the ocean cleanup, river cleanup system, cengkareng drain
event,  health,  Lifestyle

Selesaikan Polusi Plastik dari Laut, Danone-AQUA Gunakan The Interceptor 001 Buatan The Ocean Cleanup

Polusi plastik memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan disuarakan. Tapi juga dilakukan dengan nyata. Sedih ngga sih, saat mengetahui bahwa kita, masyarakat Indonesia menjadi masyarakat penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Masyarakat Indonesia ya, saya, pemerintah, pihak swasta dan semua lapisan masyarakat mulai dari kalangan atas, menengah dan bawah, kita semua penyumbang sampah plastik.

Konsumen & Produsen Harus Menekan Penggunaan Plastik

Jaman sekarang, penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari memang sulit dihindari. Mulai dari makanan, personal care, makeup hingga mainan anak-anak dibungkus dengan plastik. Menggantinya dengan kertas atau daun juga tidak menjadi solusi. Sebab tetap akan terjadi eksploitasi pohon yang berdampak negative untuk lingkungan.

Sehingga yang harus diganti bukan objeknya tapi perilaku dan kebiasaan kita sebagai masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Beberapa kalangan sudah membiasakan diri membawa botol minum dan tempat makan, tidak menggunakan sedotan plastik, membawa totebag untuk wadah belanjaan dan masih banyak lagi. Kamu gimana? Perubahan apa yang sudah dilakukan untuk mengurangi sampah plastik

Selain masyarakat, para produsen juga harus dituntut untuk berperan serta. Mereka juga harus ikut bertanggung jawab dong. Tak hanya meningkatkan kualitas produk saja tapi juga meningkatkan kelestarian lingkungan. Mereka harus melahirkan sebuah inovasi dimana produknya tetap akan berkualitas tanpa harus mengandalkan plastik. Percuma dong, saat masyarakat sebagai konsumen sudah diet plastik tapi produsen terus memproduksi barang yang menggunakan kantong plastik berlebihan. Bagian dalamnya dibungkus plastik, box nya terbuat dari plastik, lalu diwrap lagi menggunakan plastik dan dibawa pulang dengan kantong plastik.

polusi plastik, polusi sungai, polusi laut

Fakta Polusi Plastik di Indonesia

Sampah plastik tak hanya menggunung di daratan. Dengan mudahnya sampah plastik bisa ditemukan di aliran sungai hingga laut Indonesia. Kita pasti sering banget mendengar isu tentang penemuan segala macam sampah di laut Indonesia. Mulai dari sampah plastik kemasan makanan hingga limbah rumah tangga seperti kasur, diapers, karpet bahkan jok mobil lho. Bisa dibayangkan ngga sih 5 tahun kedepan mau kaya apa laut kita?

Lalu darimana datangnya sampah yang ada di laut?

Fakta menyebutkan, 80% sampah di laut berasal dari sungai dan 1000 sungai di dunia bertanggung jawab atas 80% polusi sampah plastik di dunia tersebut.

Siapa disini yang masih suka membuang sampah ke sungai? Nah, ya itu penyebabnya. Sedikit sampah untuk satu orang, jika yang melakukannya 10 ribu orang, sampah di sungai ngga sedikit lagi, Buk. Mengendap di sungai lalu menumpuk di laut.

Lebih dari 200.000 ton sampah plastik dari sungai masuk ke laut Indonesia. Lalu saya membayangkan, jika berat badan rata-rata penduduk Indonesia sekitar 60 kg, maka ada 3,3 juta orang yang memenuhi laut.

Sementara kita tau, Indonesia merupakan salah satu pusat ekosistem laut dunia. Semakin banyak sampah di laut maka semakin besar ancaman bagi kelestarian ekosistem didalamnya dan juga berdampak pada penurunan kinerja pariwisata dalam negeri. Hal ini juga disampaikan oleh Bapak Agung Kuswandono (Acting Secretary to the Coordinating Ministry of Maritime Affairs and Investment of the Republic of Indonesia) dalam sambutan pada diskusi panel yang digelar oleh Danone-AQUA.

Melihat fakta tersebut, Pemerintah Indonesia yang dikoordinir oleh Kemenko Kemaritiman menggandeng Pemerintah Kerajaan Belanda, Danone-AQUA serta The Ocean Cleanup (TOC) untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di laut. Rabu lalu (30/10) Danone-AQUA mengumumkan hasil riset yang dilakukan bersama BPPT dan Sustainable Waste Indonesia (SWI) sejak delapan bulan lalu untuk mengetahui karakteristik sampah plastik di aliran sungai Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

the ocean cleanup, river cleanup system, cengkareng drain

.

Mengenal The Ocean Cleanup, NGO Asal Belanda

The Ocean Cleanup merupakan salah satu organisasi non-profit asal Belanda yang didirikan oleh Boyan Slat (25 tahun) pada tahun 2013 saat ia berusia 18 tahun. Sejak awal, TOC memang sudah berkontribusi untuk menuntaskan salah satu masalah sampah plastik di laut.

Targetnya, TOC ingin membersihkan 50% sampah dari wilayah Great Pacific Gargabe Patch (GPGP) yang terbentang diantara Hawaii dan California, Amerika Serikat dalam waktu 5 tahun. Boyan Slat bersama timnya melahirkan system Interceptor 001 yang kini sudah terpasang di Cengkareng Drain.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by AQUA Lestari (@aqualestari) on

The Interceptor 001, Mencegah Polusi Plastik dari Sungai Masuk Lautan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, 80% polusi sampah plastik di laut berasal dari sungai. Sehingga mengangkut sampah plastik di laut saja tidak cukup untuk membersikan laut dari polusi plastik. Perlu adanya tindakan untuk mencegah sampah plastik memasuki lautan.

The Ocean Cleanup meluncurkan passive system yang dinamai Interceptor 001 untuk mencegah plastik memasuki lautan dari sungai yang memiliki sistem yang terukur. Sistem ini juga termasuk ramah lingkungan sebab bekerja menggunakan tenaga alamiah dari gerak air/ombak di laut untuk mengumpulkan dan menangkap sampah plastik yang tersebar di laut. Menariknya, alat ini dapat bekerja selama 3 hari 3 malam sebab menggunakan tenaga surya dan memiliki baterai lithium-ion. Setelah itu akan diisi ulang.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by AQUA Lestari (@aqualestari) on

River Cleanup System (RCS) Mampu Mengangkut Polusi Plastik di Sungai

Pada April 2018 lalu, Kemenko Maritim, Kementrian PUPR, Kementrian LHK, Pemerintah DKI Jakarta, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Danone-AQUA melakukan penadatanganan kerjasama Riset Implementasi River Clean Up. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknologi dan sistem yang dikembangkan oleh The Ocean Cleanup (TOC), dengan 3 tujuan yakni:

  1. Plastic Waste Flow, berfungsi untuk mengukur kuantitas, kualitas dan tipologi sampah plastik di sungai.
  2. Facility Design, berfungsi untuk menentukan fasilias pemilahan seperti apa yang efektif dan efision serta aman selam proses pengambilan sampah plastik dari sungai.
  3. Market Valorization, berfungsi untuk mengetahui teknologi dan industri yang mampu mendaur ulang plastik yang diangkut dari sungai.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by AQUA Lestari (@aqualestari) on

Cara Kerja River Cleanup System

Proyek percontohan Interceptor 001 saat ini sudah terpasang di Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk, Jakarta yang bekerja untuk menangkap limbah plastik yang melewati aliran sungai tersebut. Sampah yang terkumpul akan dibawa ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS).

Disana juga tersedia petugas dari Dinas Lingkungan hidup Jakarta yang bertanggung jawab untuk memantau penerapan Interceptor 001 sekaligus memilah sampah yang terkumpul di TPS Rawasari atau Penjaringan. Hanya sampah residu yang akan dibawa ke TPA Bantar gebang. Kabar gembira, alat ini akan diterapkan di 14 sungai di Jakarta. Termasuk sungai-sungai yang tergolong berpolusi di dunia lho.

Kesimpulan

Saya sebagi bagian dari masyarakat Indonesia mengucapkan terimakasih banyak untuk Danone-AQUA yang senantiasa konsisten dengan program pelestarian lingkungan. Sebagai Perusahaan besar sekaligus produsen Air Minum Dalam Kemasan, Danone-AQUA terus berinovasi untuk diet plastik. Tahun ini Danone-AQUA meluncurkan AMDK kemasan recycle tanpa stker label dan seal. Semua dilakukan untuk menekan penggunaan plastik.

Seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama Danone-AQUA, Corine Tap, komitmen #BijakBerplastik yang dicanangkan Danone-AQUA ditunjukan dengan dukungannya terhadap Interceptor 001 untuk sungai yang ada di Jakarta demi bersihkan laut Indonesia.

corine tap direktur utama danone
Dok. Elly Nurul

Ibu Nani Hendiarti (Asisten Deputi Bidang Pendayaan IPTEK Maritim) dan Ir. Surharti (Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan dan Pemukiman) mengajak masyarakat terutama penduduk Jakarta untuk mengubah perilaku membuang sampah ke sungai mengingat dampaknya yang berkelanjutan bagi kehidupan manusia.

11 Comments

  • RAch Alida

    keren banget inovasi yang dilakukan ya mba. Duh andaikan ini dilaksanakan secara kontinyu dan satu sisi masyarakat makin bijak menggunakan plastik, Indonesia akan bebas dari penggunaan sampah plastik 🙂

  • Hani S.

    Bersyukur Boyan Slat hadir di Indonesia dan dengan Interceptor 001-nya bisa meminimalisir adanya sampah menumpuk di Lautan Indonesia yang sebagian besar berasal dari Sungai. Salut terhadap Danone karena concern membantu menyelesaikan masalah polusi plastik yang ada di Sungai dan Laut Tanah Air, Insya Allah akan bermanfaat jangka panjang ya, Amiiiin.

  • Uniek Kaswarganti

    Ngeri juga ya membaca data statistik tentang banyaknya sampah di sungai dan laut Indonesia. Gimana sih ya perilaku masyarakat kok ya dengan mudahnya membuang semua sampah ke sungai, duh duuuhh… Selain peran aktif berbagai pihak untuk membersihkan sampah ini, kayaknya PR terbesar memang pada perubahan perilaku cinta lingkungan ya. Kalau membuang sampah plastik di tempat yang telah disediakan tentunya tidak akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan.

  • Andiyani Achmad

    climate change ini pertama kali aku tahu di tahun 2009, saat itu aku jadi sekretaris salah satu lawyer di lawfirm area Jakarta Selatan. Dan 10 tahun kemudian pun masih belum tuntas karena belum adanya kesadaran dari manusia dan pelaku bisnis ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *