mengingat materi yang sudah diberikan di sekolah. Dikutip dari Boldsky.com, PR yang berlebihan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan keluarga, diantaranya bertambahnya berat badan anak karena terlalu lama duduk mengerjakan PR sehingga anak kurang bergerak dan PR berlebihan juga dapat meningkatkan tingkat stress atau kejenuhan pada anak dan orang tua karena beberapa orang tua turut membantu anak-anaknya ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah, tidak sedikit dari orang tua yang kerepotan saat anaknya mendapatkan PR terlalu banyak.

PR masih memiliki sisi positif bagi pendidikan anak di sekolah namun tetap harus diberikan dengan porsi yang sesuai. Dan pemberian PR ini juga harus menjadi penilaian oleh pengajar, jangan sampai kerja keras anak-anak untuk mengerjakan PR ini berlalu begitu saja karena gurunya lupa untuk membahas atau mengoreksi. Tentu saja ini dapat menurunkan minat anak untuk mengerjakan PR dengan sungguh-sungguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Website ini dilindungi Hak Cipta!!!