health,  parenting,  self improvement

Hindari Depresi Pasca Melahirkan


Saya pernah membayangkan bagaimana repotnya menjadi ibu rumah tangga. Dan ternyata jauh lebih repot dari yang saya bayangkan sebelumnya. Menjadi ibu bukanlah hal yang mudah, dimana kita menjadi aktor utama di rumah. Menjadi center of view, memperhatikan apa yang suami dan anak butuhkan, semua perhatian kita habis untuk memikirkan mereka setiap hari. Mulai dari mereka bangun, sampai tidur kembali. Apalagi untuk Anda yang juga bekerja, tentu saja hal tersebut sangat melelahkan.

Saya yakin semua ibu melakukannya dengan hati ikhlas dan sadar bahwa itu kewajibannya tapi bukan berarti suami menganggap hal tersebut lumrah dan memang biasa dilakukan seorang isteri. Isteri bukanlah orang satu-satunya yang dipilih suami untuk dinikahi kemudian dibebankan tugas mengurus suami, anak dan seisi rumah sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. Isteri adalah partner untuk suami, begitu pun suami adalah partner bagi isterinya. Partner berbagi cerita, berbagi rasa hingga berbagi beban pekerjaan. Apalagi jika ia sudah menjadi seorang ibu, maka tugasnya akan semakin berat dalam mengurus rumah tangga. Diperlukan hati yang damai serta komunikasi yang baik untuk membangun keutuhan rumah tangga bersama anggota keluarga baru yaitu si buah hati yang baru saja hadir ditengah-tengah kita.


depresi setelah melahirkan, kondisi psikologis ibu melahirkan, solusi mengatasi baby blues syndrome, baby blues syndrome, penyebab baby blues syndrome, ciri baby blues syndrome, penanganan baby blues syndrome

Wanita yang baru saja hamil kemudian melahirkan, tentu saja kondisi kesehatan dan psikologisnya belum pulih. Hormone didalam tubuhnya pun belum stabil sehingga mempengaruhi kondisi hati dan pikirannya. Paginya mungkin ia terlihat ceria namun kemudian ia tiba-tiba terlihat murung atau bahkan emosional. Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka setelah melahirkan baik itu normal maupun Caesar, namun panggilan jiwa seorang ibunya terpanggil ketika melihat si kecil merengek haus ingin menyusu sehingga ia harus mengenyampingkan rasa sakitnya. Resiko kurang tidur pun akan dialami hampir oleh semua ibu yang baru melahirkan karena ia akan sering terjaga di malam hari untuk menyusui anaknya. Termasuk hal-hal lain yang menyita waktu istirahatnya.

Kesibukan seorang ibu memikirkan anak dan suami bahkan membuatnya lupa untuk memikirkan dirinya sendiri. Disinilah peran suami dibutuhkan. Pekerjaan rumah yang menyita tenaga dan waktu terus-menerus dapat menyebabkan stress dan perasaan tertekan yang memicu amarah seorang ibu. Jika perasaan tertekan dibiarkan dalam jangka waktu lama dapat memicu seorang ibu melampiaskan emosinya kepada suami bahkan kepada anaknya. Mood seorang ibu akan sangat mempengaruhi pada pola didik si kecil, tentu sebagai orang tua kita tidak ingin bukan anak kita meniru kemarahan orang tuanya? Sebelum hal tersebut terjadi lakukan beberapa hal berikut ini:


1. Mintalah bantuan

Jika Anda seorang ibu yang tinggal dengan orang tua atau saudara yang lain, mintalah bantuan dari mereka untuk menggantikan tugas Anda, seperti menggendong si kecil atau membereskan pekerjaan rumah yang lain. Namun jika Anda seorang ibu mandiri yang hanya tinggal dengan anak dan suami, Anda bisa meminta bantuan suami untuk berbagi peran dalam rumah tangga. Memasak atau mencuci bukanlah pekerjaan mutlak seorang perempuan, tidak ada salahnya menggantikan beberapa pekerjaan isteri untuk meringankan bebannya di rumah.
Sebagai catatan, ketahuilah mood satu sama lain. Jika suami menolak untuk membantu karena alasan pekerjaan di kantor, janganlah memaksa karena akan memicu keributan. Namun jika suami selalu menolak jika dimintai bantuan, berilah ia penjelasan bahwa pekerjaan rumah juga sama beratnya.


2. Pilihlah sesuatu yang Anda sukai

Anda bisa melakukan kegiatan untuk membuat Anda merasa bahagia, seperti misalnya melanjutkan hobi Anda, membuat kue, berkebun atau melakukan olah raga ringan, pergi ke salon untuk pijat atau perawatan juga dapat dipilih agar Anda semakin merasa percaya diri dan tampil lebih segar di depan suami. Tentu saja kegiatan tersebut bermanfaat untuk Anda dan suami bukan?


3. Maksmimalkan waktu “Me Time” Anda

Sebagai seorang ibu, baik itu ibu rumah tangga maupun ibu yang bekerja, Anda sangat membutuhkan waktu senggang untuk diri Anda sendiri. Dilansir dari British Study yang menemukan bahwa rata-rata seorang ibu menghabiskan waktu selama 17 menit untuk “Me Time” nya. Me time memang  bisa dihabiskan dengan banyak kegiatan yang membuat Anda tenang, nyaman, santai dan relaks. Namun menghabiskan me timedengan berselancar di social media bukanlah pilihan yang baik. Hasil penelitian yang di lakukan oleh The American Psychological Association pada tahun 2013 menerangkan bahwa seseorang yang sering mengakses Facebook akan mudah merasa stress dan depresi karena timbulnya perasaan iri dan tidak senang akan kehidupan orang lain.


4. Carilah hal-hal baru yang membuat Anda bersemangat

Menjadi seorang ibu rumah tangga tidak melulu berurusan dengan dapur, kasur dan sumur. Jadilah ibu rumah tangga yang aktif dan produktif. Anda bisa menggunakan smartphone Anda mencari ide-ide unik yang dapat diterapkan di rumah bersama anak dan suami sehingga suasana rumah terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Seperti misalnya, membuat mainan edukasi untuk si kecil dari bahan bekas di rumah, atau membuat kerajinan tangan untuk menghias dinding rumah. Tentu saja kegiatan yang tidak memberatkan tugas Anda dan tidak menyita waktu istirahat Anda. Mendengarkan musik, menonton film atau serial drama favorit Anda atau membeli camilan baru untuk menemani tea time Anda bersama suami bisa menjadi pilihan.

Anda adalah asset untuk masa depan diri Anda, suami dan anak-anak Anda, jadi cintai dan kembangkan apa yang Anda miliki. Berbahagilah sekarang, besok dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Website ini dilindungi Hak Cipta!!!