parenting

3 karakter Orang Tua Pencetak Anak Pesimis, Apakah Kita Termasuk Didalamnya ???

Saat anak beranjak remaja, mereka akan mengalami fase pergantian baik itu secara fisik maupun psikologis. Anak-anak yang tumbuh dengan sehat dan ceria dalam keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi remaja yang lebih optimis dan penuh semangat. Sebaliknya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang kurang sehat serta keluarga yang tidak harmonis cenderung menjadi remaja yang mudah mengeluh dan pesimis.
anak pesimis, orangtua pemarah, orangtua pesimis, orangtua perfectionist


Pernahkah Anda merasa kepala Anda penuh dengan ribuan kalimat cemoohan untuk diri Anda sendiri? Terkadang pikiran menerawang sesuka hati, menembus dinding masa lalu dan mengingatkan kita akan kegagalan dan kekecewaan yang pernah kita alami. Kemudian Anda merasa menjadi orang yang paling bersalah atas apa yang terjadi dalam hidup Anda atau merasa malu dengan sebuah pencapaian yang tidak sesuai dengan harapan. Mungkin perasaan ini juga yang akan muncul dalam benak anak-anak kita.

“Mengapa tidak berusaha lebih keras?”
“Mengapa Saya tidak bisa berhasil seperti orang lain?”

Pola asuh dan cara mendidik orang tua yang diterapkan di rumah akan membentuk cara berpikir anak. Karakter pesimis akan membuat anak menjadi orang yang takut akan masa depan yang belum terjadi bahkan si pesimistis cenderung dijauhi teman-temannya karena sikapnya yang tertutup dan sulit mencoba hal baru. Berikut ini adalah karakter orang tua yang memicu anak-anak tumbuh menjadi seorang yang pesimis:

1.  Si Perfectionist
Orang tua dengan karakter perfectionist memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap semua hal yang ia miliki termasuk apa yang anak-anaknya kerjakan. Karakter orangctua seperti ini akan membuat anak-anaknya under pressure. Mereka dipaksa tumbuh hanya untuk memenuhi ambisinya, meraih prestasi dengan nilai tertinggi, selalu menanamkan menjadi juara pada setiap kompetisi, memilihkan cita-cita mereka menjadi apa saat dewasa nanti dan lainnya. Sementara, setiap anak terlahir dengan perbedaan dan keunikannya sendiri. Ketika mereka mengalami kegagalan seperti prestasinya menurun di kelas misalnya, ia akan mengalami stress dan menyalahkan dirinya sendiri. Jika dibiarkan, sikap menyalahkan diri sendiri tersebut akan membentuk karakter pesimis pada anak.

2.  Si Pemarah
Jika kesalahn kecil di rumah akan menjadi pertengkaran, berbicara dengan nada tinggi dianggap biasa, serta sikap saling menyalahkan adalah solusi dari setiap masalah dan marah adalah makanan sehari-hari di rumah, maka tidak dapat dipungkiri kebiasaan keluarga seperti ini akan melekat pada diri anak-anak Anda. ketika anak membuat sedikit keributan atau membuat rumah sedikit berantakan kemudian Anda menyalahkan dan langsung memarahinya, dampaknya anak akan merasa takut, minder dan pesimis untuk melakukan hal-hal baru di kemudian hari. Fatalnya, anak-anak justru mengadopsi karakter orangtuanya saat ia dewasa nanti.
3.  Si Pesimis
Tidak sedikit orangtua yang memiliki karakter pesimis yang ia tularkan pada anak-anaknya. Seperti, ketika anaknya ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama, orang tua yang baik akan memberikan supportuntuk anaknya, sebaliknya orang tua yang pesimis akan menjatuhkan harapan dan merobohklan cita-cita anaknya karena ketakutannya akan masa depan yang belum terjadi. Mental pejuang seorang anak akan hilang ketika dididik oleh orang tua yang pesimis. Semua pendapat dan idenya justru dipatahkan oleh orang terdekat, orang terpenting dan orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

“Tidak akan sampai kesuksesan seorang anak sebelum sampai pada Tuhan doa dari orang tuanya.”

No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *