Family,  self improvement

Tantangan Dalam Berpuasa! Mereka Tidak Membatalkan Puasa Tapi Merusak Puasa

Tantangan Dalam Berpuasa- 12 Ramadhan 1439 H. Bulan Ramadhan tahun ini memang terasa sangat berbeda karena masih dalam rangkaian social distancing. Saat ini, Alhamduilah sudah memasuki hari ke 12 Ramadhan 1439 Hijriah dan menikmati banget prosesnya, bisa beribadah di rumah bersama keluarga.

Ramadhan ini menjadi bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Berpuasa artinya kita tidak makan dan tidak minum sejak terbit matahari hingga terbenam. Mudah? Tentu saja tidak, apalagi cengan cuaca yang sangat terik, meskipun berada di rumah tapi bukan berarti tidak ada pekerjaan. Tetap menjalankan pekerjaan rumah maupun berkaitan dengan pekerjaan sebagai seorang blogger.

Pada bulan Ramadhan, kita diajak untuk lebih mendekatkan diri pada kebaikan dalam 3 hal seperti:

  1. Koreksi diri atau introspeksi diri.
  2. Berbagi secara materi dan finansial.
  3. Mendekatkan diri dengan Al Quran baik itu tilawah, tadarus maupun hafalan.

Bicara soal tantangan dalam berpuasa, disebutkan dalam Al Quran Surah Al Imran ayat 142,  Allah akan menguji seberapa pantaskah kita meraih rahmat Allah dan mendapat surga . Kita akan diuji seberapa serius dan sebarapa sabar kah kita dalam menjalani hidup dan tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai agama Islam?

Pada zaman Rasulullah, tantangan atau ujian hadir dalam berbagai tahap. Ada tantangan ringan, lalu naik hingga melukai fisik hingga menggoncang hati bahkan mungkin tiba pada ujian ketika Rasul mengucapkan “kapan pertolongan Mu datang?”

Allah SWT menjawab, yakinlah bahwa pertolongan itu akan datang maka bersabarlah.

Kuncinya ujian datang bukan untuk menyulitkan namun justru akan meningkatkan derajat kita sebagai manusia. Lalu apa saja tantangan saat berpuasa?

 

Puasa yang benar akan menghasilkan perisai bagi kita yang melaksanakannya, perisai ini fungsinya sebagai pelindung dan pengingat. Saat kita hendak melakukan dosa, seperti mengambil hak orang lain, untuk orang yang memiliki perisai biasanya hatinya suka melarang. Namun untuk mendapatkan perisai tersebut tidak lah mudah sebab ada tantanganya yaitu:

  1. Tidak berkata kotor atau jorok.
  2. Tidak bertindak yang tidak pantas.
  3. Hindari perselisihan/provokasi.
  4. Tidak mencela/mencaci/menyebar hoax, buzzer.

Astagfirullah, sesederhana berkata kasar, jorok, kotor ya Buibuk. Kadang suka keceplosan saat bergurau atau bahkan saat marah, sumpah serapah hingga menghardik seseorang. Perilaku ini tidak hanya menaykiti orang yang kita tuju tapi juga mengotori hati kita sendiri.

Jelas ya dari 4 tantangan tersebut tidak banyak menyebutkan tantangan yang sifatnya konsumtif dan biologis seperti makan, minum dan berhubungan badan sebab hal tersebut membatalkan puasa dan sudah dipahami oleh semua orang. Sementara 4 hal tantangan diatas bersifat sebagai PERUSAK PUASA.

Bedanya MEMBATALKAN PUASA, seketika puasanya batal atau gugur dan tidak boleh melanjutkan di hari tersebut. jika disengaja, maka harus berpuasa selama 2 bulan berturut, atau memberi makan kepada fakir miskin selama 60 hari atau membebaskan hamba sahaya. 

Sementara MERUSAK PUAS, artinya puasanya tidak batal, tetap bisa dilanjutkan tapi rusak nilai puasanya. Misal saat berpuasa, kita bergosip lalu berkuranglah 25% nilai ibadah puasa kita. Update status di social media dengan penuh amarah, berkuranglah 25% nilai puasa kita. Sisa berapa? Sisa 50%, lalu kita bertikai, berdebat  hingga menyebarkan hoax, habislah nilai ibadah puasa kita. Yang sedih lagi, sudah nilai ibadah kita berkurang, ditambah lagi melakukan keburukan, malah bertambah dosa kita. Ya Allah, betapa kita sering khilaf ya.

Sehingga Rasul mengingatkan, katakanlah “Saya sedang berpuasa” dengan penuh kesungguhan dan sesering mungkin untuk menguatkan dan mengingatkan diri sedang berpuasa untuk menangkal perbuatan yang bisa merusak puasa.

Ada lagi perilaku yang dilakukan tidak salah namun berdosa dikemudian hari. Dan mungkin banyak dari kita yang tidak menyadari, termasuk saya yaitu berperilaku yang mengundang orang berbuat dosa.

Misal, saya sebagai orangtua, harusnya bisa bersikap dewasa baik dalam berucap, berpikir, berperilaku bahkan berpakaian. Lalu dengan santainya, saya belanja sayur menggunakan sepeda mini anak saya lengkap dengan perlengkapan anak. Ngga salah kan? Tapi mengundang orang berkata buruk, mencela, bergunjing bahkan mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Apakah yang berdosa hanya mereka yang mencela, tentu tidak, kita pun ikut mendapatkan dosa karena kita penyebabnya. Melakukan hal yang mengundang orang berbuat dosa. Astaghfirullah.

Contoh lagi, banyak banget dari kita yang sering update status di social media tentang keburukan orang lain (menyindir) dan ternyata mengundang orang untuk berkomentar dan menambahkan kata-kata tidak baik, menyulut amarah dan menggiring opini orang yang ikut membacanya.

Termasuk saya, saya sering merasa kesal saat membaca komentar netizen yang entah orangnya ada apa ngga, pada konten baik yang diunggah seseorang. Misal, dakwah ustadz, informasi Kesehatan atau ilmu lainnya, tiba-tiba ada yang komentar ngga penting gini “kenapa ya info bagus gini masih ada yang dislike?” sehingga mengundang orang untuk berkomentar “mungkin hatinya keras, mungkin orangnya kesinggung banyak dosa…” dan lainnya, menimbulkan prasangka, dosa?

Coba deh, penting ngga sih komentar seperti itu? Ngga ada manfaatnya kan? Jadi, kalau saya pribadi, terus terang jika ada orang yang mengundang keributan pada suatu forum, saya pasti report komentar atau bahkan akun tersebut.

Buibuk, mari kita sama-sama menahan diri. Jangan mudah tersulut dengan hal-hal yang merusak puasa kita. Tidak menyebar kebencian dan tidak reaktif pada sebuah isu yang belum diketahui kebenarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *