bullying pada anak dan remaja hingga dewasa
Family,  health,  parenting,  relationship,  self improvement

STOP Bullying, Hati-hati, Kita Bisa Menjadi Korban Sekaligus Pelakunya!

Beberapa hari yang lalu saya membaca thread di Twitter yang sedang trending topic tentang korban bullying yang melakukan bunuh diri.  Tapi bukan itu yang ingin saya bahas, melainkan kenapa sih bullying itu bisa terjadi.

Sebenarnya bullying sudah ada ada sejak zaman dahulu bahkan mungkin sudah terjadi di dari zaman nenek moyang kita hanya namanya saja yang berbeda. Coba deh kalian ingat-ingat masa kecil kalian, Saya yakin banyak diantara kita yang sudah dewasa bahkan sudah menua ternyata pernah menjadi korban bullying, baik itu bullying secara fisik maupun verbal.

Misalnya saat bercanda dengan sesama teman. Menurut saya pribadi, bercanda itu adalah sesuatu yang bisa menghibur kita dan juga orang lain misalnya guyonan yang bikin semua orang tertawa dan merasa dekat dengan teman satu dan lainnya. Tetapi kalau yang disebut “becandaan” itu menyakiti perasaan seseorang, sudah bukan becanda lagi namanya. Sudah masuk dalam kategori bullying.

bullying pada anak dan remaja hingga dewasa

Teman Sekelas, Si Tukang Bully

Saya pernah lho punya teman kampus yang kerjaannya setiap hari ngebully orang. Setiap hari ngomentarin penampilan mahasiswa lain. Bahkan tak jarang, dia membuat lelucon di depan mahasiswa lainnya. Yang menurut saya ngga lucu! Misalnya, ngatain mahasiswa yang badannya besar seperti kasur lah, tembok lah. Atau body shaming, seperti guyonan si pesek, si item, si dekil, si monyong dan masih banyak lagi bahasa uneducated yang sering dia lontarkan. Kalau diingatkan ngomongnya apa? Baperlah, ngga asik lah, gitu aja marah! Padahal, ya memang ngga lucu, ngga sopan dan menyakiti orang lain. Tapi kesannya justru si korban lah yang salah.

.

Fenomena Ibu Sosialita

Bahkan, bullying juga banyak terjadi pada orang dewasa seperti ibu rumah tangga misalnya. Melabeli diri sebagai ibu sosialita yang tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Bergosip, nyinyir, berkoloni, mudah iri, bahagia ketika ada orang lain yang membenci orang yang dirinya benci dan masih banyak lagi yang lainnya.

.

Senikmat itu Ngebully di Social Media

Apalagi sekarang semua orang bisa mengakses sosial media dengan mudah. Gampang banget buat kita berkomentar dipostingan orang lain. Coba deh kamu perhatikan akun selebritis yang sedang terlibat kasus, pasti banyak masyarakat berbondong-bondong untuk berkomentar, lalu mention teman yang lain supaya ikut meramaikan. Apa isi komentarnya? Hujatan!

Di Youtube misalnya. Ada orang baru belajar bikin Vlog, hanya memiliki peralatan seadanya tapi tekadnya kuat, dia mau belajar ngomong depan kamera. Dia buatlah video review makeup misalnya. Setelah bersusah payah take video, makeup, lalu ngedit dan upload di Youtube. Eh, langsung dibully habis-habisan. Coba deh kamu bayangin gimana perasaannya setelah bersusah payah lalu dihina?

Di Instagram dan Twitter, orang membuat fake account hanya untuk menghujat dikolom komentar. Akun siapapun ngga peduli, mau pejabat, media, presiden, seleb, bahkan akun temannya sendiri.

Bullying Sebabkan Seseorang Melakukan Kejahatan

Lalu, ada kasus pencurian yang malingnya dibakar. Masyarakat langsung berkomentar dan menghujat tanpa tau alasan dan kronologinya. Pernah ngga kita berpikir, jangan-jangan mulut kita penyebab orang melakukan kejahatan. Karena kita mudah menghina orang lain membuat seseorang jengah dengan kehidupannya sendiri dan ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik tanpa tau caranya. Apapun dilakukan yang penting bebas dari hinaan, hujatan, cemoohan orang lain. Nekad, dengan melakukan kejahatan, mencuri, merampok, menipu hingga prostitusi.

.

Korban & Pelaku Bullying, Sama-sama Bermasalah

Salah satu penyebab terjadinya Bullying yaitu korban dan pelaku memiliki masalah keluarga. Kurangnya perhatian dan komunikasi dengan orangtua bisa jadi pemicunya. Korban dengan kondisi keluarga kurang baik cenderung mudah merasa depresi, tertekan, minder atau hilang kepercayaan diri sehingga berdampak pada perilakunya di lingkungan sekolah dan pergaulannya. Misalnya, jadi tertutup, senang menyendiri, prestasi menurun hingga perubahan perilaku lainnya yang dianggap lemah oleh orang lain sehingga mudah dijadikan objek bully-an.

Begitu juga pelaku bullying, biasanya memiliki masalah dalam keluarga terutama dengan orangtua-nya. Misalnya orangtua sibuk bekerja, perceraian, berpisah karena meninggal dan faktor lainnya. Dampaknya pelaku bullying merasa keberadaan dirinya tidak dianggap, tidak didengar dan tidak diperhatikan. Sehingga memicu dirinya untuk melampiaskan apa yang dia rasakan kepada orang lain yang dianggap lemah.

.

Bullying Terjadi di Sekolah

Tidak dipungkiri, kebanyakan bullying terjadi di sekolah yang notabene tempat Pendidikan. Tidak sepatutnya terjadi kekerasan disana.

Flashback pengalaman saat saya masih dibangku sekolah. Saya pernah menghadapi satu momen di mana guru saya sedang menceritakan satu tokoh dengan karakter yang kurang bagus misalnya Si Kabayan yang malas sekolah,  tokoh yang jelek,  tokoh yang bau,  tokoh yang dekil dan lainnya. Lalu guru tersebut mengumpamakan si tokoh dengan salah satu murid di kelas. Jelaslah semua anak-anak mentertawakan dan langsung menoleh ke arah siswa tersebut bahkan sampe jadi bahan ejekan berhari-hari.

Apakah hal tersebut cukup mengedukasi? Saya rasa ngga ya. Kalau memang niatnya memotivasi supaya si malas jadi rajin, ya udah cerita aja menggunakan nama samaran. Kita ngga tau loh apakah siswa tersebut siap mentalnya. Kejadian pada teman saya, membuat dia sampai mogok bersekolah.

Ada lagi satu kasus dimana guru saya memarahi siswa yang terlambat. Niatnya untuk memberikan shock therapy supaya tidak ditiru oleh siswa lainnya. Si anak yang terlambat dimarahi didepan siswa lainnya. Kejadian ini akhirnya jadi bahan ejekan bahkan menyebar hingga ke lingkungan tempat tinggalnya. Sekilas nampak efektif supaya si anak tidak mengulangi kesalahan yang sama, namun mata rantainya ternyata berkepanjangan. Baiknya, si anak dipanggil ke ruang guru atau ruang BP. Ditanya baik-baik dan beri tau orangtuanya. Supaya menjadi perhatian bersama.

.

Hingga saat ini, saya pun masih belajar untuk menahan diri tidak reaktif dengan isu yang beredar. Tidak mudah berkomentar, tidak membuat thread yang menggiring opini negative dari masyarakat.

Disini saya ingin sekali mengajak Buibuk semua sebagai orang dewasa, baik itu orang tua, kakak, tante, bibi, nenek ataupun guru, untuk lebih peka terhadap anak-anak kita, adik kita, ponakan, sodara dan murid kita. Bagaimana pun, kita bertanggung jawab menjaga Kesehatan mental anak-anak. Berikan contoh yang baik, perbaiki Bahasa sehari-hari supaya mudah dicontoh oleh mereka.

Untuk para pegiat sosial media, buatlah konten yang baik, bermanfaat, menghibur dan menginspirasi serta mengajak dalam kebaikan bersama. Bukan konten yang menggiring opini negative masyarakat. Status yang menyudutkan seseorang, cerita fiktif yang akhrinya muncul pembully-pembully baru.

korban bully bunuh diri, korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,korban bully bunuh diri,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *